Senin, 8 Juni 2026

Video

VIDEO - Jejak Pengabdian KH Mursyidin Ketua MUI Sulawesi Tenggara Dua Periode

elasinya luas, mulai dari politisi, pejabat, hingga pengusaha. Orang-orang terdekatnya menilai ia sebagai figur yang patut diteladani

Tayang:

SERAMBINEWS.COM - Perjalanan hidup Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs KH Mursyidin, M.HI, dipenuhi dedikasi pada pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kiai Mursyidin merupakan putra daerah Watampone, ibu kota Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia lahir pada 31 Desember 1957.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD 8 Watampone hingga 1970. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu agama. Sore hari diisi dengan sekolah Arab, sementara malamnya digunakan untuk mengaji dan menghafal Al-Qur’an.

Baca juga: Safari Ramadhan, Bupati Suhaidi Ajak Warga Putri Betung Bangkit Pascabencana dan Makmurkan Masjid

Tak lama kemudian berdiri Pondok Pesantren Ma’had Hadits Biru Watampone. Di pesantren inilah ia melanjutkan pendidikan dan menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Sekitar empat tahun menimba ilmu, ia berhasil menyandang predikat hafidz pada 1973.

“Jadi kami tidak pernah sekolah formal, empat tahun di pondok pesantren menghafal, lalu ikut ujian persamaan dua kali,” ujarnya kepada TribunnewsSultra.com.

Menempuh Pendidikan Tinggi

Setelah lulus pada 1976, ia melanjutkan studi di IAIN Watampone dan meraih gelar Sarjana Muda. Ia kemudian hijrah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di IAIN Makassar hingga memperoleh gelar Doktorandus (Drs) pada 1984.

“Saya selesai tahun 1984, jadi kita dulu tujuh tahun baru bisa selesai dapat sarjana itu termasuk cepat,” katanya.

Baca juga: Jumat Kedua di Bulan Ramadhan, Ini Daftar Khatib dan Imam Salat Jumat di Aceh Besar 27 Februari 2026

Pada 1985, ia memutuskan pindah ke Kendari untuk mendaftar sebagai pegawai negeri sipil. Keputusan itu diambil di luar rencana, sebab sebelumnya ia tidak berniat menjadi Aparatur Sipil Negara. Saat itu, ia aktif membina para penghafal Al-Qur’an di pondok pesantren.

Namun atas rekomendasi sang mertua, ia berangkat ke Kota Lulo. Dari sinilah perjalanan dakwah dan pengabdiannya di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dimulai.

Pada 1986, ia resmi diangkat sebagai PNS di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia wilayah Sulawesi Tenggara.

“Dulu muncul niatan kurang baik, kalau nanti sudah 100 persen saya mau mutasi ke Bone, tetapi setelah ke masjid-masjid Kendari dan melihat, ternyata masih banyak yang belum bagus bacaannya,” tuturnya.

“Mungkin saya dibutuhkan di sini. Ini tugas kita, kalau tidak disampaikan nanti berdosa. Itu sebabnya saya tidak jadi kembali ke Watampone,” lanjutnya.

Baca juga: Perputaran Uang Ditaksir Capai Rp 2 Miliar di Pekan QRIS Ramadhan Pasar Aceh

Selama 27 tahun mengabdi, ia pernah menjabat Kepala Kantor Kemenag Kota Kendari (1999–2000), Kepala Bidang Haji, Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais), hingga Kepala Bidang Penerangan Kemenag Sultra.

Pada 2013, Gubernur Sultra saat itu, Nur Alam, memintanya bertugas di Pemerintah Provinsi Sultra. Ia kemudian menjabat sebagai Staf Ahli sebanyak tiga kali dan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra).

“Jadi pindah total dari Kementerian Agama ke Pemda, makanya pensiun kami di Pemerintahan Provinsi,” ujarnya.

Memimpin MUI Sultra

Sebelum pensiun, ia aktif di berbagai organisasi keagamaan, termasuk MUI. Saat itu, Ketua MUI Sultra dijabat KH Marwan. Setelah KH Marwan wafat sekitar setahun masa jabatan, dilakukan penggantian antarwaktu melalui musyawarah wilayah luar biasa.

Dalam pemilihan tersebut terdapat tiga calon, termasuk KH Mursyidin. Ia terpilih dengan perolehan suara terbanyak.

Baca juga: Teuku Iqbal Djohan: Peukan Raya Ramadhan Dorong Perputaran Uang dan Kebangkitan UMKM

Tiga tahun kemudian, pada 2015, digelar musyawarah daerah pertama untuk memilih ketua definitif MUI Sultra, dan ia kembali dipercaya memimpin. Pada musyawarah daerah kedua tahun 2021, ia kembali terpilih untuk masa jabatan lima tahun.

“Tahun 2026 ini sudah berakhir, aturan dari MUI maksimal dua periode. Insya Allah kita akan mengadakan musyawarah daerah,” katanya.

Prestasi dan Kiprah di Dunia Tilawah

Sebagai hafidz, ia mencatat sejumlah prestasi di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Ia meraih juara III tahfidz remaja tingkat Sulsel (1979), juara II tahfidz tingkat provinsi (1982), serta juara I tahfidz 30 juz tingkat Sultra (1986).

Pada 1987, 1988, dan 1991, ia dipercaya menjadi pelatih tahfidz untuk Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) dan MTQ tingkat nasional bagi kafilah Sultra. Sejak 1992 hingga 2021, ia kerap ditunjuk sebagai dewan hakim STQ dan MTQ tingkat nasional di berbagai provinsi.

Selain menjabat Ketua MUI Sultra, ia juga menjadi Wakil Ketua I LPTQ Sultra, Ketua Jam’iatul Qurro wal Huffadz (JQH) Sultra, serta Pembina IPQAH/IFQAH Sultra.

Baca juga: Bupati Bireuen Santuni Anak Yatim Dalam Safari Ramadhan di Masjid Abu Hamid Arongan Simpang Mamplam

Teranyar, ia dilantik sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sultra. Ia juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Al Kautsar atau Masjid Agung Kendari.

Tak hanya di masjid tersebut, ia aktif berdakwah di Masjid Al Alam, Masjid Ummushabri, dan Masjid Nurul Huda.

Masa Kecil dan Awal Menghafal

Sejak kecil, Mursyidin tumbuh dalam lingkungan religius. Meski orang tuanya berlatar belakang pengusaha dan bukan penghafal Al-Qur’an, suasana agamis sangat kuat dalam kesehariannya.

Rumahnya yang berada dekat Masjid Raya Watampone menjadi titik awal perkenalannya dengan dunia mengaji. Di masjid itu, anak-anak rutin mengikuti pembinaan dasar dan hafalan Al-Qur’an.

“Tadinya saya ikut belajar mengaji, setelah dilihat guru ternyata saya punya potensi untuk menghafal,” katanya.

Baca juga: VIDEO - Jalan Garuda Diserbu Pemburu Takjil, Surga Ngabuburit Warga Banda Aceh Saat Ramadhan

Awalnya ia tak pernah membayangkan menjadi hafidz. Namun karena tumbuh di lingkungan para penuntut ilmu Al-Qur’an, semangat itu berkembang hingga ia menekuni hafalan secara serius.

Memaknai Hijrah dan Dakwah

Ia memaknai hijrahnya dari Bone ke Kendari sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Baginya, siapa yang berhijrah karena Allah akan mendapat pahala berlipat.

“Ini termasuk kategori jihad. Jihad itu kesungguhan hati karena Allah, bukan diartikan sebagai perang,” ujarnya.

Tahun ini, ia memasuki masa purna tugas setelah dua periode memimpin MUI Sultra. Meski mendapat sejumlah tawaran jabatan, ia memilih menolaknya.

Di usia 68 tahun, ia ingin lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia berharap MUI Sultra ke depan dipimpin oleh sosok penerus terbaik.

Baca juga: Bazar Ramadhan 2026 USK Diserbu Pengunjung, Takjil dan Kuliner Aceh Laris Manis

Sosok dan Prinsip Hidup

KH Mursyidin dikenal sebagai tokoh yang santun, cerdas, dan berwibawa. Relasinya luas, mulai dari politisi, pejabat, hingga pengusaha. Orang-orang terdekatnya menilai ia sebagai figur yang patut diteladani.

Tips Menjaga Kesehatan

Menurut Imam Besar Masjid Al Kautsar Kendari ini, faktor terbesar yang memengaruhi kesehatan adalah pikiran. Tidak mencampuri urusan orang lain, berbaik sangka, serta tidak mudah tersinggung menjadi kunci menjaga kesehatan.

“Ketika berburuk sangka, mencari kekurangan orang lalu membicarakannya, itu sudah gibah dan dosa,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya tidak menyimpan masalah dalam hati, bersabar menghadapi ujian, serta senantiasa bersyukur sebagai jalan menjaga ketenangan batin dan kesehatan diri.(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)

Sumber: Tribun sultra
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved