Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

Salam

Jangan Abaikan Kebakaran Lahan

Yayasan APEL Green Aceh catat kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Darul Makmur dan Tripa Makmur, sudah mencapai 334 hektare

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO
KEBAKARAN LAHAN - Foto udara kebakaran lahan di Darul Makmur dan Tripa Makmur, Nagan Raya, Sabtu (6/6/2026). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin (8/6/2026) memberitakan, Yayasan APEL Green Aceh mencatat kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Darul Makmur dan Tripa Makmur, Nagan Raya, sudah mencapai 334 hektare. Lahan yang terbakar dalam sepekan terakhir ini merupakan kawasan Rawa Tripa.

Direktur APEL Green Aceh, Rahmat Syukur, mengatakan. angka tersebut menunjukkan kebakaran lahan gambut di Nagan Raya masih menjadi masalah serius yang terus berulang setiap tahun tanpa penyelesaian yang menyentuh akar masalah. Rahmat menilai kebakaran gambut dalam skala besar tidak dapat dipandang semata-mata sebagai bencana alam. Menurutnya, berbagai kasus kebakaran lahan umumnya berkaitan dengan aktivitas manusia, baik akibat pembukaan lahan, kelalaian, maupun lemahnya pengawasan terhadap kawasan yang rentan terbakar.

Ia mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut penyebab kebakaran yang terjadi dan meminta Kapolda Aceh membentuk tim investigasi guna menelusuri sumber kebakaran serta pihak-pihak yang diduga memperoleh manfaat dari kawasan yang terbakar. APEL Green Aceh juga meminta Pemkab Nagan Raya mengevaluasi seluruh izin usaha yang berada di sekitar kawasan terdampak kebakaran.

Untuk membantu pemadaman kebakaran lahan yang terjadi di Nagan Raya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah beberapa hari terakhir mengerahkan satu pesawat khusus untuk menyiram garam dari udara. Pengerahan pesawat khusus tersebut untuk modifikasi cuaca yaitu menciptakan hujan buatan sebagai salah satu langkah untuk memadamkan api. 

Bagi sebagian orang, kebakaran lahan seperti yang sedang terjadi di Nagan Raya terkadang dianggap sebagai masalah kecil. Namun, sepertinya anggapan tersebut adalah sesuatu yang keliru. Pasalnya, jika tak segera ditangani secara tuntas hingga terus meluas, maka kebakaran lahan itu bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa menganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu aktivitas ekonomi warga terutama mereka yang bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan. Dalam skala tertentu, karhutla juga bisa mengganggu penerbangan, mengingat di Nagan Raya terdapat bandara.

Meski demikian, upaya pencegahan kebakaran lahan yang dilakukan selama ini masih lemah. Salah satu buktinya, praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar masih terus berlangsung. Walaupun semua pihak sadar bahwa tindakan itu sangat berpotensi menimbulkan kebakaran dalam lingkup yang lebih besar. Terlebih, saat kemarau seperti sekarang.

Jika pencegahan dan pengawasan yang dilakukan tidak maksimal, bukan tidak mungkin kebakaran kecil dapat berubah menjadi bencana besar yang sulit dikendalikan. Untuk itu, pemerintah harus segera bertindak agar kebakaran lahan tidak terus meluas. Selain itu, edukasi kepada masyarakat harus diperbanyak, patroli ditingkatkan, serta pelaku pembakaran hutan dan lahan diberi sanksi tegas dengan tanpa pandang bulu. Perusahaan perkebunan wajib bertanggung jawab menjaga area konsesinya agar tidak menjadi sumber kebakaran. 

Hal yang tak kalah penting adalah masyarakat harus punya kesadaran yang sama bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tangung jawab kita semua. Dengan kesadaran tersebut, sudah saatnya semua kita berhenti menganggap bahwa kebakaran lahan adalah peristiwa musiman yang wajar. Lebih dari itu, kejadian tersebut membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji dan penanganan sementara setiap kali kebakaran lahan terjadi.

Sekali lagi, kita jangan pernah mengabaikan kasus kebakaran lahan. Caranya, antara lain, jangan membuka lahan dengan cara dibakar, tak membuang puntung rokok atau meninggalkan bara api sembarangan, serta segera melapor pihak terkait jika melihat ada titik api (hotspot). Dengan begitu, kita harapkan tak ada lagi kebakaran lahan yang terjadi di Aceh serta kejadian di Nagan Raya dan Aceh Barat bisa segera mereda. Semoga! (*)

POJOK

Senjakala bus legendaris Aceh

Ini sama dengan kata pepatah setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya kan?

Sipil dapat duduki jabatan di Polri

Tapi kalau Polri duduki jabatan di sipil sudah biasa ya?

Kaus pencurian ternak di Gayo Lues marak

Meski marak, tapi tidak meriah kan?

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved