Sabtu, 27 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Model Kepemimpinan Ideal

Sabtu, 4 Februari 2012 14:35 WIB

(Refleksi Hari Lahir Nabi)

Oleh Ihsan M Jakfar

PADA 12 Rabiul Awal 15 abad silam, putra Abdullah bin Abdul Muthaleb itu lahir di tetandusan jazirah Arab. Lembah yang merekam sejarah kelam kehidupan masyarakat jahiliyah. Lahir sebagai yatim dari keluarga yang tak berada, tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah penyembah berhala, dan dalam kodisi kehidupan sosial yang memprihatinkan.

Di tengah keheningan kota Mekkah yang dibalut remang-remang pagi menjelang subuh, cahaya yang disertai bau harum itu sesumburat dari rumah Aminah. Seketika kota Mekkah menjadi terang benderang, patung-patung berhala sesembahan kaum Jahiliyah berjatuhan. Orang-orang Mekkah menjadi tercengang dan bertanya-tanya gerangan apa yang melanda kota Mekkah pagi ini?

Ternyata, keganjilan itu adalah isyarat Yang Maha Kuasa bahwa Mekkah kedatangan sesosok anak manusia, kesayangan Aminah, jantung hati Abdullah yang datang membawa risalah untuk mengembalikan manusia kepada fitrah. Tidak ada yang menyangka bahwa Muhammad saw kelak akan menjadi manusia pengukir sejarah dunia.

Siapa sangka peradaban dunia Islam tumbuh berkembang dari tanah yang dihuni oleh masyarakat Jahiliyah. Sebuah komunitas yang dulunya menganut hukum rimba. Di mana kekuatan otot menjadi andalan untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bayi-bayi yang lemah dibantai dengan biadab. Perempuan dilecehkan. Praktek judi dan mabuk-mabukan merajalela.

Kesuksesan dan prestasi yang beliau raih bukan proses alam yang didapati sambil memangku tangan. Ada alasan yang kuat mengapa dalam kurun waktu yang relatif singkat, 23 tahun (13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah), beliau mampu mengubah lembah gelap jazirah Arab menjadi sumber cahaya yang mampu menyinari belahan dunia.

Dalam waktu sesingkat itu juga beliau berhasil melahirkan sederetan pemimpin dunia yang namanya masih dikenang sampai sekarang. Misalnya, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thaleb dan masih banyak tokoh-tokoh lain. Adalah model kepemimpinan Rasulullah yang dibimbing wahyu ilahi yang menjadi alasan dibalik kesuksesan itu semua.

 Krisis kepemimpinan
Melihat berbagai problematika yang terus melilit bangsa ini. Di mana setelah 67 tahun bangsa ini merdeka, krisis kepemimpinan masih menjadi problema yang tak kunjung terselesaikan. Kita kebanjiran politisi tapi miskin negarawan. Kekuasaan dan jabatan masih dipandang sebagai lahan empuk untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Mensejahterakan, memakmurkan rakyat hanya sebatas jargon yang diteriakkan pada saat kampanye. Problem multidimensi itu membuat bangsa ini seakan kehilangan arah. Maka sudah semestinya kita kembali bercermin pada sejarah pelayaran hidup baginda Nabi sebagai iktibar dan untuk kemudian dijadikan tauladan oleh segenap lapisan bangsa.

Sebuah kesimpulan yang sangat penting ditarik dari kepemimpinan Muhammad saw adalah bahwa sebagai seorang pemimpin beliau memiliki integritas (integrity) yang tinggi. Beliau membangun integritas bukan lewat setelan jas, dasi dan sepatu mengkilat. Bukan juga dengan pencitraan melalui media atau kampanye yang sarat manipulasi. Namun integritas itu lahir dari keluhuran budi dan kemuliaan akhlak yang beliau miliki.

Setidaknya ada bebrerapa sifat yang sangat menonjol dari pribadi seorang Muhammad saw. Pertama, jujur dan amanah (trust). Tidak ada yang meragukan kejujuran dan amanah Muhammad saw. Sikap jujur dan amanah sudah terbangun dalam diri rasul sejak usia belia. Sehingga jauh hari sebelum beliau diangkat menjadi rasul, orang-orang Arab sudah menggelar beliau dengan sebutan al-amin.

Seorang pemimpin jujur yang berorientasi pada kepentingan umat, namanya akan terukir dengan tinta emas sepanjang sejarah. Kejujuran dan amanah sejati bukan lahir karena bayang-bayangan jeruji besi atau takut teseret ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun jujur dan amanah sejati adalah sebuah sikap yang lahir dari paradigma berpikir bahwa Rabbul Izzati selalu melihat apa yang dilakukan hambanya.

Kedua, hidup bersahaja. Walau memegang kekuasaan dan jabatan tinggi sebagai pemimpin dunia, Rasulullah tetap menjalani kehidupan dengan penuh kebersahajaan. Tidak ada sedikit pun kemewahan dalam hidup beliau. Namun begitulah kehidupan ideal seorang pemimpin yang dicontohkan Rasulullah saw. Kontras sangat bila kita bandingkan dengan corak hidup pemimpin kita dewasa ini. Pemimpin kita hidup dalam kemewahan diatas kepapaan rakyatnya.

Ketiga, cerdas. Rasulullah adalah seorang pemimpin yang memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Di sektor perekonomian beliau adalah ekonom handal. Di dalam perang beliau adalah ahli strategi. Di pemerintahan beliau mampu meletakkan dasar-dasar negara yang dicontoh sampai sekarang. Kecerdasan beliau dalam memimpin diakui tidak hanya oleh orang-orang beriman yang memang loyal kepada beliau, tetapi juga oleh orang-orang musyrik pada saat itu.

Jujur, amanah, bersahaja dan cerdik sejatinya adalah perpaduan antara dua kecerdasan, intelektual dan spiritual. Perpaduan dua kecerdasan ini akan melahirkan kepemimpinan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada siapa pun dan kapan pun. Tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat di depan Allah swt.

 Pemimpin berkarakter Nabi
Di negara yang mayoritas muslim ini kita merindukan sesosok pemimpin yang berkarakter Nabi. Pemimpin yang tidak hanya cerdas intelektualnya, tetapi juga mulia kepribadiannya. Kita merindukan pemimpin yang tidak hanya memimpin dengan otak, tetapi juga dengan hati. Hari ini kita tidak kekurangan pemimpin cerdas, tetapi kita miskin pemimpin yang menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Cerdas harus dibarengi dengan jujur dan amanah. Sebab, cerdas tanpa jujur hanya akan melahirkan perampok-perampok jenius yang mampu merampok tanpa ketahuan. Cerdas tanpa amanah hanya akan melahirkan pemimpin mati rasa. Pemimpin yang tidak sensitif dengan jeritan rakyat jelata. Hidup dalam kemewahan di atas air mata dan penderitaan rakyatnya sendiri.

Harus kita akui bahwa pemimpin di negeri kita saat ini miskin integritas. Kemerosotan integritas ini dipicu oleh buruknya model kepemimpinan para pemimpin kita. Sehingga tidak mengherankan jika oposisi di negara kita lebih berwibawa dari incumbent. Maka perayaan maulid nabi ini harus menjadi momentum bagi pemimpin kita untuk berobah.

Tidak gampang memang bagi kita meniru model kepemimpinan nabi. Namun sesungguhnya tidak ada yang mustahil di dunia ini kecuali ada keenggenan untuk berobah. Menjadi pemimpin adalah pilihan paling beresiko. Sebagaimana kata pepatah, the Lauden is Laiden, kekuasaan adalah jalan menuju penderitaan. Namun semua tergantung kita.

Dalam konteks Ke-Aceh-an kita berharap semoga proses Pemilukada yang sudah di depan mata akan menjadi momentum untuk menuju Aceh yang lebih baik. Kita harus selalu memohon kepada Rabb, semoga pemimpin yang terpilih ke depan adalah pemimpin yang baik, pemimpin yang mampu mengembalikan Aceh ke era kejayaan. Semoga!

* Penulis adalah Kordinator Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA).
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas