Selasa, 2 Juni 2026

Video

VIDEO - Masjid Tuha Indrapuri, Jejak Peradaban Islam di Aceh

suasana terasa teduh dan hening, Didominasi material kayu, minimnya dinding permanen, serta atap yang menjuntai

Tayang:
Penulis: Hendri Abik | Editor: Teuku Raja Maulana

SERAMBINEWS.COM - Menyusuri jejak Islam di Tanah Rencong terasa belum lengkap tanpa singgah ke Masjid Tuha Indrapuri. Berdiri tenang di Desa Pasar, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 24 kilometer dari Banda Aceh. Masjid tua ini menyimpan lapisan sejarah yang tak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang perjumpaan budaya dan peradaban.

Kompleks seluas kurang lebih 33.875 meter persegi itu diyakini telah berdiri sejak masa kejayaan Sultan Iskandar Muda pada awal abad ke-17 Masehi. Namun jejak sejarahnya bahkan lebih tua dari itu. Konon, masjid ini dibangun di atas bekas bangunan candi Hindu-Buddha peninggalan Kerajaan Lamuri yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-12.

Jejak masa lampau itu masih terasa pada struktur bangunannya. Fondasi masjid tersusun bertingkat lima, menyerupai teras berundak khas arsitektur Hindu. Puncak bangunan berada di tingkat kelima, tempat ruang utama masjid berdiri kokoh. 

Baca juga: VIDEO Kodam IM Karya Bakti di Masjid Tuha Indrapuri

Transformasi dari candi menjadi masjid diyakini sebagai simbol masuknya Islam secara damai di Aceh, dikenal dalam tradisi setempat sebagai “Peureumeun”, yakni pemindahan fungsi tempat ibadah tanpa konflik.

Memasuki area masjid, pengunjung harus melewati pagar utama dan menaiki dua belas anak tangga menuju halaman. Perjalanan kecil itu seakan menjadi pengantar untuk menapaki lorong waktu. Dari halaman, tiga anak tangga berikutnya mengantar jemaah ke bangunan utama, dengan kolam kecil di sisi tangga sebagai tempat berwudu.

Dahulu, atap masjid terbuat dari daun rumbia. Seiring waktu, masyarakat menggantinya dengan seng demi ketahanan, namun tetap mempertahankan bentuk aslinya. Atapnya bertingkat tiga, ditopang 36 tiang kayu. Empat di antaranya menjadi soko guru (penyangga utama bangunan) dengan diameter sekitar 28 sentimeter.

Keunikan lainnya, bangunan berusia ratusan tahun ini didirikan tanpa paku. Seluruh tiang disambungkan menggunakan teknik pasak kayu, metode konstruksi tradisional yang menunjukkan kecanggihan teknologi bangunan masa lampau.

Di dalamnya, suasana terasa teduh dan hening. Dominasi material kayu, minimnya dinding permanen, serta atap yang menjuntai panjang menciptakan kesan terbuka dan lapang. Aliran sungai di belakang masjid turut menghadirkan kesejukan alami yang menenangkan hati.

Namun, Masjid Tuha Indrapuri bukan sekadar ruang ibadah. Ia juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Aceh. Pada 1878 Masehi, masjid ini menjadi tempat penobatan Sultan Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Aceh sebelum kekuasaan kolonial Belanda menguat.

Kini, di tengah perubahan zaman, masjid ini tetap hidup. Setiap hari, azan berkumandang dari bangunan kayu berusia ratusan tahun itu. Warga sekitar datang untuk salat berjemaah, menghadiri pengajian, atau sekadar merasakan ketenangan yang tak lekang oleh waktu.

Di atas bekas teras candi yang bertransformasi menjadi tempat sujud, Masjid Tuha Indrapuri berdiri sebagai simbol harmoni, tentang bagaimana agama dan budaya dapat bertemu, berdampingan, dan melahirkan warisan sejarah yang tetap terjaga hingga hari ini.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved