Minggu, 29 Maret 2015
Home » Opini

Kepemimpinan Rasulullah

Sabtu, 4 Februari 2012 14:45

Begitulah sepotong hadis Rasulullah yang menyebutkan tentang kepemimpinan, mulai dari kepemimpinan yang kecil sampai dengan kepemimpinan dengan amanah yang besar. Betapa pentingnya memegang amanah yang diemban oleh seorang pemimpin, yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada rakyat, tapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Amir yang Rasulullah sebutkan merupakan seorang yang ditunjukkan oleh rakyatnya untuk menjadi sosok pemimpin atau Imam. Ia merupakan sosok yang berada di garda depan dalam melindungi negara dan rakyatnya. Karena itu, seorang pemimpin haruslah merupakan sosok yang sanggup memikul beban dan tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

 Amanah besar

Tanggung jawab seorang pemimpin merupakan amanah besar yang ia dipegang, betapa tidak karena upaya mewujudkan cita-cita menuju kesejahteraan dan keadilan itu ada pada kebijakannya. Islam juga menganjurkan umat untuk taat dan patuh pada pemimpin, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan RasulNya dan pemimpin di antara kamu. (QS An-Nisa: 59).

Ayat ini dapat dipahami betapa kita selaku muslim harus patuh dan taat kepada Allah, Rasul, dan pemimpin yang telah kita tunjuk atau kita pilih. Ketika Rasulullah saw wafat, umat Islam saat itu langsung memilih dan mengikuti pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Artinya garis kepemimpinan ini harus didasari dengan ruhiyah dan bathiniyah yang kuat, serta melaksanakan amaliyah yang Allah perintahkan.

Rasulullah saw semasa hidupnya bukan hanya sebagai pemimpin umat, tetapi beliau juga seorang kepala pemerintahan dan pemimpin negara. Saat itu, Rasulullah memimpin negara Madinah Al-Munawwarah. Beliau berhasil melahirkan konstitusi negara yang disebut Piagam Madinah.

Piagam ini berisi dua poin penting yang kemudian menjadi landasan kuat dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Pertama, semua umat Islam adalah satu kesatuan, walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan;

Kedua, hubungan internal antarkomunitas Muslim dan hubungan eksternal antara komunitas muslim dan nonmuslim didasarkan pada prinsip-prinsip: bertentagga baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela orang teraniaya, saling menasehati dan menghormati kebebasan beragama.

Dua pilar ini adalah sebagai bukti bahwa betapa bijak, seorang Nabi yang memegang dua kekuasaan besar sebagai pemimpin umat dan pemimpin negara. Beliau tidak hanya merangkul atau mengakomodirsatu pihak, tapi juga mampu menyatukannya dalam bingkai kenegaraan yang adil, makmur dan sejahtera.

Halaman12
Editor: hasyim
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas