Jumat, 12 Juni 2026

Opini

'Kameng Kap Situek'

GENDERANG kampanye pilkada calon gubernur/wakil gubernur Aceh, calon bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota di 17 kabupaten/kota

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Nazarullah ZA

GENDERANG kampanye pilkada calon gubernur/wakil gubernur Aceh, calon bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota di 17 kabupaten/kota di Aceh, sudah ditabuhkan sejak 24 Maret 2012 lalu. Berbagai visi dan misi serta program kerja dipaparkan secara terbuka dalam rapat umum itu. Para kandidat secara bergantian dengan para jurkam, berorasi dengan penuh semangat di depan para pendukungnya masing-masing.

Slogan untuk mensejahterakan rakyat Aceh, peningkatan mutu pendidikan, membuka lapangan kerja yang besar untuk rakyat, peningkatan di bidang ekonomi, memerangi kemiskinan, adalah slogan yang tidak asing lagi keluar dari mulut mereka. Para pendukungnya pun seperti terhipnotis mendengarkan paparan juru kampanye, yang sesekali diiringi dengan yel-yel hidup untuk partai dan pasangan kandidat, bergemuruh di arena kampanye.

Namun yang menjadi pertanyaan hari ini, akankah janji-janji yang disampaikan dalam kampaye itu akan menjadi pemanis bibir saja untuk para jurkam dan pasangan kandidat? Karena selama ini, semua ucapan yang mereka sampaikan dalam kampanye sangat sedikit yang terealisasi ketika pasangan itu terpilih menjadi gubernur, bupati, atau wali kota. Pemimpin yang mereka pilih lewat pilkada, ternyata tak sedikit yang kemudian ingkar janji dan tidak pro-rakyat.

Setelah terpilih, mereka kerap lupa dan mengabaikan kepentingan rakyat banyak yang memilihnya serta mengelu-elu mereka selama masa kampanye. Malahan, kepentingan kelompok lebih diutamakan dan hidup subur dengan membagikan “kue” kekuasaan. Raja-raja kecil dan premanisme bertambah subur, pembagian wilayah kekuasaan dan bagi-bagi proyek untuk memperkaya pribadi dan golongan (partai) terpampang di depan mata masyarakat.

Masyarakat Aceh tidak menuntut banyak dari gubernur/bupati dan wali kota yang terpilih, tapi mereka hanya meminta kepada mereka untuk bisa membuat rakyat bisa hidup sejahtera. Sejahtera bidang ekonomi, sejahtera di bidang kesehatan dan sejahtera pula di sektor pendidikan. Artinya, rakyat Aceh hanya menuntut untuk bisa hidup di negeri yang kaya ini menjadi manusia yang kuat perkasa, karena sehat dan berilmu pengetahuan yang luas, bastathan fil ‘ilmi wal jismi. Cerdas dan punya tubuh yang sehat untuk mencari rizki yang halal.

Kampanye mendidik
Dalam pelaksanaan kampanye terbuka, benturan dan gesekan antar tim sukses dan para pendukung masing-masing kandidat sepertinya selama ini sangat sulit dihindari. Padahal, kampanye yang santun, menghindari kekerasan serta tidak menjelek-jelekkan kandidat yang lain adalah sebuah impian yang sangat diharapkan oleh semua masyarakat Aceh. Pilkada tanpa konflik adalah dambaan rakyat.

Berkampanye secara santun dengan menyampaikan visi dan misi serta program-program kerja kandidat lima tahun ke depan, tentunya akan membuat masyarakat Aceh menjadi cerdas dalam bersikap dan tidak ikut-ikutan lagee kameng kap situek (seperti kambing gigit pelepah pinang-ed). Adu program antarcalon selama kampanye, akan menggiring masyarakat pemilih untuk menentukan sikap pada hari pencoblosan 9 April 2012.

Aceh adalah Serambi Mekkah, bumi Iskandar Muda dan negeri bersyariat. Pantauan negara asing dan daerah-daerah yang lain akan menjadi taruhan untuk mengkampanyekan Aceh yang bermartabat dan cinta damai di mata dunia. Amerika yang mayoritas Kristiani dan Yahudi, bisa santun dalam berkampanye, mengapa kita yang cucu para ulama terkenal dan penduduk bersyaria’at Islam tidak bisa santun dan damai? Ironis bukan?

Padahal, setiap selesai shalat lima waktu, kita selalu membaca “Allahumma anta as-salam, wa minka as-salam wa ilaika ya’uudu as-salam fahayyina rabbana bi as-salam, wa adklilna al-jannata daara as-salam.” Daara as-salam (Darussalam) adalah negeri yang cinta akan kedamaian, sebagaimana impian nenek moyang kita memeberikan nama Aceh dengan nama “Nanggroe Aceh Darussalam”, Subhaanallah!

Para jurkam dan kandidat yang berkampanye, pasti akan terasa hambar dalam penyampaian orasi jika simpatisan dan peserta kampanye tidak hadir dalam mendengarkan penyampaian visi dan misi. Kehadiran masyarakat dalam arena kampanye adalah dambaan semua jurkam dan kandidat pemimpin. Tanpa mereka, orasi yang disampaikan akan tidak punya makna sama sekali. Oleh karena itu, kita juga berharap kepada para pendukung dan masyarakat simpatisan yang hadir untuk bisa berlaku sopan dan juga tidak anarkis.

Prilaku ugal-ugalan di jalan raya, mengeluarkan bahasa-bahasa yang jorok sepanjang perjalanan ke arena kampanye untuk pengguna jalan yang lain adalah salah satu wujud dari tidaknya berpendidikan. Simpatisan kampanye yang santun adalah cerminan masyarakat Aceh yang bermartabat, tertib berlalu lintas adalah tanda masyarakat Islami.

Ugal-ugalan di jalan raya dan melanggar rambu lalu lintas justru akan menghadirkan mala petaka bagi dirinya (pesrta kampanye), dan masyarakat pengendara yang lain. Ingat, nyawa kita tidak bisa di isi ulang seperti pulsa, nyawa yang melayang karena ugal-ugalan di jalan raya tidak bisa dibeli di “SPBU” seperti mengisi bensin untuk kenderaan. Makanya, jangan pertaruhkan sekerat nyawa kita dalam menghadiri kampanye dan mendukung salah satu kandidat pemimpin, karena kematian kita di sana bukanlah syahid.

Jadilah khadam rakyat
Kepada para kandidat, berkampanyelah kepada masyarakat Aceh dengan mendidik dan didiklah masyarakat Aceh lewat berkampanye. Jika nantinya anda terpilih menjadi pemimpin Aceh atau pemimpin di kabupaten/kota, layani masyarakat dengan sepenuh hati, karena anda adalah khadam (pembantu) untuk rakyat Aceh. Karena rakyat yang telah membuat anda menjadi pemimpin mereka untuk lima tahun ke depan.

Dan kepada masyarakat yang telah berhak memberikan suara, pilihlah kandidat pemimpin yang anda senangi karena program kerja yang mereka sampaikan waktu masa kampanye yang berorientasi mensejahterakan masyarakat banyak dan bukan karena lage kameng kap situek, atau seperti boh trueng lam ji ei (terong dalam alat penampi beras-ed), yaitu memilih kandidat pemimpin itu karena ikut-ikutan.

Terakhir, siapa pun yang terpilih nantinya, itulah pemimpin Aceh/kabupaten/kota. Berikan kesempatan kepada yang terpilih untuk merealisasikan janjinya selama kampanye kepada masyarakat. Kandidat yang meraup suara terbanyak pada hari pencoblosan, akan menjadi pemimpin bagi rakyat dan juga menjadi pemimpin bagi pasangan calon gubernur/bupati/wali kota yang belum berhasil. Semoga Pilkada Aceh 2012 ini, bukan ajang untuk peupilu hati masyarakat Aceh lagi.

* Nazarullah ZA, S.Ag, Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan, Universitas Syiah (Unsyiah) Banda Aceh. Email: nazarnurza@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved