Kupi Beungoh
Rupiah Jatuh karena Ikut Kabur
Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.
- Penurunan nilai rupiah dipicu oleh faktor risiko domestik dan rendahnya kepercayaan pasar terhadap kepastian hukum serta stabilitas politik.
- Data menunjukkan lonjakan transfer dana dari Indonesia ke Singapura sebesar 187,7 persen pada semester I/2024.
- Investor cenderung memindahkan aset ke luar negeri karena mencari keamanan dan kredibilitas kebijakan yang lebih stabil.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid
Rupiah sedang menulis salah satu halaman paling muram dalam sejarahnya. Pada Juni 2026, nilainya sempat menembus kisaran Rp18.188–Rp18.209 per dolar AS, level terlemah secara nominal.
Pemerintah boleh berkata ini bukan 1998, dan itu benar: sistem kurs berbeda, perbankan lebih kuat, cadangan devisa masih tersedia.
Tetapi rekor tetap rekor. Ia bukan sekadar angka di papan kurs, melainkan bahasa pasar yang sulit dibantah: ada sesuatu dari rumah bernama Indonesia yang sedang diragukan.
Di sinilah ironi #KaburAjaDulu menemukan makna ekonominya. Tagar itu lahir dari keresahan anak muda atas pekerjaan yang sempit, upah yang tertinggal, pendidikan yang mahal, dan masa depan yang terasa makin berat.
Ketika sebagian kekuasaan menjawab dingin, “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi,” pasar seolah ikut mendengar.
Kini, yang ikut kabur bukan orang saja, tetapi juga kepercayaan yang menopang rupiah: lewat pembelian valas, transfer dana, pemindahan aset, portofolio yang mencari tempat aman, dan devisa yang enggan pulang.
Maka pertanyaan paling tajam bukan sekadar mengapa rupiah jatuh, melainkan mengapa ia merasa lebih tenang berada di luar daripada tinggal di rumah sendiri?
Rupiah Jatuh Sendiri
Alasan paling mudah selalu sama: dolar sedang kuat, harga minyak naik, pasar global bergejolak, investor mencari aset aman. Semua benar, tetapi tidak cukup.
Menyalahkan dolar terlalu nyaman. Ia seperti menyalahkan hujan saat atap rumah sendiri bocor.
Data global menunjukkan kebocoran itu. Indeks dolar AS hanya naik sekitar 1,67 persen sejak awal tahun. Pada periode yang sama, nilai dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 7,33 persen, bahkan secara tahunan sekitar 10,24 persen.
Artinya, rupiah jatuh jauh lebih dalam daripada penguatan dolar itu sendiri. Rupiah bukan sekadar terseret arus global; ia membawa beban risikonya sendiri.
Di ASEAN, luka itu lebih terang. Nilai dolar AS terhadap rupiah naik sekitar 7,33 persen, jauh di atas kenaikannya terhadap baht Thailand sekitar 4,62 persen, peso Filipina sekitar 4,17 persen, ringgit Malaysia sekitar 0,30 persen, dolar Singapura sekitar 0,15 persen, dan dong Vietnam sekitar 0,08 persen.
Jika dolar benar-benar satu-satunya biang masalah, semua mata uang kawasan semestinya jatuh dengan luka yang hampir sama. Faktanya tidak. Pasar sedang membedakan Indonesia dari tetangganya.
| Menyoal Kerugian Negara dari Praktik Under Invoicing SDA |
|
|---|
| Belajar Menjahit Sambil Kuliah: Kini Riki Punya Usaha Konveksi Sendiri |
|
|---|
| Belum Sembuh dari Corona, Membedah Trauma Kolektif Penonton Berita Hantavirus |
|
|---|
| Rp 1.620 Triliun untuk MBG, Mengapa Bukan untuk Menghidupkan Dapur Rakyat? |
|
|---|
| Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)