Rabu, 3 Juni 2026

Video

VIDEO MUTIARA RAMADHAN - Nada Irama Ramadhan

Tangisan syukur karena bisa beriktikaf, berzikir, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan melaksanakan Qiyamul Lail.

Tayang:

Di penghujung Ramadhan, irama itu berubah menjadi isak tangis muhasabah, terutama pada malam-malam Lailatul Qadar. Kita berharap dipanjangkan umur hingga sepuluh malam terakhir dan dipertemukan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Seorang mukmin akan meneteskan air mata bahagia karena sampai pada fase ini.

Di awal Ramadhan, Allah turunkan rahmat. Di pertengahan, Allah limpahkan maghfirah. Di akhir, Allah bebaskan dari api neraka.

Tangisan itu adalah tangisan syukur—karena bisa beriktikaf, berzikir, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan melaksanakan Qiyamul Lail.

Puncak dari seluruh irama itu meledak pada 1 Syawal dengan gema takbir:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.”

Takbir itu mengguncang telinga dan meluluhkan hati orang beriman. Ada kerinduan, ada kebahagiaan, ada rasa kemenangan setelah sebulan berjuang.

Semoga kita benar-benar merasakan nada dan irama Ramadhan—didengar oleh telinga, meresap ke hati, mengalir dalam jiwa—hingga kita keluar sebagai pribadi yang kembali suci, minal aidin wal faizin, seperti bayi yang baru lahir.

Barang siapa yang berbahagia menyambut Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya dari api neraka. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Jika dalam penyampaian ini terdapat kekhilafan, kepada Allah saya memohon ampun, Astaghfirullahal ‘azim.
Kepada seluruh pendengar dan pemirsa Tribun, saya memohon maaf lahir dan batin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(Tribunpekanbaru.com)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved