• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Serambi Indonesia

74 Rohingya Dievakuasi dari Pulo Aceh

Selasa, 9 April 2013 09:46 WIB
74 Rohingya Dievakuasi  dari Pulo Aceh
SERAMBI/BUDI FATRIA
Sebanyak 74 warga etnis Rohingya, Myanmar yang terdampar di Pulo Aceh, Aceh Besar tiba di Lampulo, Banda Aceh, Senin (8/4). Mereka terdiri dari 64 pria dewasa, 5 perempuan, dan selebihnya anak-anak.
BANDA ACEH - Sebanyak 74 warga Rohingya yang terdampar di Pulo Aceh, Aceh Besar, pada Minggu (7/4), telah dievakuasi ke Banda Aceh, Senin kemarin. Migran yang terdiri atas 64 pria dewasa, lima perempuan, dan lima anak-anak itu ditampung sementara di Desa Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar.

Kepala Polisi Resor Aceh Besar, AKBP Djadjuli MSi SIK, mengatakan telah berkoordinasi dengan International Organization for Migration (IOM) dan United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) Sumatera Utara yang berwenang menangani masalah pengungsi dan migrasi. Rencananya, kata dia, warga Rohingya itu akan dibawa ke Medan, Sumatera Utara, untuk penanganan selanjutnya.

“Untuk sementara, mereka akan ditampung dulu di sini (Krueng Raya -red) di bawah pengawasan dinas sosial. Di tempat penampungan sementara, mereka lebih dulu didata oleh pihak imigrasi dan juga dicek kesehatannya oleh pihak dinas kesehatan,” kata Djadjuli.

Menurutnya, kondisi warga Rohingya saat tiba di Banda Aceh terlihat lemas. Ketika dicek kesehatan, beberapa dari mereka ternyata sakit. Hal ini diduga karena dehidrasi selama berada di laut.

Diperoleh informasi bahwa sebelum merapat ke Pulo Aceh, seluruh warga Myanmar bersuku Rohingya itu sudah tujuh hari terombang-ambing di laut. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan karena perahu yang ditumpangi kehabisan bahan bakar. Selain itu, persediaan makanan yang mereka miliki juga menipis. Hingga akhirnya mereka ditemukan nelayan setempat yang tengah melaut dan dibawa ke daratan kemudian dilaporkan kepada kepolisian setempat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kakanwil Kemenkumham) Aceh, Dr Yatiman Edy MHum mengatakan, akan berkoordinasi dengan IOM dan Dirjen Imigrasi Kemenkumham RI untuk pemindahan ke-74 migran Rohingya tersebut ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di provinsi lain, karena di Aceh belum ada Rudenim.

“IOM berperan memfasilitasi pemindahan pengungsi migran ini ke Rudenim, sedangkan pihak Dirjen Imigrasi berwenang menentukan penempatan mereka di Rudenim. Jika sudah tertampung di Rudenim, maka pihak Dirjen Imigrasi berkoordinasi dengan kedutaan besar negara asal pengungsi yang ada di Indonesia untuk proses pemulangan mereka ke negara asal,” kata Yatiman kemarin.

Didampingi Kabid Imigrasi Kanwil Kemenkumham Aceh, Sugeng Harjanto SE, Yatiman mengatakan, mengingat sudah sering kali imigran asal Rohingnya dan nelayan asal Thailand serta Myanmar terdampar ke perairan Aceh, maka ia mengatakan akan mengusulkan ke Menkumham RI pembangunan Rudenim di Banda Aceh.

Adapun 121 “manusia perahu” dari Myanmar yang terdampar di perairan Muara Batu, Aceh Utara, 26 Februari 2013, kata Yatiman 41 di antaranya sudah dipindahkan ke Rudenim Manado, Sulawesi Utara pada 29 Maret dan 5 April 2013. Sebanyak 20 orang sudah dipindahkan ke Rudenim Surabaya, Jawa Timur, 5 April 2012. Sisanya 40 orang lagi akan dipindahkan ke Rudenim Bali dan 20 orang ke Rudenim Pontianak, Kalimantan Barat, 15 April 2013.

Sementara itu, Sobir Rahmat (25), migran Rohingya yang ditampung di bekas kantor Imigrasi Punteut Kecamatan Blang Mangat Lhokseumawe, Minggu (7/3) sekitar pukul 22.10 WIB kabur lewat pintu belakang kantor. Kendati sudah berusaha dicari, tapi hingga kemarin petugas belum berhasil menemukannya.

Diperoleh informasi, rencana Sobir hendak kabur sudah lama diketahui sesama migran Rohingya. Namun, mereka tak tahu cara menyampaikannya ke petugas, karena tak ada yang bisa berbahasa Melayu. Sedangkan Farid Alam yang mampu berbahasa Melayu telah dipindah ke Rudenim Manado.

Sobir kabur dengan membawa tas berisi pakaian setelah menaiki pagar belakang kantor tersebut. Kabarnya ia kabur karena ada yang menjemput. Sekarang hanya 54 migran yang tinggal di lokasi itu. Kasi Penindakan dan Pengawasan Kantor Imigrasi kelas IIA Lhokseumawe Albert Djalius kepada Serambi menyebutkan, setelah mengetahui kejadian itu pihaknya langsung memintai keterangan dari petugas yang berjaga di lokasi. “Sampai sekarang petugas kita juga masih mencari migran tersebut,” katanya.  Kabag Ops Polres Lhokseumawe, Kompol Prasetyo menyebutkan, polisi hingga kini masih mencari keberadaan migran yang kabur itu. “Masih kita selidiki,” kata Prasetyo. (s/sal/c37)  
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas