Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026

Salam

Ditunggu, Pemimpin yang Merakyat

Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar yang terpilih dalam Pilkada 9 April lalu, Mukhlis Basyah dan Drs Syamsul Rizal MKes resmi dilantik

Tayang:
Editor: bakri
Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar yang terpilih dalam Pilkada 9 April lalu, Mukhlis Basyah dan Drs Syamsul Rizal MKes resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar periode 2012-2017 oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah di Gedung DPRK Aceh Besar, Selasa (3/7).

Gubernur Zaini mengingatkan bahwa sejak dilakukan pengambilan sumpah, bupati dan wakil bupati telah menjadi milik seluruh masyarakat. Makanya, bupati dan wabup wajib berlaku adil dan tidak menjadi pemimpin yang mengadu domba rakyat.

“Bupati dan Wakil Bupati harus mampu menyejahterakan rakyat secara adil dan merata, sehingga dapat mendukung peningkatan indeks pembangunan manusia yang dilakukan Pemerintah Aceh selama lima tahun ke depan.”

Apa yang diingatkan Zaini memang sesuatu yang sangat penting. Sebab, pengalaman selama ini, bukan hanya bupati dan wali kota, tapi gubernur dan wagubpun dicitrakan sebagai milik satu kelompok tertentu. Masyarakat yang tak termasuk kelompok itu menjadi terpinggirkan. Bahkan merasa seperti “anak tiri.”

Rakyat sekarang bukan hanya butuh pimpinan yang bisa memimpin tetapi juga bisa meluangkan waktunya lebih banyak bersama rakyat.  Bicara tentang pemimpin yang merakyat, sebagai muslim, mari kita simak kisah tentang keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz seperti pernah dicuplik seorang penulis. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz berada di satu majelis. Ketika tiba siang hari, ia gelisah dan merasa bosan. Ia lalu berkata kepada yang hadir, “Kalian tetap di tempat sampai saya kembali.”

Ia lantas masuk ke peraduannya untuk beristirahat. Tiba-tiba anaknya, Abdul Malik, mengingatkannya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan engkau masuk kamar?” Khalifah menjawab, “Saya ingin beristirahat sejenak.”

Putranya kemudian bertanya lagi, “Yakinkah engkau bahwa setiap kematian akan datang, sedangkan rakyatmu menunggu di depan pintumu, sementara engkau tidak melayani mereka?” Sang Khalifah pun terkejut. “Engkau benar, wahai anakku.” Ia lalu bangun dan menemui rakyat yang sedang menunggunya.

Kisah kepemimpinan itu telah membuktikan kepada sejarah bahwa pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah yang mampu mengesampingkan egoisme pribadi serta kelompoknya. Hati nurani rakyat dan nurani dirilah yang menjadi “pengawal” kepemimpinannya.

Dan, hanya pemimpin berhati nurani yang mau ‘mewakafkan’ jiwa dan raganya untuk berdedikasi demi kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan umat serta bangsanya. Pemimpin berhati nurani dan tulus akan selalu memberi layanan prima bagi rakyatnya.

Persoalan di baliknya adalah mentalitas. Yakni semangat yang menggerakkan pola kepemimpinannya menjadi sebuah kepemimpinan yang merakyat. Ya, kepemimpinan yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat, bukan kepemimpinan yang lebih menyentuh kebutuhan para elit politik dan golongan menengah ke atas saja.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved