Rabu, 10 Juni 2026

Opini

Saatnya Siaga

GEMPA bumi kuat kembali mengguncang Aceh dan sebagian besar daerah di wilayah pesisir Sumatera bagian barat

Tayang:
Editor: hasyim
Oleh Nani Eliza

GEMPA bumi kuat kembali mengguncang Aceh dan sebagian besar daerah di wilayah pesisir Sumatera bagian barat yang menghadap langsung ke Samudera Hindia pada Rabu (11/04/2012) sore. Gempa yang menurut BMKG berkekuatan 8.5 SR (8.6 SR menurut USGS) merupakan salah satu dari rentetan gempa-gempa, yang menurut para Ahli Geologi dan Geofisika, akan terus mengguncang wilayah-wilayah di sekitar Samudera Hindia dalam beberapa dekade mendatang.

Prediksi para ahli tersebut bukan tanpa dasar. Dengan kondisi geologi pulau Sumatera yang berada pada pertemuan dua lempeng benua paling aktif di dunia, yaitu Lempeng Australia dan Indo-Australia, serta jalur patahan sumatera yang membentang dari Aceh sampai Lampung, ancaman terhadap gempa dan tsunami merupakan sebuah risiko yang mau tidak mau harus kita hadapi bersama-sama.

 Terus merongrong
Sejak peristiwa gempa Aceh dengan skala 8.9 SR yang memicu gelombang maut tsunami 26 Desember 2004 lalu, gempa-gempa dalam skala besar terus menerus merongrong daerah pesisir Sumatera bagian barat setiap saat.

Sebut saja, misalnya, gempa Simeulue berkekuatan 7.1 SR pada 11 Januari 2012 lalu, gempa Nias berkekuatan 8.7 SR pada 2005, disusul gempa Bengkulu berkekuatan 7.9 SR pada 2007, gempa Padang berkekuatan 7.6 SR pada 2009, Gempa Sinabang berkekuatan 7.2 SR dan gempa Mentawai pada 2010, serta yang terakhir gempa Simeulue yang menghentakkan tidur kita dini hari lalu.

Menurut data dari USGS-NEIC (United States Geological Survey - National Earthquake Information Center) Amerika Serikat, dalam 7 tahun terakhir daerah-daerah di sepanjang pantai barat Sumatera mengalami gempa dengan magnitude besar yang lebih sering dari tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan salah satu pakar geologi dari LIPI, Dr Danny Hilman Natawidjaja, pascagempa Padang 30 September 2009 lalu, memprediksikan bahwa intensitas kejadian gempa yang semakin tinggi yang terjadi selama ini di bagian barat Sumatera dan selatan Jawa merupakan prekursor ke gempa yang lebih besar.

Hanya tinggal menunggu klimaksnya. Bisa jadi dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, atau bahkan dalam hitungan jam. Yang pasti desakan antara kedua lempeng tersebut sudah semakin matang dan tinggi intensitasnya.

 Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi Rabu (11/04/2012) sore? Menurut salah satu ahli geologi di TDMRC, Ibnu Rusydy MSc, jika dilihat dari mekanisme dan episenter terjadinya gempa, gempa yang terjadi sore itu, sama dengan gempa yang terjadi di Simeulue tiga bulan lalu.

Gempa tersebut tidak terjadi di zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia, melainkan di daerah Investigation Fracture Zone (IFZ) pada lempeng Indo-Australia. Pergerakan sesar geser di lempeng Indo-Australia inilah yang menjadi pemicu gempa tersebut. Biasanya gempa yang terjadi di daerah IFZ jarang sekali memicu tsunami karena pada sesar geser, jarang sekali terjadi dislokasi vertikal di lantai samudera.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tim Konsorsium Peneliti Tsunami TDMRC - BPPT - KKP - PT ASR yang tengah melakukan pelatihan simulasi tsunami di Bandung, Jawa Barat, pada saat gempa terjadi. Menurut rilis yang disampaikan oleh salah satu anggota tim konsorsium, Dr Eng Syamsidik, gempa tersebut terjadi di luar zona subduksi. Arah patahan bersumbu pada diagonal sumbu Timur Laut - Barat Daya dengan bidang fokal diperkiarakan sekitar 600-700 km. Arah ini memotong garis zona subduksi Indo-Australia ke dasar lempeng.

Gempa besar seperti sore Rabu kemarin, yang berada di luar zona subduksi, merupakan gempa sangat jarang terjadi terjadi dunia. Oleh karena itu, ini merupakan salah satu fenomena tersendiri dan sekali lagi membuktikan bahwa masih cukup banyak  hal yang tidak diketahui tentang zona ini sekalipun sudah banyak penelitian yang sudah dilakukan.

 Saatnya siaga
Dengan kondisi kegempaan yang tidak dapat diprediksi tersebut, ditambah lagi dengan kondisi pengelolaan bencana kita yang belum sepenuhnya diterapkan dengan baik, serta masih kurangnya kesadaran masyarakat dan pihak terkait terhadap isu-isu pengurangan risiko bencana, menjadikan kita seringkali lalai dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi gempa bumi. Sementara, gempa-gempa besar terus mencatatkan dirinya dalam sejarah.

Mari kita lebih peduli dan siap menghadapi ancaman yang secara nyata terus mengintai kita. Setiap kejadian adalah pembelajaran yang sesungguhnya. Saatnya kita siaga!

* Nani Eliza, Content Manager Assistant pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved