Sabtu, 30 Mei 2026

Video

VIDEO - Jelang Aksi 4 September 2025: Massa, Titik Unjuk Rasa, dan Agenda Tuntutan

Unjuk rasa ini lahir dari akumulasi kekecewaan publik yang belum terjawab, sementara meningkatnya tindakan represif j

Tayang:

SERAMBINEWS.COM – Gelombang aksi protes masih terus berlanjut. Pada Kamis, 4 September 2025, berbagai kota di Indonesia diperkirakan kembali dipenuhi demonstran dari aliansi serikat buruh dan kelompok masyarakat sipil.

Unjuk rasa ini lahir dari akumulasi kekecewaan publik yang belum terjawab, sementara meningkatnya tindakan represif justru menambah kekuatan solidaritas di antara massa.

Isu yang mendorong perlawanan cukup beragam. Mulai dari kenaikan tunjangan DPR dan gaji pejabat yang dinilai tidak pantas di tengah kondisi ekonomi sulit, polemik revisi sejarah nasional yang menghapus catatan tragedi 1998, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja massal serta biaya pendidikan yang terus melonjak, menambah keresahan di kalangan buruh dan mahasiswa.

Baca juga: Hari Ini Massa Akan Demo ke DPRK Aceh Singkil, Akademisi Ingatkan Bahaya Provokasi

Tindakan keras aparat dalam beberapa aksi sebelumnya semakin memperburuk keadaan. Bentrokan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka memicu kemarahan publik, termasuk meninggalnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan serta mahasiswa Rheza Sendy Pratama.

Nama keduanya kini menjadi simbol penderitaan kolektif masyarakat. Kehilangan mereka memperkuat desakan agar dilakukan investigasi independen dan membuka babak baru dalam gelombang demonstrasi besar yang merebak sejak akhir Agustus 2025.

Affan Kurniawan adalah seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun. Dia meninggal dunia pada 28 Agustus 2025 setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat

Ia tidak ikut aksi, melainkan sedang mengantar pesanan makanan. Saat mencari jalur Ribuan ojol mengiringi pemakamannya. Insiden ini memicu tuntutan pembentukan tim investigasi independen dan peninjauan SOP pengamanan.

Baca juga: Demo Mahasiswa di DPRK Nagan Raya Berakhir dengan Shalat Zuhur Bersama di Masjid Giok

Sementara itu, Rheza Sendy Pratama adalah seorang Mahasiswa angkatan 2023 dari 
Universitas Amikom Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi. 

Dia ditemukan meninggal pada 31 Agustus 2025 setelah mengikuti aksi di depan Mapolda DIY.

Pada saat ditemukan, dia mengalami luka bocor di kepala, bekas pijakan sepatu PDL di perut dan dada, sayatan di tangan dan kaki, serta paparan gas air mata.

Ayahnya, Yoyon Surono, menyatakan melihat langsung luka-luka saat memandikan jenazah.

Rheza disebut sebagai martir demokrasi, dan kematiannya menjadi pemicu solidaritas mahasiswa di Yogyakarta dan nasional5.

Baca juga: Puji Cara Kapolda Aceh Kendalikan Situasi Demo, Haji Uma: Perlu Dicontoh Daerah Lain

Keduanya kini menjadi nama yang disebut dalam tuntutan rakyat, terutama dalam poin desakan pembentukan tim investigasi independen dan penghentian kekerasan aparat.

Selain mereka, ada tujuh orang lainnya yang meninggal dunia akibat demo, yaitu Muhammad Akbar Basri (26 tahun), Staf Humas DPRD Makassar. Dia meninggal terjebak dalam kebakaran Gedung DPRD Makassar pada 29 Agustus

Sarinawati (26 tahun), pegawai DPRD Makassar. Dia meninggal bersama Akbar Basri saat mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved