Pengurus Koperasi Nagan dan Pidie Berguru ke Pulau Jawa
Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan koperasi, sejumlah pengurus koperasi primer dan sekunder (gabungan koperasi)
Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan koperasi, sejumlah pengurus koperasi primer dan sekunder (gabungan koperasi) yang diberi nama dengan Koperasi Pemasaran Masyarakat (Kopemas) Aceh, dari Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Pidie, selama sepekan (16-21 Januari 2012) lalu, berguru ke koperasi di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta dan Lembang, Bandung Utara, Jawa Barat.
Para pengurus koperasi dari dua kabupaten di Provinsi Aceh ini, melakukan kegiatan studi banding ke Pulau Jawa, merupakan bagian dari program Proyek Ekonomi Sosial Aceh Terpadu (PESAT) yang dijalankan oleh Canadian Co-operative Association (CCA) bermitra dengan lembaga lokal yaitu Pengembangan Aktivitas Sosial Ekonomi Aceh (PASKA).
Sedangkan PESAT merupakan Sub Proyek dari Economic Development Financing Facilitty (EDFF) yang didanai oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) dari hibah Multi Donor Fund (MDF). Selain pengurus koperasi, kegiatan studi banding juga melibatkan beberapa orang dari unsur pemerintah, seperti dari Dinas Koperasi dan Bappeda Nagan Raya, serta Dinas Koperasi dan Bappeda Kabupaten Pidie.
Berdasarkan catatan Serambi yang melakukan liputan kegiatan studi banding itu. Beberapa koperasi di daerah Yogyakarta dan Bandung Jawa Barat, yang saat ini telah menjadi koperasi “raksasa” dengan jumlah anggota mencapai ribuan orang serta nilai aset yang mencapai miliaran rupiah. Ternyata semuanya berangkat dari koperasi kecil yang dirintis oleh segelintir orang. Namun dengan didasari keyakinan serta kekompakan seluruh anggota untuk mengembangkan sebuah koperasi, sehingga misi mereka berhasil dicapai walaupun dalam waktu yang tidak sebentar.
Kegiatan studi banding para pengurus koperasi Nagan Raya dan Pidie itu, diawali dengan melakukan kunjungan ke kawasan Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Di daerah itu, tepatnya di Dusun Putat I dan Putat II, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, berdiri sebuah koperasi yang diberi nama Kopdit Marsudi Mulyo.
Koperasi ini, lahir pada tgl 12 September 1982. Terbentuknya koperasi ini, berawal dari gagasan segelintir orang yang bersepakat untuk membentuk sebuah wadah untuk pengelolaan keuangan. Modal awal terbentuknya koperasi itu, hanya dengan menyetorkan iuran sebesar Rp 100 (seratus rupiah) per anggota. Dan jumlah anggota pertama koperasi tersebut, awalnya hanya sebanyak 24 orang.
“Ada beberapa hal yang membuat koperasi ini, bisa berkembang dan bertahan sampai dengan saat ini, mengutamakan pelayanan prima kepada anggota, serta para pengurus harus bisa berprilaku,” kata Ketua Kopdit Marsudi Mulyo.
Selain ke Kopdit Marsudi Mulyo, beberapa hari berikutnya para pengurus koperasi asal Kabupaten Nagan Raya dan Pidie beserta rombongan digiring melakukan studi banding ke Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat. Koperasi yang berkantor di komplek Pasar Baru, Lembang, Bandung ini, telah berdiri sejak tahun 1971 dan telah menjadi koperasi peternak sapi terbesar di Indonesia.
KPSBU memiliki anggota sekitar 7.000 orang namun saat ini yang aktif sekitar 5.000 orang peternak. KPSBU Jabar, menjadi koperasi “raksasa” berawal dari gagasan sejumlah orang yang berinisiatif membuat sebuah koperasi namun untuk di Lembang Bandung dalam bidang persusuan.
Awal berdiri 40 tahun silam, KPSBU tidak memiliki aset apapun dengan jumlah anggota sebanyak 35 orang serta baru menghasilkan susu segar sekitar 300 kg/hari ketika itu.
Namun saat ini, koperasi ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Dengan aset yang mencapai hingga Rp 50 miliar, yang awal berdirinya tidak memiliki aset apapun. Selain itu, omzet pertahun koperasi itu mencapai angka mencapai Rp 350 miliar. Para pengurus koperasi asal Nagan Raya dan Pidie, juga melakukan meninjau salah satu koperasi sekunder yakni Gabungan Koperasi Susu Indonesia Daerah Jawa Barat (GKSI Jabar).(Bersambung)