Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Kepemimpinan Rasulullah

Sabtu, 4 Februari 2012 14:45 WIB

Oleh Syukran Jazila

DARI Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang Amir adalah pemimpin bagi rakyatnya dan dia akan diminta pertanggunjawaban mengenai rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan diminta pertangungjawaban mengenai keluarganya itu. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban mengenai harta itu, dan seorang isteri adalah pemimpin bagi harta suaminya dan ia akan pertanggungjawaban mengenai hartanya itu.” (HR Imam Ahmad).

Begitulah sepotong hadis Rasulullah yang menyebutkan tentang kepemimpinan, mulai dari kepemimpinan yang kecil sampai dengan kepemimpinan dengan amanah yang besar. Betapa pentingnya memegang amanah yang diemban oleh seorang pemimpin, yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada rakyat, tapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Amir yang Rasulullah sebutkan merupakan seorang yang ditunjukkan oleh rakyatnya untuk menjadi sosok pemimpin atau Imam. Ia merupakan sosok yang berada di garda depan dalam melindungi negara dan rakyatnya. Karena itu, seorang pemimpin haruslah merupakan sosok yang sanggup memikul beban dan tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

 Amanah besar

Tanggung jawab seorang pemimpin merupakan amanah besar yang ia dipegang, betapa tidak karena upaya mewujudkan cita-cita menuju kesejahteraan dan keadilan itu ada pada kebijakannya. Islam juga menganjurkan umat untuk taat dan patuh pada pemimpin, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan RasulNya dan pemimpin di antara kamu. (QS An-Nisa: 59).

Ayat ini dapat dipahami betapa kita selaku muslim harus patuh dan taat kepada Allah, Rasul, dan pemimpin yang telah kita tunjuk atau kita pilih. Ketika Rasulullah saw wafat, umat Islam saat itu langsung memilih dan mengikuti pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Artinya garis kepemimpinan ini harus didasari dengan ruhiyah dan bathiniyah yang kuat, serta melaksanakan amaliyah yang Allah perintahkan.

Rasulullah saw semasa hidupnya bukan hanya sebagai pemimpin umat, tetapi beliau juga seorang kepala pemerintahan dan pemimpin negara. Saat itu, Rasulullah memimpin negara Madinah Al-Munawwarah. Beliau berhasil melahirkan konstitusi negara yang disebut Piagam Madinah.

Piagam ini berisi dua poin penting yang kemudian menjadi landasan kuat dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Pertama, semua umat Islam adalah satu kesatuan, walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan;

Kedua, hubungan internal antarkomunitas Muslim dan hubungan eksternal antara komunitas muslim dan nonmuslim didasarkan pada prinsip-prinsip: bertentagga baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela orang teraniaya, saling menasehati dan menghormati kebebasan beragama.

Dua pilar ini adalah sebagai bukti bahwa betapa bijak, seorang Nabi yang memegang dua kekuasaan besar sebagai pemimpin umat dan pemimpin negara. Beliau tidak hanya merangkul atau mengakomodirsatu pihak, tapi juga mampu menyatukannya dalam bingkai kenegaraan yang adil, makmur dan sejahtera.

Di samping itu ada beberapa teladan kepemimpinan yang lain yang Rasulullah bangun bersama rakyatnya. Di antaranya diplomasi dan tatanan negara yang struktural, mulai dari tingkatan tertinggi hingga tingkatan paling rendah. Beliau juga selektif dalam memilih pejabat-pejabat negara, yang beliau utus untuk duduk di dewan maupun di lembaga pemerintahan, dari tingkatan tertinggi hingga ke level paling rendah.

Meski mungkin belum sesempurna pada era kepemimpinan sahabat, tapi beliau telah meletakkan kerangka landasan yang kuat dengan selektifnya memilih individu-individu yang berakhlak mulia maka pemerintahan rasul sangatlah bersih karena sifat kejujuran dan kearifan itu yang membuat semuanya berhasil.

 Manhaj Rasulullah

Aceh yang sebentar lagi akan melaksanakan transisi kepemimpinan melalui Pilkada mendatang semoga nantinya harapan kita siapa pun yang dipilih dan terpilih bisa mengambil manhaj kepemimpinan yang ditunjukkan Rasulullah pada 15 abad yang lampau. Arif, bijaksana, berakhlak mulia, teguh dalam memegang amanah, dan tidak membeda-bedakan etnis dan suku bangsa.

Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bersatu dengan rakyatnya, berani bertanggung jawab berbaur dengan masyarakat, rakyat bukanlah bawahan yang harus dikesampingkan haknya, pandai menjaga kewibawaan dan keuletan dalam mengakomodir rakyatnya untuk kesejahteraan.

Begitu juga sikap kita sebagai rakyat, harus menghormati dan mentaati pemimpin kita. Demikian pula seorang pemimpin, haruslah selalu menyadari bahwa ia juga bagian dari rakyat.

Kita merindukan sosok pemimpin yang mampu mewariskan sikap kepemimpinan dan keteladanan yang pernah ditunjukkan Rasulullah. Karena itu, kita hendaknya senantiasa berdoa, kiranya Allah swt menganugerahi kita sosok pemimpin teladan yang kita dambakan itu.

* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas