Rabu, 10 Juni 2026

KPAI Dukung Autopsi PE

Kalau sebelumnya diduga kematian korban akibat gantung diri

Tayang:
Editor: hasyim

BANDA ACEH - Investigasi oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap kasus kematian Putri Erlina yang selama ini diinisialkan PE (17), warga Desa Aramiyah, Kecamatan Birem Bayeum, Aceh Timur menemukan banyak kejanggalan sehingga mendesak pihak berwenang melakukan autopsi jasad korban.

“Kalau sebelumnya diduga kematian korban akibat gantung diri, ternyata berdasarkan investigasi kami ke lapangan tampaknya dugaan itu harus dikesampingkan dulu. Sekarang harus fokus pada dugaan pembunuhan karena hasil investigasi kami banyak sekali laporan kejanggalan bahkan tak masuk akal kalau disebut tewas akibat gantung diri,” kata Komisioner KPAI, Arnisah Vonna SH M.Kn kepada Serambi, Jumat (28/9).

Arnisah datang khusus ke Kantor Pusat Serambi Indonesia di Banda Aceh sebagai bagian dari rangkaian investigasi kasus PE. Sebelumnya Komisioner KPAI tersebut melakukan pendalaman selama beberapa hari di lokasi kejadian, termasuk wawancara dengan keluarga korban, Satpol PP dan WH, kepolisian setempat, dan sejumlah saksi lainnya. Ketika di Banda Aceh, selain ke Serambi, Arnisah juga berkoordinasi dengan pihak Polda dan Satpol PP dan WH Aceh.

Menurut Arnisah, secara ketentuan tak ada hambatan lagi bagi pihak berwenang untuk melakukan autopsi jasad PE apalagi pihak keluarga (orang tua) sudah setuju. Keluarga tinggal membuat surat permohonan/persetujuan autopsi sesuai dengan tatacara dan mekanisme yang berlaku.

Komisioner KPAI tersebut mengungkapkan, dalam rangkaian investigasi yang dilakukannya, salah satu sasaran wawancaranya adalah dengan pihak yang memandikan jenazah PE. Ternyata yang ikut memandikan jenazah PE adalah ayahnya, ibunya, dan neneknya.

“Ayahnya di kepala, ibunya di tengah, dan neneknya di kaki untuk menyucikan bagian bawah jenazah. Kepada neneknya saya tanyakan, apakah dari bagian, maaf, dubur jenazah ada mengeluarkan kotoran (faeces/tinja), neneknya mengatakan tidak ada apa-apa. Bersih sekali,” kata Arnisah mengutip pengakuan pihak keluarga. (Lihat: Kejanggalan Versi KPAI).

“Secara pribadi, tanpa keahlian forensik, 90 persen saya menduga anak ini dibunuh. Tetapi kan harus ada dasar untuk memenuhi berbagai unsur yang menguatkan dugaan. Karenanya KPAI mendorong dilakukan autopsi,” tandas Arnisah.

Komisioner KPAI tersebut juga berharap pihak berwajib melakukan pengusutan secara serius mengenai penyebab kematian PE, termasuk di dalamnya melakukan autopsi. Bagi KPAI, apapun hasilnya nanti, yang diharapkan antara lain bisa mengembalikan harkat dan martabat anak itu (nilai kemanusiaannya, walaupun nyawanya tak kembali), untuk menunjukkan keseriusan kita bahwa setiap anak Indonesia berharga, bagaimana pun status sosialnya, dan kasus ini harus menjadi pelajaran bahwa persoalan kemiskinan menjadi pemicu munculnya berbagai masalah sosial.

“Kalau ada informasi bahwa seseorang anak terlibat kasus jual diri, ini juga harus disikapi dengan hati-hati, dan semua kita harus introspeksi. Menangani anak tidak sama dengan menangani orang dewasa. Harus ada perlakuan khusus. Anak belum memiliki kematangan untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri, makanya perlu pendampingan dan tanggungjawab kita semua,” demikian Arnisah Vonna.

Sebelumnya, Yusrin (50), ayahanda dari Putri Erlina, dalam wawancara khusus dengan Serambi, mempersilakan polisi menggali kubur anaknya, lalu ahli forensik mengautopsi jasad sang anak agar menjadi jelas apa yang menyebabkan ia meninggal.

“Terus terang sampai sekarang saya curiga, sebab saat ditemukan tewas tergantung, kaki anak saya itu menyentuh lantai dalam posisi tertekuk,” ungkap Yusrin.(nas/dik)

GeMPAR Minta Polda
Ambil Alih Kasus PE

LEMBAGA Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Partisipatif (LSM-GeMPAR) meminta Polda Aceh mengambil alih penanganan kasus Putri Erlina (PE) yang mayatnya ditemukan dalam posisi tergantung di rumahnya, Desa Aramiyah, Kecamatan Birem Bayeum, Aceh Timur, Kamis malam, 6 September 2012.

“Pihak keluarga mengakui banyak kejanggalan menyangkut kematian Putri Erlina. Pihak keluarga juga sudah bersedia dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban, apakah karena bunuh diri atau ada kemungkinan faktor lain seperti dicekik lalu direkayasa bunuh diri,” tulis Ketua LSM GeMPAR, Auzir Fahlevi SH

dalam rilisnya yang diterima Serambi, Jumat (28/9).

Terkait kematian Putri Erlina, menurut Auzir diperlukan penyelidikan intensif dengan melibatkan Tim Forensik Polri dan meminta atensi khusus dari Kapolda Aceh supaya kasus itu menjadi terang benderang di mata publik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved