Jumat, 5 Juni 2026

Video

VIDEO - Dari Kiai Kampung ke Rektor UB: Perjalanan Prof KH Mohammad Bisri

Atas permintaan para pengurus, Prof Bisri kembali mengambil peran sebagai pengasuh pesantren

Tayang:

SERAMBINEWS.COM - Perjalanan hidup Prof Dr KH Mohammad Bisri MS dipenuhi berbagai tantangan sekaligus pesan moral tentang pentingnya keseimbangan dalam kehidupan. Lahir di kawasan Mbetek, Kota Malang, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang dikenal religius. Lingkungan tersebut membentuk karakter dirinya yang kuat dalam nilai keagamaan sekaligus aktif dalam kegiatan fisik sejak kecil.

Sejak masa kanak-kanak, kehidupan Prof Bisri terbagi antara sekolah, olahraga, dan mengaji. Pada siang hari ia kerap menghabiskan waktu bermain sepak bola bersama teman-temannya. Sementara pada malam hari, ia belajar ilmu agama langsung dari sang ayah.

Kisah tersebut disampaikan Prof Bisri saat diwawancarai secara eksklusif oleh SURYAMALANG.COM dalam program Cerita Para Kiai yang tayang selama bulan Ramadhan, Sabtu (28/2/2026). Program tersebut bertujuan mengenalkan sosok para kiai yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga: Alumni MSBS Berbagi di Bulan Ramadhan, 40 Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan

Saat ini, Prof Bisri dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh. Ia juga masih aktif sebagai akademisi dan pengajar di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

“Waktu kecil kalau malam pasti mengaji dengan Abah. Pagi sekolah, sore olahraga. Karakter saya terbentuk dari dua hal itu,” ujarnya.

Perjalanan akademik Prof Bisri ternyata berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Ia semula bercita-cita masuk jurusan manajemen ekonomi, namun gagal lolos seleksi perguruan tinggi negeri.

Tidak menyerah, ia kembali mencoba mendaftar dan memilih jurusan yang relatif sepi peminat, yakni Teknik Pengairan di Universitas Brawijaya. Keputusan tersebut justru menjadi awal perjalanan akademiknya hingga berhasil meraih gelar profesor.

Kariernya di dunia pendidikan terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai dekan pada 2013, sebelum akhirnya terpilih sebagai Rektor Universitas Brawijaya periode 2014–2018.

“Saya sebenarnya terpaksa mencalonkan diri sebagai rektor, tapi akhirnya malah terpilih,” katanya sambil tertawa.

Baca juga: BBPOM Periksa 10 Sampel Takjil di Peukan Raya Ramadhan, Hasilnya Cukup Menggembirakan

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Prof Bisri juga terlibat dalam pembangunan pondok pesantren yang berdiri pada 1996 di atas lahan sekitar 500 meter persegi. Pendirian pesantren tersebut berawal dari ajakan seorang temannya, yang kemudian ia jalankan setelah mendapat restu orang tua.

Pesantren yang kini bernama Bahrul Maghfiroh itu terus berkembang hingga memiliki lahan hampir 4 hektare. Namun saat menjabat sebagai rektor, pengelolaan pesantren diserahkan kepada adiknya, Gus Lukman, agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan.

Titik balik terjadi pada 2017 ketika sang adik wafat. Sebulan sebelum meninggal, Gus Lukman sempat mengajak Prof Bisri berkeliling pesantren, sebuah momen yang kemudian ia anggap sebagai pesan terakhir untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Akhirnya, atas permintaan para pengurus, Prof Bisri kembali mengambil peran sebagai pengasuh pesantren.

Saat mulai memimpin, ia melihat perlunya perubahan dalam sistem pendidikan pesantren. Ia menolak anggapan bahwa pesantren merupakan tempat bagi anak-anak bermasalah.

“Pondok itu tempat mencari ilmu agama dan mengamalkannya, bukan tempat anak-anak nakal,” tegasnya.

Baca juga: ISAD Aceh Barat Gelar Safari Ramadhan di Kecamatan Woyla Pada Malam Nuzulul Qur’an

Prof Bisri kemudian menerapkan sistem seleksi santri dan memperbaiki sistem pendidikan agar lebih terstruktur. Salah satu terobosannya adalah menggabungkan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, keberhasilan dunia dan akhirat harus ditempuh melalui penguasaan keduanya secara seimbang.

Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari kewirausahaan santri, pelatihan kerja, hingga pengembangan unit usaha seperti peternakan, budidaya, dan produksi. Pesantren juga dilengkapi dengan laboratorium digital, teknologi Artificial Intelligence (AI), serta studio multimedia untuk mengasah kreativitas santri.

“Kalau hanya ilmu agama, dunia bisa tertinggal. Kalau hanya ilmu dunia, akhirat bisa terlantar. Jadi keduanya harus berjalan beriringan,” jelasnya.

Meski banyak pihak menyebut konsep tersebut sebagai pesantren modern, Prof Bisri menilai Islam pada dasarnya selalu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Ia menegaskan bahwa ajaran Islam harus hadir dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari teknologi hingga bisnis.

“Islam itu bukan soal modern atau tidak. Islam harus mampu menang di setiap zaman,” ujarnya.

Baca juga: 5 Makanan yang Disarankan dr Boyke agar Tetap Bertenaga Saat Puasa Ramadhan

Ke depan, Prof Bisri juga berencana mengembangkan sistem pendidikan pesantren berbasis standar internasional, termasuk penerapan kurikulum Cambridge dan penggunaan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran.

Langkah ini menjadi bagian dari visinya mencetak santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global.

Di akhir wawancara, ia berpesan kepada para santri agar tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dunia.

“Belajarlah keduanya, ilmu agama dan ilmu dunia, agar kita mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Umat Islam harus memimpin peradaban, bukan tertinggal,” pungkasnya.(*)

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved