Home »

Opini

Opini

Model Kepemimpinan Ideal

Lahir sebagai yatim dari keluarga yang tak berada, tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah penyembah berhala

Oleh Ihsan M Jakfar

PADA 12 Rabiul Awal 15 abad silam, putra Abdullah bin Abdul Muthaleb itu lahir di tetandusan jazirah Arab. Lembah yang merekam sejarah kelam kehidupan masyarakat jahiliyah. Lahir sebagai yatim dari keluarga yang tak berada, tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah penyembah berhala, dan dalam kodisi kehidupan sosial yang memprihatinkan.

Di tengah keheningan kota Mekkah yang dibalut remang-remang pagi menjelang subuh, cahaya yang disertai bau harum itu sesumburat dari rumah Aminah. Seketika kota Mekkah menjadi terang benderang, patung-patung berhala sesembahan kaum Jahiliyah berjatuhan. Orang-orang Mekkah menjadi tercengang dan bertanya-tanya gerangan apa yang melanda kota Mekkah pagi ini?

Ternyata, keganjilan itu adalah isyarat Yang Maha Kuasa bahwa Mekkah kedatangan sesosok anak manusia, kesayangan Aminah, jantung hati Abdullah yang datang membawa risalah untuk mengembalikan manusia kepada fitrah. Tidak ada yang menyangka bahwa Muhammad saw kelak akan menjadi manusia pengukir sejarah dunia.

Siapa sangka peradaban dunia Islam tumbuh berkembang dari tanah yang dihuni oleh masyarakat Jahiliyah. Sebuah komunitas yang dulunya menganut hukum rimba. Di mana kekuatan otot menjadi andalan untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bayi-bayi yang lemah dibantai dengan biadab. Perempuan dilecehkan. Praktek judi dan mabuk-mabukan merajalela.

Kesuksesan dan prestasi yang beliau raih bukan proses alam yang didapati sambil memangku tangan. Ada alasan yang kuat mengapa dalam kurun waktu yang relatif singkat, 23 tahun (13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah), beliau mampu mengubah lembah gelap jazirah Arab menjadi sumber cahaya yang mampu menyinari belahan dunia.

Dalam waktu sesingkat itu juga beliau berhasil melahirkan sederetan pemimpin dunia yang namanya masih dikenang sampai sekarang. Misalnya, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thaleb dan masih banyak tokoh-tokoh lain. Adalah model kepemimpinan Rasulullah yang dibimbing wahyu ilahi yang menjadi alasan dibalik kesuksesan itu semua.

 Krisis kepemimpinan
Melihat berbagai problematika yang terus melilit bangsa ini. Di mana setelah 67 tahun bangsa ini merdeka, krisis kepemimpinan masih menjadi problema yang tak kunjung terselesaikan. Kita kebanjiran politisi tapi miskin negarawan. Kekuasaan dan jabatan masih dipandang sebagai lahan empuk untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Mensejahterakan, memakmurkan rakyat hanya sebatas jargon yang diteriakkan pada saat kampanye. Problem multidimensi itu membuat bangsa ini seakan kehilangan arah. Maka sudah semestinya kita kembali bercermin pada sejarah pelayaran hidup baginda Nabi sebagai iktibar dan untuk kemudian dijadikan tauladan oleh segenap lapisan bangsa.

Sebuah kesimpulan yang sangat penting ditarik dari kepemimpinan Muhammad saw adalah bahwa sebagai seorang pemimpin beliau memiliki integritas (integrity) yang tinggi. Beliau membangun integritas bukan lewat setelan jas, dasi dan sepatu mengkilat. Bukan juga dengan pencitraan melalui media atau kampanye yang sarat manipulasi. Namun integritas itu lahir dari keluhuran budi dan kemuliaan akhlak yang beliau miliki.

Setidaknya ada bebrerapa sifat yang sangat menonjol dari pribadi seorang Muhammad saw. Pertama, jujur dan amanah (trust). Tidak ada yang meragukan kejujuran dan amanah Muhammad saw. Sikap jujur dan amanah sudah terbangun dalam diri rasul sejak usia belia. Sehingga jauh hari sebelum beliau diangkat menjadi rasul, orang-orang Arab sudah menggelar beliau dengan sebutan al-amin.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: hasyim
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help