SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Merakyatnya DPR Australia

Kami disambut oleh seorang pemandu khusus parlemen. Dibawa keliling dan diperlihatkan seluruh bagian parlemen

Merakyatnya DPR Australia
MUHAMMAD ADAM, Peserta Moslem Exchange Program 2012, melaporkan dari Canberra
SAYA beserta rombongan Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (MEP) dari Indonesia mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Parliamentary House (PH) Australia pada 19 Juni 2012. Parliamentary House adalah DPR-nya Pemerintah Federal Australia yang berkedudukan di Kota Canberra. Canberra sendiri adalah “kota buatan” Pemerintah Australia sebagai ibu kota negara pada saat Melbourne dan Sydney bersiteru untuk menjadi ibu kota.

Kami disambut oleh seorang pemandu khusus parlemen. Dibawa keliling dan diperlihatkan seluruh bagian parlemen beserta orang-orang penting dalam pemerintahan Australia. Banyak hal yang menarik, mulai dari bangunannya yang sangat filosofis dan artistik, kegunaannya, sampai dengan anggota parlemennya.

PH dibangun di atas tanah seluas 32 hektare pada masa Ratu Elizabeth II yang kemudian juga meresmikannya pada 9 Mei 1988. Bangunan yang sangat artistik itu adalah hasil rancangan Romaldo Giurgola of Mitchell dan Giurgola & Thorp Architect.

PH berada di tempat yang sangat strategis. Kalau kita keliling Kota Canberra dari sisi apa pun tetap tampak gedung parlemen di tengah. Lokasinya memang berada di dataran agak tinggi, tampaknya memang menjadi simbol Kota Canberra dan Australia pada umumnya. Persis seperti Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol Kota Banda Aceh, sekaligus simbol masyarakat Aceh yang islami.

PH dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan Australia dan kedutaan negara-negara sahabat, termasuk Kedutaan Besar RI. Kami juga sempat menghadiri pertemuan dengan pihak kedutaan yang disambut oleh Wakil Dubes Indonesia untuk Australia.

PH berada persis di tengah-tengah Kota Canberra. Letaknya di daerah perbukitan. Menurut petugas yang memandu kami, sengaja dirancang demikian. Pesan yang ingin disampaikan bahwa posisi rakyat itu lebih tinggi dari pemerintah. Pemerintah harus memprioritaskan rakyat untuk melayani mereka sebaik mungkin. Bukan malah diminta melayani atau dihargai, karena mereka eksekutif.

Karena bangunannya yang sangat artistik dan mewah, banyak pengunjung yang datang setiap hari ke PH. Pengunjung yang datang tidak hanya dari dalam negeri Australia, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya itu, saya melihat banyak pengunjungnya pelajar SMP dan SMA. Mungkin saja mereka sedang belajar tentang ilmu sosial atau sejarah Australia, kemudian mengunjungi gedung parlemen langsung.

Menariknya lagi, PH menjadi sangat dekat dengan rakyat. Para pengunjung tidak sungkan-sungkan untuk masuk ke dalam gedung parlemen, karena itu adalah gedung perwakilan mereka. Bahkan gedung parlemen juga menjadi salah satu situs wisata bagi turis-turis domestik dan international. Hebatnya lagi mereka mempersiapkan petugas yang siap melayani setiap pengunjung dengan ramah untuk berkeliling ke seluruh bagian gedung.

Saat ini, ada 150 anggota DPR dan 76 senator yang mewakili setiap negara bagian di Australia. Setiap anggota perlemen dan senat mempunyai kantor di daerah masing-masing. Karenanya anggota parlemen sangat dekat dengan rakyat yang sudah memilih mereka. Masyarakat dapat langsung menyampaikan aspirasi, pendapat, atau masalah-masalah yang terjadi di daerah pemilihannya. Anggota senat dan DPR hanya bertemu pada waktu-waktu tertentu saja di PH untuk memusyrawarahkan permasalahan yang terjadi, membuat kebijakan, atau kepentingan-kepentingan publik lainnya.

Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help