KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai – Bagian 14, Perjuangan Membangun Perdamaian
Masyarakat internasional mendesak para pihak agar segera berdamai, mendukung untuk menghentikan perang dan kekerasan.
Oleh: Yunidar Z.A*)
Sejak zaman prasejarah makhluk manusia sudah terbiasa berperang. Peperangan bahkan dinarasikan oleh Al-Quran dan Alkitab. (Daoed Joesoef, 2014.,hal, 1). Perang dan damai tidak hadir dengan sendirinya.
Konflik Amerika dengan Iran mulai akhir Februari 2026 hingga sekarang telah mengganggu ekonomi dan geopolitik dunia.
Masyarakat internasional mendesak para pihak agar segera berdamai, mendukung untuk menghentikan perang dan kekerasan.
Pertemuan para pihak yang bertikai maupun pihak ke tiga dalam memfasilitasi perundingan, negoisasai, dialog harus diperjuangkan dengan kesadaran, keberanian moral, dan kemauan kolektif untuk mengakhiri siklus kekerasan.
Sebaliknya, perang seringkali lahir dari keputusan manusia yang diliputi rasa ketakutan, kepentingan, ambisi, juga ketidakpercayaan terhadap yang lain.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 13, Keberlanjutan Perdamaian dan Membuka Ruang Peradaban Dunia
Di titik inilah paradoks kemanusiaan terlihat jelas, sesama manusia, mampu menciptakan kehancuran dengan perang, namun kemudian memiliki kapasitas untuk membangun kembali perdamaian.
Keputusan Agresi miter Amerika Serikat yang pada awalnya diprovokasi oleh Zionis Yahudi dengan sandi operasi “roaring lion” pada 28 Februari 2026, akibat kebuntuan negosiasi dampak eskalisi tersebut telah menghancurkan rasa kemanusian, korban, dan kerusakan luar biasa.
Celakanya dapat membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk membangun kembali dari puing-puing kehancuran peradabannya.
Bahkan tokoh-tokoh penting yang telah menjadi korban tidak tergantikan.
Kegagalan Komunikasi
Perang bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba - tiba. Ia merupakan akumulasi dari kegagalan komunikasi, negoisasi, runtuhnya kepercayaan, dan absennya mekanisme penyelesaian konflik yang efektif.
Ketika diplomasi tidak lagi dipercaya, dan narasi permusuhan lebih dominan dibandingkan dialog, persamaan, kesetaraan.
Maka, perang menjadi pilihan yang dianggap “rasional” oleh sebagian pihak.
Padahal, di balik rasionalitas itu tersembunyi biaya kemanusiaan yang sangat besar, korban jiwa, kehancuran infrastruktur, kehancuran peradaban, kehancuran lingkungan hidup, hilanggnya rasa kemanusian, hingga trauma sosial yang berlangsung lintas generasi.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 12, Perpanjangan Gencatan Senjata, Persiapan Perdamaian
Keputusan penyelesaian masalah dengan perang yang mulai ditabuh sebagai jalan keluar dari kebuntuan diplomasi, tidak mudah untuk menghentikannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Terbaru.jpg)