Minggu, 19 April 2026

Video

VIDEO Ridwan Kamil Kenang Perjalanan Emosional Merancang Museum Tsunami Aceh

Ridwan Kamil mengaku sangat senang melihat antusiasme dari kalangan pelajar yang memanfaatkan Museum Tsunami sebagai sarana belajar

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: T Nasharul

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Mantan Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil atau yang akrab dikenal Kang Emil kembali mengunjungi Museum Tsumani Aceh yang didesain oleh dirinya sendiri, di Banda Aceh, Sabtu (18/4/2026).

Kunjungan ini dilakukan Kang Emil bertepatan dengan rangkaian kegiatan konferensi internasional kebencanaan yang digelar oleh Persatuan Arsitek Internasional atau Union Internationale des Architectes (UIA) di Banda Aceh.

Dalam kunjungan tersebut, Ridwan Kamil kembali mengenang perjalanan emosional kala dirinya merancang Museum Tsunami Aceh, sebuah karya arsitektur yang lahir dari tragedi besar namun kini menjadi ruang edukasi kebencanaan. Hal itu diungkapkannya saat diwawancarai Serambinews.com di sela kunjungannya ke museum tersebut.

Ia menyebut, dalam agenda konferensi, para peserta arsitek dari berbagai belahan dunia dijadwalkan mengunjungi Museum Tsunami Aceh, dan dirinya berkesempatan menjadi pemandu untuk menjelaskan langsung proses perancangan serta bagian-bagian dari bangunan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ridwan Kamil mengaku sangat senang melihat antusiasme pengunjung, terutama dari kalangan pelajar yang memanfaatkan Museum Tsunami sebagai sarana belajar.

Baca juga: Museum Tsunami Aceh Bersiap Kembangkan Digitalisasi

Ia juga mengungkapkan kedekatannya dengan Banda Aceh yang telah berkali-kali ia kunjungi, termasuk saat proses pembangunan museum hingga setelah diresmikan.

Namun di balik megahnya bangunan tersebut, Kang Emil mengaku proses perancangannya menjadi salah satu pengalaman paling emosional dalam kariernya sebagai arsitek. 

Dari ratusan bangunan yang sudah ia rancang, hanya Museum Tsunami Aceh yang membuat air matanya menetes karena mengenang begitu banyak jiwa yang menjadi korban.  

Kendati demikian, ia merasa bersyukur karena museum tersebut kini memberi manfaat luas, tidak hanya sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi kebencanaan.

Dalam kesempatan itu, Kang Emil juga menyinggung sejarah panjang tsunami di Aceh yang telah terjadi berulang kali sejak masa lampau hingga tragedi besar tahun 2004. Menurutnya, latar belakang ini menjadi alasan betapa pentingnya sarana edukasi bencana khususnya tsunami dijadikan sebagai ruang pembelajaran. 

Di akhir penyampaiannya, Kang Emil berharap kepada pengelola dan masyarakat agar tetap menjaga kualitas dan “roh” desain museum tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved