Video
VIDEO - Tradisi Pembagian Bubur Samin Ramadhan, Jejak Perantau Pedagang Emas
Masjid ini merupakan satu-satunya masjid di Solo yang memiliki kaitan erat dengan sejarah komunitas Banjar
SERAMBINEWS.COM - Kota Solo selama ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa yang paling kuat di Indonesia. Keraton, batik, gamelan, hingga tradisi leluhur seakan menjadi identitas yang melekat erat pada kota ini. Namun, di balik khazanah budaya Jawa yang dominan, Solo juga menyimpan kisah menarik tentang komunitas perantau yang turut memberi warna dalam perjalanan sejarahnya.
Satu di antara jejak itu dapat ditemukan di kawasan Jayengan, Serengan. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota, berdiri sebuah masjid yang bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keberadaan budaya Banjar di Surakarta: Masjid Darussalam Jayengan.
Masjid ini merupakan satu-satunya masjid di Solo yang memiliki kaitan erat dengan sejarah komunitas Banjar yang merantau dari Kalimantan.
Awal Mula Perantau Banjar di Solo
Kisah Masjid Darussalam Jayengan bermula pada akhir abad ke-19, ketika sejumlah pedagang emas dan permata dari Kalimantan mulai berdatangan ke Solo. Mereka menetap, berdagang, lalu membentuk komunitas yang semakin hari kian berkembang.
Seiring bertambahnya jumlah warga Banjar di kawasan Jayengan, kebutuhan akan tempat ibadah pun muncul. Dengan semangat kebersamaan, mereka kemudian membangun sebuah musala sederhana.
Musala itu dikenal dengan nama Langgar Jayengan Darussalam, berdiri sekitar tahun 1910–1911. Dari tempat kecil itulah, aktivitas keagamaan komunitas Banjar di Solo mulai berakar.
Seiring waktu, jumlah jemaah meningkat dan langgar tersebut berkembang menjadi masjid permanen yang berdiri kokoh hingga sekarang.
Tradisi Bubur Samin yang Menghidupkan Ramadhan
Masjid Darussalam Jayengan tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga tradisi khas yang terus hidup hingga kini. Saat bulan Ramadhan tiba, masjid ini selalu dipenuhi jemaah yang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan hangatnya kebersamaan dalam tradisi pembagian Bubur Samin.
Wakil Ketua Yayasan Darussalam, H. Noor Cholish, menceritakan bahwa tradisi ini telah melekat kuat sejak puluhan tahun lalu.
“Tradisi Bubur Samin dimulai sejak tahun 1985,” ungkap Noor pada Kamis (19/2/2026).
Pada awalnya, warga hanya berkumpul di masjid untuk berbuka puasa bersama dengan membawa makanan masing-masing. Namun, kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi kesepakatan untuk memasak satu hidangan khas Banjar: Bubur Samin.
Bubur Samin merupakan bubur tradisional Banjar yang kaya rempah, dimasak dengan campuran sayuran, daging, serta minyak samin yang memberikan aroma khas dan rasa gurih yang kuat.
Lebih dari sekadar makanan, bubur ini menjadi lambang solidaritas, kebersamaan, dan berbagi keberkahan di bulan suci.
50 Kilogram Beras Setiap Hari
Setiap sore selama Ramadhan, dapur masjid menjadi pusat aktivitas yang penuh semangat. Noor menuturkan, pihak masjid memasak hingga 50 kilogram beras setiap hari untuk dibagikan kepada masyarakat.
“Beras tersebut diolah bersama rempah-rempah, sayuran, daging, dan minyak samin hingga menjadi bubur kental yang siap disantap menjelang waktu berbuka,” jelasnya.
| VIDEO - Semarak Idul Fitri 2026 di Masjid Aceh Palembang |
|
|---|
| VIDEO - Cek Poin Mudik di Darul Makmur: Tawarkan Tempat Istirahat Nyaman dan Konsumsi Gratis |
|
|---|
| VIDEO - Malam Lebaran, Dua Unit Rumah di Banda Sakti Lhokseumawe Terbakar |
|
|---|
| VIDEO - Idul Fitri di Tengah Reruntuhan Gaza: Tangis, Doa, dan Harapan Baru Warga |
|
|---|
| VIDEO - Prabowo Shalat Ied di Aceh Tamiang, Pemulihan Pascabanjir Dikebut |
|
|---|