Damkar Banda Aceh Butuh Mobil Bertangga 30 M
Sabtu, 7 Juli 2012 17:24 WIB
Berita Terkait
- Bupati Bireun Lantik 104 Pejabat Baru
- Gubernur Lantik 10 Pejabat Baru Disperindag
- Pembangunan Jalan Lintas Tengah Dimulai Tahun Ini
- Kadis PU Lantik Tujuh Pejabat Eselon IV
- Selebaran 'Gelap' jelang Pelantikan Sekda Aceh Tamiang
- 80 Honorer K-1 di Aceh Jaya Lulus
- Teuku Setia Budi Mundur
- Jalan Kompleks Perkantoran Abdya Masih Amblas
- Warga Minta Perbaikan Jalan Usaha Tani
- Enam Kursi SKPK Aceh Tengah Masih Kosong
* Polresta Tunggu Hasil Puslabfor
BANDA ACEH - Di Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh, semakin banyak bangunan yang berlantai tiga hingga enam. Perkembangan ini harusnya diikuti dengan kesiapan armada pemadam kebakaran, misalnya, dengan memiliki mobil bertangga setinggi 30 meter dan selang panjang yang mampu menjangkau bangunan-bangunan tinggi jika terjadi kebakaran.
Hal itu dikemukakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh, Ir Sofyan Nuddin didampingi Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Drs Rusmadi, kepada Serambi, Jumat (6/5).
Pendapat itu ia kemukakan menanggapi kasus kebakaran yang menghanguskan empat toko di Jalan Diponegoro Banda Aceh, Kamis (5/7) malam, yang karena ketiadaan tangga tinggi dan selang panjang, sehingga hampir empat jam petugas pemadam kebakaran (damkar) tidak berhasil memadamkan api secara total.
Berdasarkan kesaksian Serambi saat itu, para petugas damkar kesulitan menyemprotkan air ke lantai tiga deretan pertokoan Ramai Swalayan yang tingginya sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Untuk mencapai lantai tiga, petugas harus menggunakan mobil derek guna mengangkat petugas yang ingin menjangkau dan memadamkan titik-titik api.
Selain kesulitan menjangkau lokasi kebakaran, BPBD Banda Aceh juga belum memiliki mobil pemasok air (tanki pengangkut air) dengan volume 22.000 liter (22 ton).
Perlengkapan kerja yang disebutkan Sofyan Nuddin itu sudah sangat mendesak harus ada di ibu kota provinsi ini, mengingat dengan laju perkembangan bangunan di Banda Aceh, ketinggian toko sudah ada yang mencapai enam lantai. Apabila tinggi setiap lantai empat meter, maka untuk menjangkau lantai enam, dibutuhkan mobil bertangga 30 meter.
“Kita sudah merasakan, saat memadamkan kobaran api di Jalan Diponegoro kemarin melam, petugas kesulitan menjangkau sumber api di lantai tiga toko-toko yang terbakar itu,” timpal Rusmadi.
Selain itu, katanya, di BPBD Banda Aceh hanya tersedia 13 unit tanki pemadam kebakaran berkapasitas 3.000-5.000 liter. “Dengan volume air yang sekecil itu, otomatis petugas terpaksa bolak-balik ke sungai dari lokasi kebakaran. Nah, saat petugas meninggalkan lokasi, api membesar lagi, sedangkan untuk memadamkan api butuh siraman air dalam jumlah banyak secara terus-menurus, tidak boleh terputus-putus,” ungkapnya. Untuk itu, menurutnya, BPBD Banda Aceh membutuhkan satu mobil pengangkut air volume 22.000 liter atau sekitar 22 ton air yang khusus mengangkut air untuk dipasok ke mobil tangga di lokasi kebakaran.
Kata Rusmadi, dari 13 mobil tanki di BPBD Banda Aceh, satu terpaksa digunakan untuk memompa air dari sungai ke dalam tanki, sehingga hanya 12 unit yang beroperasi mengangkut air ke lokasi kebakaran.
Selain kesulitan tidak memiliki mobil tangga dan mobil tanki vulome 22.000 liter, kata Rusmadi, jumlah titik hidran (penyambung mobil tanki dengan pipa air PDAM) tidak tersedia di sejumlah jalan protokol Banda Aceh. Akibatnya, sebagai contoh, saat kebakaran empat toko di Jalan Diponegero Banda Aceh, tidak satu pun ada hidran di depan pertokoan itu, sehingga petugas damkar terpaksa bolak-balik mengambil air ke Krueng Aceh di depan Markas Polisi Militer (POM) Banda Aceh.
Rusmadi mengaku, sudah beberapa kali mengajukan permohonan pengadaan satu mobil tangga dan mobil tanki air kapasitas 22 ton itu. Namun, Pemko Banda Aceh belum menganggarkan biaya pengadaan mobil tangga dan tanki kapasitas 22 ton itu.
Sesuai dengan prosedur tetap (Protap) damkar, maka untuk Kota Banda Aceh yang sudah banyak gedung tingginya diperlukan mobil tangga dan tanki air ukuran 22 ton. “Sudah beberapa kali diusulkan pengadaan mobil tangga dan mobil tanki 22 ton ke pemerintah, namun hingga kini belum ada realisasainya,” ujar Rusmadi.
Ia juga menyesalkan, banyak lorong untuk jalur damkar pada permukiman padat justru sudah ditutup dengan bangunan, sehingga tak ada lagi akses mobil dan petugas damkar untuk masuk menjangkau titik-titik kebakaran. “Saya meminta kepada warga Banda Aceh tidak menutup jalur akses mobil tanki ke titik-titik terjadinya kebakaran,” ujar Rusmadi.
Puslabfor
Dihubungi terpisah, Kapolresta Banda Aceh melalui Kasat Reskrim AKP Wahyudi Sabhara mengatakan, polisi sudah meminta pihak Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Cabang Medan, Sumatera Utara untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran di pertokoan Ramai Swalayan, Kamis malam lalu. “Nanti setelah ada hasil penelitian Puslabfor di lokasi kejadian, baru diketahui penyebab kebakaran tersebut. Kita harap mereka bisa turun secepatnya ke Banda Aceh,” kata AKP Wahyudi menjawab Serambi. (min/sal)
problema damkar banda aceh
* BPBD Banda Aceh belum memiliki mobil tangga dan mobil tanki berkapasitas 22 ton * Pemasangan hidran oleh PDAM Tirta Daroy belum merata di setiap jalan protokol Banda Aceh * BPBD Banda Aceh hanya punya 13 mobil tanki, 12 unit untuk mengangkut air, satu untuk memompa air ke tanki * Lorong akses pemadam kebakaran banyak ditutup * Kesadaran masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana kebakaran masih rendah.
Editor : hasyim
