Kamis, 4 Juni 2026

Video

VIDEO MUTIARA RAMADHAN - Pahala Berlipat Berbagi di Bulan Ramadhan

Para ulama kita menyebutnya imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Energi inilah yang mau kita serap

Tayang:

Oleh Prof Dr H M Syukri Albani Nasution, M.A
Guru Besar Univeritas Islam Negeri (UIN) Sumut

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hamdan wa syukran lillah, shalatan wa salaman ala rasulillah la nabiya ba'dah.
Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli ala Muhammad.


Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, hajat kita yang paling besar selama menjalani hidup ini adalah menjadi orang yang mengerjakan semua perintah Allah dan berupaya dengan sekuatnya meninggalkan larangan-larangan Allah.

Para ulama kita menyebutnya imtitsalul awamir wajtinabun nawahi.

Energi inilah yang mau kita serap untuk menerjemahkan atau mengakselerasi dalam perjalanan hidup kita yang memang sudah Allah atur sampai umur berapa kita batasnya.

Energinya ada dua, yang pertama secara vertikal, yang kedua secara horizontal.

Baca juga: 5 Khasiat Air Kelapa saat Berbuka Puasa, Bantu Pulihkan Energi Tubuh

Secara vertikal kita sering menyebutnya hablum minallah.

Secara horizontal kita sering menyebutnya hablum minannas.

Nah yang paling menarik adalah di bulan Ramadhan ini kita harus pandai menerjemahkan amaliyah itu.

Bukan hanya sekadar ritualitas, tapi juga amal.

Amalia itu bicara di ruang-ruang filantropi. Berbagi itu konteksnya adalah kebutuhan kita bersama.

Kebutuhan orang yang menerima dan sejatinya ada kebutuhan kita sebagai orang yang memberi.

Jadi kita harus pandai melihat dan membangun paradigma bahwa berbagi di bulan Ramadhan itu adalah energi yang tidak boleh ditinggalkan.
Karena sensitivitasnya terjaga.

Baca juga: 7 Makanan Pemicu Sembelit saat Puasa, Gorengan hingga Fast Food Sebaiknya Dibatasi

Bayangkan ada orang yang sedang membutuhkan, berharap kepada Allah kiranya ada orang yang mau memudahkan urusannya, berbagi rezeki kepada dirinya.

Lalu kita hadir pula di sana untuk memudahkan urusannya.

Kira-kira apa kontribusinya kepada diri kita?

Jawabannya, kontribusinya kepada diri kita adalah kita dilatih atau melatih diri merasa sensitif pada masyarakat atau masalah masyarakat yang terjadi. Sensitivitas ini yang mahal.

Karena kadang-kadang tingkat keakuan kita itu terlalu dominan.

Saya mau ajak kita untuk membangun pemahaman, termasuk di Al-Baqarah itu kan Allah sebut:

Siapa yang mau berbagi kepada-Ku, menghutangi Aku kata Allah.

Nanti kalau seandainya dia mau meminjamkan Aku kata Allah qardhan hasanan, yang pinjaman yang baik, maka Aku akan menggantinya dengan ganti-ganti yang banyak.

Bisa saja di situ dalam bentuk harta.

Baca juga: 5 Khasiat Air Kelapa saat Berbuka Puasa, Bantu Pulihkan Energi Tubuh

Bisa saja dalam bentuk kemudahan.

Bisa saja dalam bentuk hidup.

Nah maka oleh karena itu kata Allah, tapi ingat, yang menyempitkan itu Allah, yang melapangkan itu Allah.
Dan hanya kepada Allah kita kembali.

Sampai-sampai di ayat itu Allah bertanya, siapa yang mau memberi, dia pinjam.

Tanda bahwa manusia ini sifat dasarnya adalah kikir sekali, pelit sekali.

Tingkat keakuan kita pada harta yang kita miliki mendominasi sehingga kesulitan kita untuk berbagi itu menjadi tantangan tersendiri.
Tribuners yang dirahmati Allah,

Saya kasih contoh.

Betapa memang tingkat kepemilikan dan keakuan kita tinggi sekali.

Suatu hari seorang ayah baru pulang bekerja naik motor. Terus dia berhenti di rumahnya.

Baca juga: Dilarang Puasa oleh Mandor, Bolehkah Berbohong Demi Ibadah? Ini Jawaban Buya Yahya

Dia lihat anaknya yang masih kecil sudah mandi, sudah rapi. Terus anaknya minta jajan.

Ayahnya kasih jajan sepuluh ribu.

Tidak lama sebelum anaknya pergi jajan datang pula tukang paket yang muncul ke rumah.

Lalu disebutkan harganya dan kelihatan uang ayahnya sudah tidak cukup atau uang besar yang tidak ada kembaliannya.

Maka akhirnya mau tidak mau ayahnya bertanya lagi kepada anaknya.

"Uang yang ayah kasih tadi, Dek, pinjamlah dulu. Nanti ayah ganti lagi uangnya."

Bayangkan tribuners. Saya cuma mau katakan begitu.

Uang yang tadi ayahnya kasih ke anaknya sepuluh ribu, dipegang oleh anaknya satu menit saja, anaknya sudah merasa memiliki uang itu.
Begitu ayahnya bilang pinjam, anaknya malah kasih peringatan:

"Awas ya Ayah tidak ganti." Nah betapa memang suasana tingkat rasa kepemilikan kita itu terlalu dominan.

Baca juga: Polsek Seunuddon Bagi Ratusan Takjil kepada Warga dan Buka Puasa Bersama dengan Yatim

Makanya salah satu amal yang spesialis, yang memang agak rumit melakukannya, rumit membangun aksesnya, itu adalah berbagi dan bersedekah.
Bayangkan.

Kalau hari ini kita niat sedekah, tapi kita tunda itu sedekahnya sampai besok, bisa saja ada yang berkurang.
Bisa jadi jumlahnya, bisa jadi suasana batinnya, bisa jadi keikhlasannya.

Dan inilah PR kita. Terus-menerus menerjemahkan Ramadhan satu bulan penuh ini supaya kita ini bukan hanya orang yang totalitas ritual saja yang hidup, tapi juga totalitas akselerasi amal sosial kita juga hidup.

Apa yang menjadi energi?

Energi itu pertama pahala. Yang jelas itu bicara hal yang immateri. Bahwa orang yang beramal di bulan Ramadhan dihitung, kalau dia beramal yang wajib dalam beberapa riwayat seratus kali lipat dihitung.
Kalau dia mengamal yang sunah maka seumpama nilai dan energinya seperti mengerjakan yang wajib.

Pertanyaannya, kita percaya tidak dengan ini?

Harus percaya. Karena memang keimanan itu menuntut kita untuk percaya. Yakin pada hal-hal yang kadang-kadang secara materi tidak bisa terukur dengan sempurna. Sehat itu kadang-kadang probabilitasnya tinggi.

Kita merasa satu bulan ini makanan kita tidak beres, tapi Alhamdulillah kita masih sehat. Makanya disebut sedekah itu sebenarnya mencegah seseorang dari bala.

Yang kedua, kita ini bekerja dengan tidak sempurna, tapi Alhamdulillah rezeki yang kita dapat walaupun tidak sebanyak yang lalu-lalu misalnya, tapi Allah beri kesempurnaan, kesesuaian.

Anak keturunan kita yang mungkin kadang-kadang saking repotnya kita bekerja kita tidak bisa akses bagaimana sekolahnya, bagaimana aktivitasnya, tapi Allah jaga mereka.

Tidak terkena musibah, sehat tetap, pekerjaannya baik, sekolahnya baik.

Saya kira itu output yang secara duniawi harus kita yakini keberadaannya.

Sehingga apapun nanti yang menjadi kesulitan, kalau kita bilang kekikiran kita yang masih merajalela, justru bisa dibantahkan dengan hal-hal yang immateri tadi yang kita anggap tidak ada alat ukurnya, tapi ternyata terjaga dengan sempurna di diri kita.

Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Jadi semuanya ini ikhtiar sebenarnya. Di dalam Ali Imran ayat 26–27 Allah menyebut:

Bismillahirrahmanirrahim.
Tu'til mulka man tasya', wa tanzi'ul mulka mimman tasya'.
Wa tu'izzu man tasya', wa tuzillu man tasya'.
Biyadikal khair.
Innaka 'ala kulli syai'in qadir.
Saya mau ajak kita untuk mencoba menelaah.
Kata Allah, katakanlah ya Muhammad:
Allahumma malikal mulk.

Hanya Allah yang Maha memiliki dari kepemilikan yang manusia punya.
Berarti bicara absolutisme.

Kira-kira maksudnya begini: kita bisa merancang, tapi Allah yang menentukan.
Termasuk rancangan tentang hidup kita.

Bayangkan kalau pelit itu menjadi background hidup kita, padahal bersedekah dan berbagi itu adalah perintah Allah.
Berarti kita secara tidak sengaja keluar dari maunya Allah.

Dan hati-hati, Allah yang Maha memiliki.

Apapun kadang-kadang yang ditarik dari kita bukan jenis rezekinya, tapi kualitas rezekinya.

Sesuatu yang harusnya bermanfaat di kita malah sekarang tidak terasa manfaatnya.

Sesuatu yang harusnya masih berkontribusi kepada diri kita sudah tidak berkontribusi.

Berapa banyak harta yang kita miliki, mungkin dulu waktu mencarinya kita sangat susah payah, tapi hasilnya justru tidak sempurna kepada diri kita.

Nah inilah PR yang mau kita rajut supaya kita jangan sampai terjebak pada kekesalan di masa mendatang.
Dalam istilah Islam itu disebut muflis, orang yang bangkrut.

Siapa orang yang bangkrut?

Orang yang mengumpulkan amal tapi seimbang pula dengan kelalaiannya, seimbang pula dengan dosanya, seimbang pula dengan kesalahannya.

Oleh karena itu kata Allah, Dia yang memiliki kerajaan itu.

Dia bisa memberi kepada siapa yang Dia mau, Dia bisa mengambil lagi kerajaan itu.

Dia bisa memuliakan orang, Dia bisa menghinakan orang.

Karena yang Maha menentukan adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Lalu Allah perkuat lagi. Allah bisa mengganti malam menjadi siang, siang menjadi malam, yang hidup menjadi mati, mati menjadi hidup.

Dan finishing dari ayat ini yang menarik, Allah sebut:

Aku bisa memberi rezeki kepada siapa pun yang Aku mau tanpa sebab akibat.

Pemirsa Tribun,

Saya mau ajak kita berpikir. Kalau begitu logikanya, ini matematika sedekah.

Kalau kita punya harta sepuluh, lalu kita keluarkan tiga di jalan yang hak, boleh saja dengan sedekah atau infak, karena pahalanya besar.
Maka sisa harta kita adalah tiga.

Kalau pakai matematika biasa 10 - 3 = 7. Tapi kalau pakai matematika sedekah 10 - 3 = 3.

Kenapa tiga?

Karena tujuh yang bersisa kita habiskan untuk urusan dunia.

Tapi tiga yang kita sedekahkan yang awalnya kita merasa itu hilang, sebenarnya menjadi nilai amal kita di sisi Allah.

Jadi memang suasana kebatinan itu penting kita miliki agar kita tidak terjebak dengan rasa capek pada kebaikan-kebaikan yang kita punya.
Ingat.

Salah satu kerumitan kita menjalani hidup sebagai orang taat adalah kita ini merasa capek jadi orang baik.
Merasa capek berbuat baik dan tidak betah menjalani kebaikan.

Kenapa? Karena kita menganggap hasil dan feedback-nya tidak jelas.
Jangan capek menjadi orang baik dan orang taat.

Sebab kehidupan kita ini alat ukurnya bukan hanya tentang kepentingan kita, tapi juga kepentingan apa yang Allah perintahkan kepada kita dan apa yang Allah larang dalam perjalanan hidup kita.
Tribuners yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu ayo kita isi Ramadhan ini dengan sebenar-benarnya.

Pastikan saja bahwa kita ini walaupun tidak maksimal bisa mengisi Ramadhan ini dengan sempurna setelah kita kalkulasi.
Setidaknya kita jangan jadi orang yang zonk.

Orang yang merasa bahwa mengerjakan Ramadhan ini hanya interaksi-interaksi yang sangat simbolik.

Kita terjebak dengan ritme kebiasaan saja, tapi suasana amaliyahnya tidak ada.

Berbuka iya, tapi kita puasa tidak. Kita banyak rezeki tapi sedekahnya tidak.

Kita ikut war takjil tapi kita tidak pernah menikmati bagaimana sebenarnya bersabar menjadi orang yang berpuasa.
Hati-hati.

Ayo kita geser paradigma berpikir kita.
Ramadhan ini kita jadikan sebagai ruh pertama ritual, yang kedua ruh muamalah.

Berbagi. Dan ingat di bulan Ramadhan ini Allah besarkan pahala kepada siapa pun yang mau berbagi, berinfak, bersedekah.
Karena ingat, setelah kita wafat maka pahala dan kebaikan itulah yang menjadi sahabat sejati sampai kita di yaumul hisab nanti.
Terima kasih.

Semoga yang saya sampaikan bisa bermanfaat.
Sehat semua kita dan selalu dalam lindungan Allah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved