Jurnalisme Warga

Asa Pendidikan di Sekolah Darurat Serempah

Kehadiran Sukaelawan Pendidikan Sekolah Darurat Aceh dan Sumatra Utara di bawah naungan Yayasan Sukma Bangsa Bireuen yang memulai

Editor: mufti
Serambinews.com/IST
EKA MUNANDA, Sukarelawan Sekolah Darurat di Ketol, Aceh Tengah, melaporkan dari Acceh Tengah 

EKA MUNANDA, Sukarelawan Sekolah Darurat di Ketol, Aceh Tengah, melaporkan dari Acceh Tengah

Di tengah situasi darurat pascabencana, pendidikan tidak boleh berhenti. Prinsip inilah yang melandasi kehadiran Sukaelawan Pendidikan Sekolah Darurat Aceh dan Sumatra Utara di bawah naungan Yayasan Sukma Bangsa Bireuen yang memulai kegiatan pendidikan di lokasi pengungsian Desa Rejewali, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Kegiatan awal berlangsung 15 dan 17 Januari 2026 dan akan terus berlanjut hingga tiga bulan ke depan.

Kehadiran sukarelawan pendidikan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak pengungsi yang terdampak bencana di wilayah asal mereka.

Warga pengungsian yang kini menetap di Desa Rejewali berasal dari Desa Serempah, Kecamatan Ketol, yang untuk sementara waktu belum aman untuk dihuni.

Demi keselamatan, masyarakat Desa Serempah terpaksa mengungsi dan menempati bangunan pasar yang saat ini sudah tidak beroperasi lagi di Desa Rejewali.

Sebelum menuju lokasi sekolah darurat, para sukarelawan terlebih dahulu dibekali pelatihan di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen. Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan sukarelawan dalam memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak terdampak bencana.

Dalam konteks ini, ‘trauma healing’ menjadi pendekatan penting untuk membantu anak-anak merasa lebih tenang dan

bahagia, sekaligus mendukung proses pemulihan kondisi psikologis pascabencana yang tidak kalah mendesak dibandingkan pemulihan fisik.

Dukungan psikososial dasar dalam pendidikan darurat tidak berarti sebagai terapi atau

konseling mendalam. Pendekatan ini diwujudkan melalui kehadiran sukarelawan yang konsisten, penciptaan rutinitas yang dapat diprediksi, serta aktivitas sederhana yang memungkinkan anak-anak mengekspresikan diri secara aman.

Aktivitas seperti bermain, menggambar, dan bercerita ringan terbukti efektif dalam membantu anak-anak menyalurkan emosi dan mengalihkan perhatian dari rasa takut dan cemas.

Di sekolah darurat kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung untuk dua satuan pendidikan, yakni SD Negeri 10 Ketol dan SMP Negeri 44 Takengon.

Sebelum mengungsi, SD Negeri 10 Ketol berlokasi di Desa Serempah, sedangkan SMP Negeri 44 Takengon berasal dari Desa Bah.

Proses pembelajaran untuk jenjang SMP akan kembali berjalan normal mulai awal pekan depan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved