Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Sebelum Lupa, Ayo Bangun Museum Smong

Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”

Tayang:
Editor: mufti
IST
ALEX ARAO, S.Pd., Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan pegiat literasi Rumah Baca Simeulue Cerdas, melaporkan dari Sinabang 

ALEX ARAO, S.Pd., Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan pegiat literasi Rumah Baca Simeulue Cerdas, melaporkan dari Sinabang

Setiap tanggal 26 April di Indonesia, diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan budaya sadar bencana.

Kota Banda Aceh menjadi pusat peringatan nasional HKB Tahun 2026. HKB kali ini mengusung tema “Siap untuk Selamat.”

Seperti yang diberitakan di laman Harian Serambi Indonesia edisi Senin (27/4/2026), ada judul “Seni Adaptasi Nandong Smong Meriahkan Panggung HKB Banda Aceh.”

Menurut kabarnya, seni Nandong, budaya pitutur warisan leluhur dari tanah kelahiran saya, Simeulue tersebut, turut ditampilkan untuk memeriahkan agenda peringatan HKB Tahun 2026 di area Car Free Day Kota Banda Aceh, Minggu, 26 April 2026.

Menariknya, pada pemberitaan itu, penampilan seni Nandong smong di panggung HKB tersebut tidak dipertunjukkan oleh seniman Nandong asli Simeulue, melainkan dilakoni oleh tim kolaborasi yang terdiri atas Generasi Edukasi Nanggroe Aceh atau GEN-A, Fastana-TDMRC

Universitas Syiah Kuala (USK), mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan USK, serta alumni Student Exchange KMITL-USK.

Panggung pertunjukan yang diinisiasi kaum intelektual Kampus USK Darussalam itu, menyalakan imajinasi pengunjung dan warga yang melintas di kawasan Car Free Day.

Sebuah kabar yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar peristiwa serimonial. Dari berita itu, terasa bahwa di tengah upaya modern mengedukasi publik tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami, ada warisan lokal yang lebih awal mengajarkan cara bijak mengenali tanda-tanda alam (sasmita) dan mitigasi yang tepat dalam menyelamatkan diri, seperti yang dinukilkan dalam bait syair Nandong. Hanya saja, kita sering kali terlambat untuk sungguh-sungguh mendengarkan.

Kearifan lokal smong yang ditampilkan pada agenda penting tersebut, bisa menjadi alarm alam untuk kesiapsiagaan kita ketika terjadi bencana alam gempa dan tsunami.

Pesan edukasi dalam menghadapi gempa dan tsunami/smong, ditemukan dalam bait syair bahasa Devayan, Simolol, dan Sigulai:

“Enggelan mon sao surito  (Dengarlah sebuah cerita)

Inang maso semonan

(Pada zaman dahulu) Malokngop sao ne fano  (Tenggelam seluruh kampung) Uwilah da sesewan

(Cerita para leluhur)

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved