RSU Sigli Krisis Darah
Direktur RSU Sigli, dr Safwan mengatakan, sejak beberapa hari terakhir di rumah sakit tersebut krisis darah. “Selama ini memang stok darah di RSU
menurutnya, krisis darah terjadi di Pidie itu, karena kesadaran masyarakat untuk donor darah sangat kurang. Bahkan, masyarakat baru sadar bahwa perlu dilakukan donor darah ketika keluarga sendiri membutuhkan darah.
Dampak dari krisis darah itu sendiri juga dirasakan oleh pasien Misra (21), warga Gampong Meunasah Reului Busu, Kecamatan Mutiara, Pidie.
Setiap bulan gadis miskin penderita anemia itu membutuhkan tujuh kantong darah. Namun, menurut Rukiah ibu kandung Misra mengaku sangat sulit mendapatkan darah untuk anaknya itu, kecuali harus membeli dengan harga Rp 150.000/kantong di RSU Sigli. Bahkan, kata Rukiah, saat stok darah di rumah sakit habis, Ia harus membeli darah dari luar, termasuk dari tukang becak dengan mengeluarkan biaya Rp 400.000/kantong.
“Pihak rumah sakit hanya menggratiskan cuma satu kantong darah untuk pasien JKA. Kalau anak saya tidak ganti darah, Misra langsung lumpuh,”kata Rukiah.
Kepala Unit Tranportasi Darah (UTD) Pidie, dr Hj Harniwaty, kepada Serambi Senin (30/1) mentakan, pihak UTD tidak pernah menjual darah kepada pasien manapun. Kemungkinan, kata Harniwaty, saat pasien memerlukan darah, sementara di RSU kehabisan stok darah, lalu membeli darah dari tukang parkir yang bersedia mendonor darah.
Dikatakan, saat ini pendonor darah di RSU Sakit Sigli sangat minim. Termasuk dari keluarga pasien tidak bersediah mendonorkan darah bagi keluarganya. Sehingga pihak UTD kewalahan mencari darah ketika adanya pasien membutuhkan darah.(naz)