Rabu, 22 April 2026

Video

VIDEO - Junaidi, Petani Nilam Simpang Jernih Kini Jadi Buruh Angkut demi Bertahan Hidup

Banjir bandang mengubah segalanya. Rumahnya hancur, mesin katelnya rusak, dan lahan nilamnya terkubur lumpur

Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Teuku Raja Maulana

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM - Tiga rit angkutan semen sudah diselesaikan Junaidi (51) sejak fajar menyingsing. Dengan becak motornya, warga Kampung Pante Kera itu bolak-balik mengangkut material bangunan menuju lokasi Hunian Sementara (Huntara), melewati tanjakan terjal di bawah terik matahari.

Jelang sore, ia mengantongi Rp60.000 — hasil kerja seharian sebagai buruh angkut dengan upah Rp20.000 per rit.

"Upah hari ini sebagian saya simpan untuk keperluan besok, karena belum tentu besok atau lusa ada pekerjaan yang saya dapatkan," ujar pria kelahiran 1975 itu.

Sebelum banjir bandang menghantam Simpang Jernih pada akhir November 2025, Junaidi dikenal sebagai salah satu petani nilam terkemuka di desanya. Ia mengelola sekitar 4.000 meter persegi lahan nilam, ditambah kebun pinang dan durian. Lebih dari itu, ia juga menjalankan usaha penyulingan minyak nilam dengan mesin *katel* senilai Rp20 juta yang ia bangun sendiri.

Baca juga: Seribu Kasur Lipat Diserahkan BNPB ke Huntara Aceh Timur

Minyak nilam hasil penyulingannya dijual dengan harga Rp800.000 hingga Rp2 juta per kilogram, tergantung kondisi pasar. "Nilam itu emas hijau kami," katanya.

Namun banjir bandang mengubah segalanya. Rumahnya hancur, mesin katelnya rusak, dan lahan nilamnya terkubur lumpur serta material kayu. Yang berhasil ia selamatkan hanya tiga jeriken minyak nilam.

Kini ia menjalani hari-hari sebagai pekerja serabutan — kuli bangunan, buruh angkut, hingga pekerjaan apa saja yang tersedia. Untuk memenuhi kebutuhan makan, ia memancing ikan di sungai dan mencari sayuran liar di hutan sekitar perbukitan.

"Kalau ikan tidak terlalu susah, ada sungai di sini. Uang yang saya dapat untuk beli bumbu dan keperluan dapur lainnya," tuturnya.

Junaidi mengaku terbantu dengan bantuan beras dan minyak dari pemerintah, namun mengakui bantuan tersebut belum mencukupi seluruh kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Bupati Aceh Timur Ultimatum Vendor Huntara, Minta Tunjukkan Bukti Pembangunan

Di sisi lain, ia juga menyoroti persoalan struktural yang selama ini membayangi petani nilam, yakni praktik permainan harga oleh tengkulak. Tanpa akses ke pembeli besar, petani di wilayahnya terpaksa menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga yang kerap tidak berpihak kepada mereka.

"Harga saat pasar sehat bisa tembus Rp2 juta, tapi saat musim panen raya, harga diturunkan sampai Rp800.000," ujarnya.

Junaidi berharap pemerintah hadir untuk membantu pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana, bukan hanya melalui bantuan bibit atau pupuk, tetapi juga memastikan petani tidak berjuang sendirian dalam membangun kembali penghidupan mereka.

Meski demikian, ia menegaskan tidak akan berhenti berusaha. "Jika memang tidak ada bantuan, saya tetap akan membuka lagi kebun. Perlahan-lahan saja. Kalau butuh waktu setahun, ya tetap saya kerjakan," katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved