Andaman Disangka Sabang

CERITA terdamparnya tiga nelayan asal Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Nurmansyah (24) selaku nahkoda

CERITA terdamparnya tiga nelayan asal Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Nurmansyah (24) selaku nahkoda, dan dua awak boat Junaidi (24) dan Muhibuddin Aiyub (22), ternyata cukup dramatis dan sedikit kocak.

Menurut penuturan ketiganya kepada Serambi, awalnya mereka berencana memancing ikan tuna di perairan Sabang, sekira 12 kilometer arah selatan Pulo Rondo. Pada malam hari itu, mereka mengaku cukup senang karena telah menangkap lima ekor tuna dengan berat rata-rata sekira 50 Kg, atau hampir sebesar ukuran manusia remaja. Apalagi, Sang Nahkoda Nurmansyah saat itu sangat butuh uang untuk menikah tahun ini.

Hari itu (28/12/2011) sekira pukul 04.00 WIB, mereka tak sadar, boat berkapasitas 32 PH tanpa GPS itu sudah makin jauh ke tengah laut, bahkan mendekati India. Tiba-tiba mesin boat mati. Dicoba  untuk dihidupkan berkali-kali namun gagal. Akhirnya terpaksa pasrah dan berdoa kepada Allah.

Cuaca laut saat itu terbilang ekstrim karena ketinggian ombak mencapai dua meter. Mereka pun hanyut hingga empat hari. Pada hari keempat, mereka mulai melihat sebuah pulau. Mengetahui ombak makin besar dan khawatir membentur karang, mereka pun lompat ke laut.

“Kami melompat ke laut dan kapal kami kemudian hancur membentur karang. Akhirnya kami berenang dalam ombak setinggi dua meter. Jarak kami ke pulau mungkin hanya sekira satu kilometer. Namun karena ombak besar, kami terombang-ambing dan baru sampai setelah berenang satu jam,” kata Nurmansyah.

Saat berenang, mereka mengaku sempat saling mengingatkan akan tipikal ombak besar sehingga berhati-hati. Mereka mengaku tak sempat memikirkan apapaun selain berupaya sampai pulau sambil terus berdoa. Sampai di daratan, mereka pun ditolong masyarakat dan diserahkan ke polisi setempat.

“Saat tiba di pulau itu, saya pikir kami sudah di Sabang, karena daratannya mirip. Saya sempat ucapkan salam namun orang yang menolong kami tak menjawab. Kami baru sadar saat melihat tanda titik merah di kening penduduk wanitanya. Baru kami tahu ini di India,” kata Nurmansyah didampingi kedua rekannnya.

Selanjutnya, barulah mereka diperiksa oleh pihak polisi air dan imigrasi setempat dengan bahasa India. Karena tak mengerti bahasa India, ketiga nelayan ini hanya bisa menyebut Aceh dan Indonesia. Pihak imigrasi pun mendatangkan pihak Kedutaan Indonesia di India, sehingga mereka bisa menjelaskan identitasnya, dan berita tentang terdamparnya mereka langsung disampaikan ke pihak Panglima Laot Aceh Utara.

Di India, mereka mengaku diperlakukan dengan baik meski hanya diberi makan dua kali sehari, dengan menu yang asing di lidah mereka. Namun, pengalaman itu ternyata tak membuat Nurmansyah Cs jera. “Kami tak akan bosan melaut dan akan terus melaut, ujar mereka.(gun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved