Sabtu, 11 April 2026

Video

VIDEO - Kisah Ramadhan di Paris, Keteguhan Iman di Tengah Kota Mode Dunia

Di sebuah masjid kecil di pusat Paris, tepat di antara pemukiman imigran dan pasar tradisional, jamaah berdatangan jauh sebelum waktu shalat.

Penulis: m anshar | Editor: m anshar

Laporan Asnawi Ali | Diaspora Aceh di Paris

SERAMBINEWS.COM, PARIS – Di tengah gemerlap kota yang dikenal sebagai pusat mode dan peradaban dunia, Ramadhan di Paris menghadirkan wajah spiritual yang berbeda. Bagi komunitas Muslim yang menjadi minoritas di negeri sekuler ini, bulan suci Ramadhan menjadi momentum kebersamaan yang memperkuat solidaritas.

Memasuki penghujung Februari, dingin musim salju mulai berganti dengan hangatnya cahaya matahari awal musim semi. Taman-taman kota kembali ramai, kafe-kafe dipenuhi pengunjung, namun di balik hiruk-pikuk metropolitan, denyut kehidupan Ramadhan tetap terasa.

Setiap hari, restoran halal, pusat komunitas, dan rumah-rumah keluarga muslim dipadati warga yang berbuka puasa. Aroma hidangan Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia Selatan berpadu dengan udara musim semi yang segar.

Puncak dinamika Ramadan terlihat setiap Jumat. Di sebuah masjid kecil di pusat Paris, tepat di antara pemukiman imigran dan pasar tradisional, jamaah berdatangan jauh sebelum waktu shalat. Kapasitas masjid yang terbatas membuat jamaah meluber hingga halaman dan trotoar.

Seorang diaspora Aceh di Swedia, Asnawi Ali, yang sedang berkunjung ke Paris pada Jumat (20/2/2026) lalu, menyaksikan langsung antrean panjang jamaah yang ingin melaksanakan shalat Jumat. Pelaksanaan shalat dilakukan bergantian agar seluruh jamaah dapat tertampung. Karena tidak kebagian tempat, ia hanya bisa merekam suasana dari luar masjid mini di sekitar pasar Paris.

Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa meski minoritas, umat muslim di Paris tetap menjalankan ibadah dengan tertib dan penuh semangat. Berbagai latar belakang etnis berdiri sejajar dalam satu barisan, tanpa sekat status sosial maupun kebangsaan.

Dari pusat mode dunia, Ramadhan terus berlangsung dalam harmoni. Sebuah pengingat bahwa di tengah perbedaan budaya dan keyakinan, nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas tetap menemukan tempatnya. (*)


Narator: Syita

Video Editor: Muhammad Anshar

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved