Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Buaian Slogan Kampanye

Kamis, 5 April 2012 09:58 WIB

Oleh Ruslan dan Ajidar Matsyah

SELAMA hampir dua pekan, masyarakat Aceh “dihipnotis” dengan berbagai slogan kampanye dari para calon pemimpin Aceh dalam pemilukada 2012. Aneka kata dan kalimat dirangkai dengan sangat baik, dicampuri dengan berbagai pantun Aceh dan ajakan untuk mencoblos nomor si calon tersebut. Namun, setelah terpilih, apakah slogan yang indah dan memikat tersebut menjadi kenyataan?

Sloganisasi dalam kampanye pemilihan kepala daerah sesungguhnya bukanlah hal yang baru sejak terbukanya arus demokratisasi di Indonesia. Kesempatan seluas-luasnya bagi setiap individu masyarakat untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin adalah sesuatu yang positif sebagai keinginan untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya kelak.

Penggunaan slogan dalam berbagai medium kampanye dianggap menjadi ujung tombak bagi kesuksesan sepasang calon untuk merebut hati nurani rakyat. Efektifitas slogan kampanye dikarenakan slogan berisikan perkataan atau kalimat menarik, mencolok, singkat dan mudah diingat untuk menyampaikan sesuatu kepada publik. Slogan yang dibuat dalam kampanye juga memiliki sasaran massa atau masyarakat yang dituju, sehingga keragaman slogan pun akan menjadi senjata ampuh untuk menarik perhatian publik.

Namun, kenyataan yang selama ini terjadi, slogan yang indah tersebut hanya menjadi pelengkap dari kemeriahan kampanye. Slogan-slogan yang dibuat pun hanya sekedar pemanis kata yang dirangkai dan “diolah” oleh tim sukses dari si calon pemimpin tersebut. Bahkan, di beberapa tempat, para calon kepala daerah mengundang konsultan swasta untuk menyiapkan konsep slogan kampanye yang dibuat dengan berbagai desain grafis, foto gambar pasangan calon yang sudah dipermak dan berbagai bumbu pemanis lainnya.

 Untuk pencitraan
Kenyataan lainnya, slogan dalam kampanye juga seringkali hanya berorientasi untuk memikat publik, membuat pencitraan si calon pemimpin dan memberikan mimpi bagi rakyat. Sehingga rakyat diharapkan dapat terpikat dan yakin dengan pencitraan dan janji yang dibuat para pasangan calon. Alangkah disayangkan, jika uang kampanye pencitraan para pasangan calon yang dihabiskan begitu besar hanya sekedar untuk menarik perhatian publik dan mensejahterahkan para konseptor dari para tim sukses pasangan calon.

Rakyat saat ini seharusnya juga memahami bahwa sloganisasi dalam kampanye para kandidat kepala daerah di pemilukada Aceh 2012 bukanlah sesuatu yang nyata terjadi. Karena antara kata-kata yang diungkapkan dengan pekerjaan yang dilakukan merupakan dua hal yang berbeda.

Para pemilih juga sudah saatnya tidak terjebak dan terbuai dengan janji-janji kampanye manis dan indah sebagai realisasi dari slogan yang dibuat para kandidat kepala daerah. Slogan yang dibuat tersebut sesungguhnya bukanlah tolak ukur utama untuk melihat kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi seorang pemimpin. Tolak ukur yang paling mudah, padahal dari prilaku dari si pemimpin tersebut dalam kehidupan kesehariannya, baik di lingkungan tempatnya bekerja, maupun dalam sosialisasinya di masyarakat.

 Modal penting
Oleh karenanya, rekam jejak (track record) dari para individu para pasangan calon pemimpin seharusnya menjadi fokus bagi kita untuk menjadi dasar pertimbangan dalam memilih. Karena rekam kepemimpinan, pengalaman dan kepribadian dalam bersosialiasi di tengah masyarakat itulah yang menjadi modal penting bagi seorang pemimpin untuk dapat mengayomi, mengabdi dan mencurahkan segala pikirannya kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Pengalaman di banyak tempat cukuplah menjadi pelajaran bagi kita bahwa pemimpin ‘karbitan’ yang hanya muncul pada musim kampanye dan memoleskan pencitraan dirinya dengan sloganisasi yang menarik dan dukungan “gizi” kampanye yang gemuk tidak memberi arti apa-apa bagi masyarakat. Bahkan kenyataan yang terjadi justru setelah pemimpin tersebut menjadi kepala daerah, slogan yang ditulis dan dibuat di berbagai medium hanya menjadi sampah setelah kampanye usai. Praktek korupsi untuk mengayakan dirinya dan kelompok pemberi jasanya pada saat kampanye tetap berjalan dengan berbagai cara.

Slogan yang memikat dalam kampanye pemilukada Aceh 2012 patutlah dipahami dan dikritisi secara lebih mendalam. Artinya, masyarakat sudah saatnya merubah pola pikir bahwa slogan yang dibuat oleh para calon pemimpin tersebut, meskipun menarik hati dan menyentuh perasaan kalbu, bukanlah segala-galanya untuk menjadi tolak ukur baginya untuk memilih pasangan tersebut.  

 Jauh dari harapan
Jika masyarakat terbuai dan terbius hanya dengan sloganisasi dari kampanye pasangan pemimpin tersebut, maka pada akhirnya akan lahir pemimpin yang hanya besar dari pencitraan politik kampanye semata dan jauh dari harapan hakiki jutaan masyarakat. Bukan hanya itu, buaian slogan kampanye para pemimpin tersebut seringkali jauh antara janji dan kenyataan sebenarnya yang terjadi.

Oleh karena itu, patutlah bagi kita merenungi hadih maja Aceh yang berbunyi: “Watee jihiem timphan wate jipeureugam ka bada (ketika dijanjikan timphan, ketika dikasih ternyata pisang goreng). Artinya janganlah kita menjadi orang yang tertipu dengan pemimpin yang ketika dijanjikan sangat muluk, namun ketika diberikan ternyata sangat bertolak belakang.

* Ruslan dan Ajidar Matsyah
, keduanya Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. E-mail: rsalan@yahoo.com
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas