Rabu, 10 Juni 2026

Anak Seribu Ayah

AKU terkejut ketika menerima buku warna abu-abu. Ya, rapor Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pertama kuterima. Dalam buku itu disebutkan

Tayang:
Editor: bakri

Karya  Masriadi Sambo

AKU terkejut ketika menerima buku warna abu-abu. Ya, rapor Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pertama kuterima. Dalam buku itu disebutkan ibuku bernama Yuna, sedangkan di kolom nama ayah tidak tertulis nama siapa pun. Kolom itu kosong.

Mungkinkah aku ini anak yang lahir dari pecahan batu di rimba Tuhan? Atau aku ini anak yang lahir dari rahim bongkahan kayu di pegunungan Nusantara? Ah, aku tak tahu. Perlahan, bulingan jernih menetes di pipiku. Aku bingung siapa aku sebenarnya.  Langkahku gontai menuju gubuk tua Mak Saleha, orang yang selama ini kukira ibuku. Saat itu, Mak—begitu aku memanggil Mak Saleha--sedang di kebun.Wanita ringkih ini sudah tujuh tahun menemaniku sejak aku lahir.

Senyumnya menyambutku. Mak memagang parang kecil. Dia baru saja menyiapkan kayu bakar untuk masak sore nanti. Keringatnya memasahi baju kaos lusuh itu. Nafasnya terlihat ngos-ngosan. Mak letih. Ah, tak mungkin kutanyakan masalah Ayahku saat ini.

“Sudah pulang anak Mak? Bagaimana rapornya, biru semua atau ada merahnya?”

“Aku ranking satu, Mak. Tadi, Bu Ratih kirim salam pada Mak,” jawabku sambil duduk di samping Mak. Mak memperhatikan isian raporku. Dia tersenyum bangga.

“Harus pertahankan prestasi. Nanti, Mak buatkan kue bingkhang kesukaanmu,” kata Mak sambil merapikan kayu bakar.

***

Malam merangkak naik menuju puncak. Sinar bulan menerabas masuk lewat atap rumbia rumah kami. Aku tak bisa memejamkan mata. Kulihat Mak tertidur pulas. Dia terlalu letih hari ini. Selama ini Mak Saleha kupikir benar-benar orang tuaku. Setiap kali mengambil rapor SD sampai SMP dia selalu menyimpan rapor di lemari. Mak hanya mengatakan bahwa nilaiku baik dan harus dipertahankan.

Hari ini aku baru sadar, bahwa aku bukanlah anak Mak Saleha. Ibuku Yuna. Entah dimana wanita itu dan mengapa aku bisa telantar di sini. Mak terbangun dari tidurnya. Lalu, mengambil segelas air di meja samping tempat tidur.

“Kenapa belum tidur? Hayo, cerita sama Mak.”

“Mak...gini...aduh...gimana ya memulainya.”

“Mulai saja cerita. Mak siap membantu kamu, Dara”

“Tapi,  jangan marah?”

Sejurus kami terdiam. Mak menatapku dalam-dalam. Aku mulai bertanya siapa aku sebenarnya. Lalu, siapa Yuna? Mengapa nama ayahku tidak ada di kolom rapor? Mak terdiam. Wajahnya terlihat gelisah. Bingung.

“Mengapa Mak bohong selama ini?”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved