Kupi Beungoh
Ketika Mimbar Menasihati Korban, tetapi Membisu kepada Pelaku
Yang salah adalah ketika nasihat hanya diarahkan kepada korban, sementara pelaku ketidakadilan tidak pernah disentuh.
Oleh: Alwy Akbar Al Khalidi
ADA satu fenomena yang terus berulang di negeri ini. Ketika rakyat kecil terjepit oleh keadaan, sebagian mimbar agama justru datang membawa nasihat kesabaran. Ketika harga kebutuhan pokok naik, mereka diminta qana’ah. Ketika lapangan kerja sempit, mereka diminta tawakal. Ketika hak-hak mereka dirampas, mereka diminta ikhlas.
Nasihat itu tidak salah.
Yang salah adalah ketika nasihat hanya diarahkan kepada korban, sementara pelaku ketidakadilan tidak pernah disentuh.
Kita sering mendengar ceramah tentang pentingnya zuhud bagi orang miskin. Tetapi jarang sekali terdengar khutbah tentang keserakahan orang kaya. Kita sering mendengar ajakan menerima takdir, tetapi sangat sedikit mimbar yang berani membahas tentang korupsi, monopoli, manipulasi kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap amanah publik.
Agama akhirnya berubah menjadi obat penenang sosial. Ia tidak lagi menjadi cahaya yang menerangi jalan keadilan, melainkan sekadar alat untuk membuat rakyat menerima keadaan apa adanya.
Padahal sejarah para nabi menunjukkan hal yang berbeda.
Nabi Musa tidak hanya mengajarkan sabar kepada Bani Israil. Ia juga menghadapi Fir’aun.
Nabi Ibrahim tidak hanya mengajarkan tauhid kepada rakyat. Ia juga menghancurkan simbol-simbol kesewenang-wenangan yang dipertuhankan oleh penguasa zamannya.
Nabi Muhammad SAW tidak hanya menghibur kaum dhuafa. Beliau juga mengecam para pembesar Quraisy yang menumpuk kekayaan dengan cara menindas yang lemah.
Dalam tradisi Islam, dakwah tidak pernah berhenti pada pembinaan moral individu. Dakwah juga berbicara tentang struktur ketidakadilan yang melahirkan penderitaan kolektif.
Karena itu, ada sesuatu yang terasa janggal ketika seorang khatib begitu fasih berbicara tentang kesabaran orang miskin, tetapi tidak pernah menyinggung pihak-pihak yang menyebabkan kemiskinan itu terus berlangsung.
Lebih janggal lagi ketika mimbar menjadi sangat berani mengoreksi rakyat kecil, tetapi mendadak kehilangan suara saat berhadapan dengan pemilik kekuasaan.
Mimbar yang seperti itu mungkin ramai. Mungkin disukai. Mungkin aman.
Tetapi belum tentu menjalankan fungsi profetiknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dai-Muda-Alwy-Akbar-Al-Khalidi.jpg)