Rabu, 10 Juni 2026

Anak Seribu Ayah

AKU terkejut ketika menerima buku warna abu-abu. Ya, rapor Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pertama kuterima. Dalam buku itu disebutkan

Tayang:
Editor: bakri

“Aku tak mau kamu tahu sebenarnya Dara. Sudah puluhan tahun kusimpan rahasia ini. Cukup Mak saja yang tahu?” Mata tua itu mulai mengeluarkan air. Menetes perlahan membasahi pipi keriput. Mak mengatur nafasnya.

***         

Dulu, aku dan Makmu adalah tenaga kerja wanita (TKW) di Timur Tengah. Ibumu bernama Yuna. Ayahmu, aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Yuna bekerja sebagai pencuci pakaian di salah satu asrama milik perusahaan swasta di sana. Gajinya lumayan, Rp 5 juta per bulan, ditambah bonus dan tunjangan lembur. Ibumu wanita yang baik. Rajin ibadah, dan sangat mencintai kakek dan nenekmu. Semua uang yang dihasilkannya dikirim ke kampung. Tujuannya, agar kakek dan nenekmu tidak perlu menggarap sawah dan beternak seperti petani kebanyakan. Waktu itu kami satu tempat kos di sana.

 Di suatu pagi, Ibumu datang mencuci pakaian di tempat kerjanya. Saat itulah peristiwa itu terjadi. Ibumu diperkosa oleh puluhan pria yang menginap di situ. Ibumu pingsan. Tidak sadarkan diri tiga hari. Sembilan bulan kemudian, ibumu melahirkan di salah satu rumah sakit di sana. Dia tidak mau pulang kampung. Malu.

 Lalu, ketika usiamu setahun, aku dan ibumu sepakat pulang ke Indonesia. Kami pulang menggunakan boat ala kadar. Kami pendatang haram di Timur Tengah. Dalam perjalanan, kapal kami karam. 20 penumpang tenggelam. Ibumu salah satunya. Tidak ditemukan jenazahnya hingga kini. Sedangkan aku berhasil menyelamatkanmu. Sejak saat itu kuputuskan untuk menganggapmu anakku.

Aku bahkan tak tahu dimana alamat keluarga Ibumu di Pulau Jawa sana. Kuputuskan membawamu kemari. Ke desa ini. Seluruh warga kampung mencaciku. Menghujat dengan kata tak senonoh. Mereka mengira aku melacurkan diri dan pulang bawa anak jaddah. Kuacuhkan semua tuduhan itu. Bahkan, sampai kini, aku tak menikah, tak ada yang mau denganku. Mereka menganggap aku hina, tanpa tahu cerita sebenarnya.

Sakit memang. Meski begitu, aku tetap tabah. Bagiku, kamu amanah terindah yang dititipkan Tuhan. Aku harus merawatmu hingga dewasa. Tidak ada maksud untuk menipumu Dara. Aku terdiam. Mak juga diam. Kami lalu menangis.

Aku terpukul mengetahui takdirku. Ibuku entah dimana, ayahku entah siapa? Hidup memang penuh dinamika. Tak bisa diprediksi takdir Ilahi. Penuh teka-teki. Kurenungi takdir ini.

Aku ini anak jaddah dari lelaki bedebah. Namun, tak berguna mengumpat amarah, karena hidup penuh hikmah. Kini, aku bertahan, di lorong sunyi hati. Membenahi mental sejati, menyiapkan hidup yang terus berlanjut nanti. Aku anak seribu ayah.

Masriadi Sambo, penikmat sastra. Menetap di Lhokseumawe.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved