Selasa, 28 April 2015
Home » Opini

Buaian Slogan Kampanye

Kamis, 5 April 2012 09:58

SELAMA hampir dua pekan, masyarakat Aceh “dihipnotis” dengan berbagai slogan kampanye dari para calon pemimpin Aceh dalam pemilukada 2012. Aneka kata dan kalimat dirangkai dengan sangat baik, dicampuri dengan berbagai pantun Aceh dan ajakan untuk mencoblos nomor si calon tersebut. Namun, setelah terpilih, apakah slogan yang indah dan memikat tersebut menjadi kenyataan?

Sloganisasi dalam kampanye pemilihan kepala daerah sesungguhnya bukanlah hal yang baru sejak terbukanya arus demokratisasi di Indonesia. Kesempatan seluas-luasnya bagi setiap individu masyarakat untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin adalah sesuatu yang positif sebagai keinginan untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya kelak.

Penggunaan slogan dalam berbagai medium kampanye dianggap menjadi ujung tombak bagi kesuksesan sepasang calon untuk merebut hati nurani rakyat. Efektifitas slogan kampanye dikarenakan slogan berisikan perkataan atau kalimat menarik, mencolok, singkat dan mudah diingat untuk menyampaikan sesuatu kepada publik. Slogan yang dibuat dalam kampanye juga memiliki sasaran massa atau masyarakat yang dituju, sehingga keragaman slogan pun akan menjadi senjata ampuh untuk menarik perhatian publik.

Namun, kenyataan yang selama ini terjadi, slogan yang indah tersebut hanya menjadi pelengkap dari kemeriahan kampanye. Slogan-slogan yang dibuat pun hanya sekedar pemanis kata yang dirangkai dan “diolah” oleh tim sukses dari si calon pemimpin tersebut. Bahkan, di beberapa tempat, para calon kepala daerah mengundang konsultan swasta untuk menyiapkan konsep slogan kampanye yang dibuat dengan berbagai desain grafis, foto gambar pasangan calon yang sudah dipermak dan berbagai bumbu pemanis lainnya.

 Untuk pencitraan
Kenyataan lainnya, slogan dalam kampanye juga seringkali hanya berorientasi untuk memikat publik, membuat pencitraan si calon pemimpin dan memberikan mimpi bagi rakyat. Sehingga rakyat diharapkan dapat terpikat dan yakin dengan pencitraan dan janji yang dibuat para pasangan calon. Alangkah disayangkan, jika uang kampanye pencitraan para pasangan calon yang dihabiskan begitu besar hanya sekedar untuk menarik perhatian publik dan mensejahterahkan para konseptor dari para tim sukses pasangan calon.

Rakyat saat ini seharusnya juga memahami bahwa sloganisasi dalam kampanye para kandidat kepala daerah di pemilukada Aceh 2012 bukanlah sesuatu yang nyata terjadi. Karena antara kata-kata yang diungkapkan dengan pekerjaan yang dilakukan merupakan dua hal yang berbeda.

Para pemilih juga sudah saatnya tidak terjebak dan terbuai dengan janji-janji kampanye manis dan indah sebagai realisasi dari slogan yang dibuat para kandidat kepala daerah. Slogan yang dibuat tersebut sesungguhnya bukanlah tolak ukur utama untuk melihat kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi seorang pemimpin. Tolak ukur yang paling mudah, padahal dari prilaku dari si pemimpin tersebut dalam kehidupan kesehariannya, baik di lingkungan tempatnya bekerja, maupun dalam sosialisasinya di masyarakat.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas