VIDEO - Jembatan Apung Kepala Hiu Peusangan Resmi Beroperasi
Di bawah jembatan sengaja dibuat untuk memecah arus air sungai, sehingga jembatan dinamai jembatan apung Kepala Hiu.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: m anshar
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Penyeberangan melalui sungai di Bireuen bertambah satu pilihan setelah jembatan apung Kepala Hiu di Desa Pante Lhong, Peusangan, ke Pante Baro Kumbang, Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, resmi beroperasi pada Kamis (7/5/2026).
Jembatan apung tersebut terbuat dari papan berbahan dasar batang kelapa dengan panjang 55 meter dan lebar 2,5 meter. Bagian bawah jembatan dipasang drum plastik warna biru. Pada bagian ujung, jembatan berbentuk kepala hiu yang berfungsi untuk memecah derasnya air sungai. Di kedua sisi jembatan dibangun pagar pembatas dan diletakkan pot bunga. Bagian yang menghadap ke Pante Lhong disambung dengan perahu sehingga bisa dipindahkan saat air sungai deras.
Sebelum beroperasi, dilakukan prosesi peusijuk yang dihadiri puluhan warga. Pekerjaan finishing terus dilakukan dan jembatan segera beroperasi.
Rahmat, 36, selaku koordinator lapangan, menyatakan jembatan apung dibangun sejak 15 hari lalu untuk membantu warga menyeberang sungai tanpa harus antre. Biaya yang dikenakan bagi satu sepeda motor adalah Rp5.000, sementara warga yang melintas dengan berjalan kaki tidak dipungut biaya. Sebanyak 60 unit drum dipasang sebagai penahan di bawah jembatan. Perahu ketek tidak bergerak dan difungsikan sebagai tempat memantau pelintas. Jika ada warga yang tidak berani mengendarai kendaraan, petugas siap membantu menyeberangkan.
Bagian moncong di bawah jembatan sengaja dibuat untuk memecah arus air sungai, sehingga jembatan dinamai jembatan apung Kepala Hiu. Pagar pembatas dibangun untuk memudahkan warga saat menyeberang. Lokasi jembatan berjarak 1,5 kilometer dari simpang empat Gle Kapai, dan dari sungai ke Pante Baro Kumbang hanya 200 meter dengan jalan beraspal.
Muakhir, selaku pembangun jembatan, mengatakan ide pembangunan muncul setelah melihat antrean panjang setiap hari di perahu ketek kawasan Blang Panjoe ke Kubu. Operasional jembatan melibatkan 15 orang. Mereka juga berkoordinasi dengan rekan-rekan di Bener Meriah dan Krueng Simpo untuk memantau kondisi air sungai. Jika air sungai naik, jembatan bagian ujung dilepas dan dipindahkan ke sebelah barat dalam waktu dua jam. Setelah air surut, jembatan ditarik kembali ke posisi semula menggunakan kabel seling dan kendaraan roda empat. (*)
Narator: Dara
Video Editor: Muhammad Anshar