Opini
Menyoal Kontribusi Guru Besar
Guru besar sejatinya memberikan kontribusi besar dalam membangun bangsa sesuai gelar “kebesaran” masing-masing
UNIVERSITAS Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh kembali mengukuhkan tiga guru besar. Mereka adalah Prof Dr Ir Khairil Daud MT (Fakultas Teknik), Prof Dr Raja Masbar M.Sc (Fakultas Ekonomi) dan Prof Dr Ir Husaini MSc (Fakultas Teknik). Rektor Unsyiah Prof Dr Darni M Daud mengatakan, dengan dikukuhnya ketiga guru besar itu, maka Unsyiah telah memiliki 43 guru besar aktif (Serambi, 15/12/2011). Sedangkan IAIN Ar-Raniry saat ini memiliki 17 orang guru besar aktif. Jadi, Aceh melalui kampus “Jantong Hatee” kini memiliki 60 orang guru besar.
Guru besar sejatinya memberikan kontribusi besar dalam membangun bangsa sesuai gelar “kebesaran” masing-masing. Dengan memiliki 60 guru besar Aceh seharusnya mampu keluar dari masa-masa kegelapan karena telah memiliki guru besar di hampir semua disiplin ilmu. Ini artinya Aceh harus mampu membenahi diri dalam rangka meraih kembali kebesarannya (renaissance). Kita berharap para guru besar itu menjadi pilar utama untuk menggerakkan pembangunan menuju kemajuan. Aceh bisa berjaya kembali seperti pada masa Sultan Iskandar Muda. Ini bukan suatu yang mustahil kita wujudkan.
Kondisi hari ini tampak bertolak belakang dengan apa yang diidamkan. Guru besar tumbuh, tapi nasib Aceh tetap tak berubah. Hari ini kita melihat hampir semua sektor (di sektor peternakan, pertanian, perikanan dan lain-lain) masih jalan di tempat. Misalnya, teknologi pertanian dan peternakan belum lahir di Aceh. Petani masih menanam padi dan komoditi lain secara manual tanpa pernah disajikan inovasi baru yang muncul dari kampus, padahal Unsyiah punya banyak guru besar pertanian. Nasib petani Aceh tidak berubah, berbeda jauh dibanding petani Thailand. Andai pun muncul inovasi baru di sektor pertanian, maka itu lahir dari inisiasi dan eksperimen masyarakat sendiri seperti yang dilakukan oleh Siswanto yang sukses mengembangkan apel di Aceh Tengah (Serambi, 28/12/2012).
Hal yang sama juga terjadi di sektor agama. Seharusnya pembinaan agama dan moral bangsa menjadi tanggung jawab IAIN dalam memberikan contoh teladan dan menampilkan penafsiran-penafsiran baru atas permasalahan kontekstual yang dihadapi umat. Tapi itu tidak terjadi. Agama Islam Aceh tetap terkesan berwajah “seram” dan masih jauh dari fiqh sosial. Permasalahan aktual dan mendesak untuk terjaminnya kesejahteraan umat masih menempati rangking bawah dalam fenomena Islam Aceh. Misalnya, fenomena korupsi, mempermainkan agama melalui sumpah jabatan dan pelayanan publik yang buruk tidak menjadi fokus kajian guru besar di lingkungan IAIN Ar-Raniry.
Target guru besar
Gelar profesor menjadi idaman kaum akademisi, karena ia adalah strata tertinggi di dunia kampus. Mencapai gelar guru besar butuh perjuangan. Seorang dosen yang ingin mencapai posisi terhormat itu mesti mengumpulkan angka kredit 850-1.000 poin. Angka kredit tersebut diperoleh dari pengabdiannya selama menjadi dosen. Patut diajukan pertanyaan, apakah pengabdian itu hanya untuk kampus saja? Sebenarnya apa target dari seorang guru besar, apakah sekadar menambah gelar atau untuk mencari tunjangan sertifikasi yang mencapai Rp10-13 juta/bulan? Sangat disayangkan jika hal seperti ini yang menjadi tujuan akhir dari percapaian gelar profesor. Mereka akan menjadi orang-orang yang hanya besar namanya, tapi kecil perannya.
Ada tiga bentuk pengabdian yang biasa disebut Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam fungsi pendidikan seorang guru besar tidak mengalami kesulitan, mereka dapat menjalankan perannya sebagai pengajar. Sementara di bidang penelitian, sebagian besar dari mereka dituding gagal melaksanakan fungsi ini, padahal ia sangat penting bagi kemajuan peradaban bangsa. Dari hasil penelitian itu diharapkan tercipta karya nyata yang bermanfaat dan membanggakan.
Selama ini ada kesan penelitian yang dilakukan guru besar hanya sebatas proyek dan mengabaikan azas manfaat bagi umat.
Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry yang ditasbihkan menjadi Jantung Hate Rakyat Aceh ternyata belum mampu menjadi model sekaligus memberi solusi terhadap permasalahan masyarakat Aceh. Telah banyak para sarjana yang dilahirkan oleh Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry, tetapi mengapa para sarjana yang ikut diajarkan oleh para profesor itu tampak tidak mampu mengubah Aceh setelah mereka bekerja di instansi-instansi pemerintah. Misalnya, saat sarjana pertanian berkeja di dinas pertanian, mereka tidak mampu membuat program-program baru yang merupakan inovasi sarjana kampus. Nyaris tak ada kreasi dan nyatanya mereka hanya mengcopy dan mempastekan program-program generasi tua dan seterusnya.
Menyeleksi guru besar
Menggerakkan pembangunan menuju kemajuan Aceh bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga menjadi perhatian khusus dari akademisi dan guru besar untuk mengaplikasikan segala bentuk ilmu yang didapatkannya demi sebuah perubahan Aceh ke depan yang lebih. Dalam hal ini, penulis mencoba menawarkan beberapa solusi terhadap permasalahan kronis ini.
Seharusnya pemrintah membuat peraturan baru yang lebih selektif bagi seorang akademisi untuk menjadi guru besar, misalnya seorang calon guru besar harus memiliki karya ril yang berguna dalam masyarakat, mampu memberikan perubahan serta harus ada persyaratan untuk menjadi guru besar mereka mesti memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan secara internasional dan dapat diuji orisinalitas dan manfaat nyata dari karya itu. Pada sisi lain, sebaiknya berikanlah tunjangan kepada guru besar sesuai kontribusi dalam pengembangan ilmu dan pengabdian masyarakat. Selanjutnya seseorang yang telah memperoleh gelar guru besar harus tetap diminta untuk terus mengembangkan karya-karya nyata, dan jika tidak mampu mempertahankannya mereka layak didegradasi untuk sementara waktu. Semoga!
* Penulis adalah Ketua HMJ APK Fak.Adab IAIN Ar-Raniry.