Opini
Dunia Bunyi
Pagi cerah pukul 10.00 Wib di gedung Auditorium FKIP Unsyiah. Sedikit lelah mendaki tangga berlantai tiga
Pagi cerah pukul 10.00 Wib di gedung Auditorium FKIP Unsyiah. Sedikit lelah mendaki tangga berlantai tiga. Tanpa perintah otak, mata langsung menumbuk tulisan latar panggung: hidup berawal dari bunyi, harmoni, dan kompleks. Membaca hal itu, aku sadar bahwa bunyi adalah penanda menuju petanda awal mula kehidupan manusia. Kehidupan yang selaras, seimbang, dan terus berubah dalam proses demi segala yang dituju. Proses evolusi meniscayakan perkembangan yang relatif, kreatif, dan kompleks, menjadi tesis baru atas berbagai benturan dialektika soal-soal kehidupan.
Mengamati 15 reportoar musik mahasiswa FKIP Sendratasik, sepantasnya diberi apresiasi positif, karena hidangan musik yang menggetarkan. Sepintas amatan, seluruh komposisi musik kali ini telah mengalami perubahan dan perkembangan ke arah yang ebih baik, dibanding karya-karya mahasiswa angkatan sebelumnya yang lebih nakal dan berani. Kualitas pencapaian garapan, bentuk pada bunyi menawarkan kompleksitas nilai positif.
Finalisasi mata kuliah pementasan musik berbeda dari sebelumnya. Secara filosofis bukan hanya memproduksi untaian nada-nada indah yang sistematis, tetapi juga menjadi deretan nada (teks) penuh makna. Dramatika, tempo, ritma dan warna nada hanya bagian kecil dari reportoar musik untuk mendukung alur dan narasi sesuai konsep dan tema. Dunia bunyi tidak lagi diproduksi sekadar untuk capaian kebutuhan estetis, namun lebih menekankan pada makna psikologi (ruh) bunyi dalam struktur yang tersusun dari isi dan bentuk. Selain itu, beragam reportoar musik yang tersaji memiliki kekayaan sumber, juga unsur-unsur komposisi dalam usaha mewujudkan tema dan konsep. Eksplorasi medan bunyi yang tersusun bukan hanya untaian nada dengan bentuk yang lugas (A - B - C) atau ketat dan sistematik, semisal karya pra-klasik dan klasik. Jalinan harmoni dan perjalanan nada disusun dengan variasi birama/sukat (pola birama) yang berganti-ganti dalam setiap babak. Kolaborasi instrumen modern (Barat) dan tradisional (Aceh) membentuk atmosfir bunyi unik lagi berkarakter.
Penemuan medan bunyi yang saling bergantian mampu “meneror” dimensi memorial pendengar sekalian membangkitkan suasana imajis: jauh menusuk ke dasar emosi lalu menggedor memori sosial kita. Citra musikal seolah hadir membentuk medan magnet yang siap menarik segenap memori kolektif: wangi kuning pagi, anyir hutan tropis, pengab udara polutif akibat sesak kendaraan jalan raya serta asin wajah para nelayan dalam bingkai masyarakat semrawut. Juga mengajak penikmat mendaur-ulang saraf ingatan pada jejak sejarah heroik masyarakat Aceh lengkap berbagai pengalaman kasih sayang dan kesetiaan pada hidup. Komposisi-komposisi “realisme sosial” karya para mahasiswa Sendratasik FKIP Unsyiah berangkat dari studi lapangan, memakai pendekatan sosiologi dan antrapologi. Berbagai permasalahan yang ditemukan lalu diakumulasi menjadi konsep dan tema garapan musik. Dan dalam komposisi musikal kelak, mayoritas karya mampu menjadi medium representasi sosial masyarakat kontemporer. Musik akan lebih efektif sebagai pemadu kreatifitas dan idealisme para komponis muda berbakat itu. Karya musik mampu leluasa menjembatani dimensi psikologi komposer dengan memori penikmat untuk “merayakan’ pencerahan intelektual.
Satu contoh, karya bertajuk Spirit of Humanity. Yang menarik dari sana, komponis menggugat ketimpangan perilaku musikal serta mengkritisi selera estetik dunia bunyi masyarakat Banda. Dengan alur maju dan histeriografis mampu meneror pikiran dan imajinasi atas paradox sosial kita. Ringkasnya, masyarakat kota tengah galau dan tidak konsisten terhadap selera musik. Memiliki dua kebutuhan rasa musikal; tradisional dan modern, kolektival sekaligus individual, konvensional-kapital. Pengabungan berbagai instrumen musik modern dan tradisional membentuk suatu “dunia baru” dan mengubah makna jadi lebih kompleks. Sumber eksplorasi yang saling mengikat, berbagai ritma dinamik dalam perjalanan nada tanpa batas-batas yang ketat dalam skala dan pentatonic mayor-minor. “Dialog” instrumen musik di tingkat ritma-melodi lahir dari kerja sama antara pemusik sebagai usaha menghadirkan segmentasi struktur komposisi secara keseluruhan. Konstruksi struktur komposisi karya yang dibagi dalam tiga fase, dimana fase-fase yang ada memiliki relasi kuat membentuk dan mengisi “ruh” tradisi ke-aceh-an dan dunia modern. Proses penemuan materi musikal yang diolah sedemikian imbang adalah upaya penyatuan dua unsur (barat dan timur; Aceh) tanpa saling menghilangkan identitas masing-masing, tanpa menggilas karakter dan keunikan dua dunia bunyi.
Tidak seperti biasa dalam hidup yang banal. Sebaliknya, di luar pagar kampus kesenian, kepungan getaran nada dan gelombang bunyi pada indera pendengar kita, akhir-akhir ini di Aceh begitu “glamour” dan “cengeng”. Televisi dan media elektronik yang mereproduksi “musik Aceh” cenderung berkiblat pada industri yang takluk pada selera pasar semata. Total komersial dan “gampangan”. Musik Aceh tidak lagi merekam ihwal persoalan publik atau ketimpangan sosial, demoralisasi dan laku sosial abnormal. Konsep garapan dunia bunyi telah jauh meninggalkan pemiliknya (masyarakat) dan hilang militansi atas momen-momen politis, ekonomis serta kebudayaan dalam lingkup masyarakat yang sedang dirundung “mendung” panggung. Dunia bunyi kini jadi makmum pada kepentingan pemodal, kapitalis-pragmatis.
Sajian musik para komponis muda Sendratasik FKIP pada pagi cerah hingga sore itu, tergolong musik kritik. Mengkritik terhadap ketimpangan yang terjadi. Hal ini dapat diamati dari konsep dan tema yang digarap. Di samping itu para mahasiswa dalam melahirkan karya-karya tidak memikirkan keuntungan materi - finansial. Mereka telah berempati dalam menanggapi fenomena sosial, politik budaya, lingkungan, dan alam yang carut marut saat ini. Mereka menciptaan karya hanya untuk kepuasan jiwa, bukan untuk keuntungan yang diraih dari pasar (pembeli), walau biaya produksi melambung tinggi. Mencipta karya seni musik khususnya, bagi mereka adalah menyuarakan jeritan hati sebagai upaya mengakomodir permasalahan dan ketimpangan yang terjadi di masyarakat Aceh saat ini. Dari 15 reportoar yang tersaji, tidak memberikan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini. Saya teringat akan sosok Bob Marley yang menentang rasisme, sebagai wakil dunia musik yang mengantar masyarakat Jamaika ke zaman perubahan. Tidak jua seperti Iwan Fals dan Ebiet G. Ade dengan lirik-lirik yang melagukan kritik sosial, ekonomi, politik, gender, pelanggaran HAM, korupsi, nilai-nilai ke-Tuhan-an, bobroknya sistem birokrasi, kapitalisme pendidikan, dan sebagainya. Mereka semua menjadi “legenda” yang tidak lapuk dimakan zaman.
Sajian musik para komponis muda Sendratasik secara langsung telah mengkritik berbagai hal tentang prilaku buruk “kita” terhadap lingkungan, politik, ekonomi, fanatisme berlebihan, buruknya pendidikan (perilaku pengajar). Selain itu, meninggalkan satu pertanyaan besar: Bagaimana solusi yang diambil terhadap ketimpangan dan demoralisasi nilai-nilai kemanusiaan? Mereka juga menggugat “kita” tentang makna kebersamaan dan solidaritas kolektivitas masyarakat yang terpinggirkan. Dengan mengungkap ruang bawah sadar kita, berbagai ekspresi “meneror” kita, ketika medium kesenian lain tak mampu mengomunikasikan ide-ide. Keberhasilan ini tentu berkat kerja keras dan usaha para mahasiswa program mata kuliah pementasan musik, didukung seluruh mahasiswa Sendratasik. Di samping memang proses penemuan musikal para komponis muda tersebut dijalani dalam waktu yang relatif panjang hingga satu semester, kita juga sepakat bahwa dunia bunyi, musik kritik, tak bisa cepat-saji seperti McDonald.
* Anton Sabang, pengamat musik di Aceh