Video
VIDEO SAKSI KATA - Kisah Muhammad Yunus Remaja 16 Tahun yang Ditangkap Otoritas Thailand
Selama hampir tiga bulan, Yunus mendekam dalam sel tahanan anak-anak di Thailand, jauh dari keluarga dan kampung halamannya.
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Rahmat Erik Aulia
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Usianya baru 16 tahun, tapi beban yang ia pikul jauh melampaui usainha. Muhammad Yunus, remaja asal Kuala Idi Cut, Kecamatan Darul aman, Aceh Timur pergi melaut untuk mencari nafkah bertahan hidup dan pulang dengan cerita yang tak mudah ia lupakan seumur hidup.
Selama hampir tiga bulan, Yunus mendekam dalam sel tahanan anak-anak di Thailand, jauh dari keluarga dan kampung halamannya.
Semua itu bermula saat segalanya bermula pada Rabu 11 Maret 2026. Yunus dan 13 tekan nelayan lainnya berlayar menggunakan kapal KM Aneuk Manja 02, setelah delapan jari di tengah laut. Hingga Kapal mereka memasuki perairan Thailand.
"Kami diperiksa satu-satu dengan tangan diikat, kemudian disuruh baik ke kapal patroli dan langsung dibawa ke sel tahanan, tutur Yunus dengan suara yang masih menyimpan ketakutan, pada Selasa (5/5/2026).
Yunus hanya satu hari bersama rekan-rekannya yang dewasa sebelum dipindahkan ke sel tahanan khusus anak-anak, karana masih dibawah umur. Di sanalah ia menjalani hari-harinnya sendirian tanpa keluarga, tanpa kepastian kapan bisa pulang hingga pembebasannya tiba.
Meski pihak otoritas Thailand, memperlakukannya dengan baik, makan tida kali sehari dan tempat tidur yang layak, ada satu hal yang paling menyiksa batin, yakni tidak izinkan menghubungi ibunya.
Dengan tatapan kosong, Yunus mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama hampir tiga bulan.
"Rindu, ada perasaan yang campur aduk. Gak bisa ketemu keluarga, sedih rasanya," ucapnya lirih.
Kesedihan itu semakin terasa menghujam ketika lebaran tiba. Saat anak-anak seusianya berkumpul bersama keluarga, saling berpelukan dan bermaaf-maafan, Yunus hanya bisa menatap langit-langit sel tahanan di negeri orang.
Di balik kisah penangkapan itu, tersimpan luka yang lebih dalam potret nyata kesenjangan sosial yang masih membelit sebagian keluarga di Aceh.
Sejak sang ayah meninggal dunia pada 2023, Yunus dan dua saudara kandungnya mengambil alih peran sebagai pencari nafkah keluarga. Tidak ada pilihan lain, laut adalah satu-satunya jalan yang mereka kenal untuk bertahan hidup karana mereka tinggal di wilayah pesisir.
"Saya cari rezeki sendiri. Ayah sudah tidak ada, jadi kami bertiga yang mencari rezeki ke laut," kata Yunus, dengan nada yang terdengar lebih tua dari usianya.
Sementara itu, Nurasyidah, sebenernya tidak pernah rela melepas anak-anak yang ke laut. Setiap kali ia mencoba melarang, desakan perut dan kebutuhan hidup selalu mengalahkan segalanya.
"Saya sesih dan khawatir kerika mereka ke laut, tetapi ketika saya larang mereka tidak mau, karana setelah suami saya meninggal, yang mencari rezeki ya anak-anak saya," papar Nurasyidah.
| SAKSI KATA - Modus Penipuan Lewat Aplikasi Kencan Marak di Banda Aceh, Satpol PP-WH Angkat Bicara |
|
|---|
| VIDEO - Kapolda Aceh Tinjau Kerusakan Kantor Gubernur |
|
|---|
| VIDEO - Heboh! Curhatan Penumpang KRL Wanita Ini Bongkar Dugaan Perundungan di Dalam Gerbong |
|
|---|
| VIDEO - Detik-Detik Kakek Kehilangan Pegangan di Sungai Deras, Aksi Cepat Remaja Jadi Penyelamat |
|
|---|
| VIDEO - Bikin Haru! Deki Degei, Berdiri dengan Satu Kaki Pimpin Upacara Hardiknas |
|
|---|