Minggu, 30 Agustus 2015
Home » Opini

Tgk Abdul Aziz, Tokoh Pengkaderan Ulama Aceh

Minggu, 21 April 2013 08:45

Jika kita bepergian ke seluruh penjuru tanah Aceh, maka salah satu fenomena yang cukup mengejutkan adalah banyaknya dayah yang memakai kata “Al-Aziziyyah.”  Hari ini jumlah dayah yang memakai nama tersebut sudah mencapai ratusan dan dapat dipastikan santrinya mencapai ribuan orang. Jejaring “Al-Aziziyyah” sudah mencuat, . Karena itu, bagi siapa pun yang memakai Al-Aziziyyah,  dipandang sebagai sebuah keluarga besar masyarakat dayah pada era kontemporer di Aceh.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa usaha kaderisasi dayah yang dilakukan oleh Tgk H Abdul Aziz Samalanga  ini telah berhasil menempatkan beberapa alumninya, tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga menjadi birokrat dan teknokrat di Aceh. Tentu saja kita harus mencari siapa sosok dibalik kesuksesan pembinaan pengkaderan  dayah di Aceh yang telah tersebar di seluruh penjuru Aceh. Tidak hanya itu, beberapa alumni yang memakai nama “Al Aziziyyah” tersebut  juga tersebar di beberapa negara.

Usaha tersebut ternyata dilakukan oleh seorang ulama kharismatik Aceh yaitu Tgk. H  Abdul Azis. Dari nama beliaulah kemudian muncul laqab al-Aziziyyah. Tidak banyak masyarakat Aceh yang mengenal ulama dari Samalanga ini.  Pada  9 Jumadil Akhir 1434H/20 April 2013 M,  alumni al-Aziziyyah selalu memperingati haul pendiri dayah ulama kharismatik tersebut.

Bagi warga sekitar, Tgk Abdul Azis lebih dikenal dengan sebutan Abon Mudi Mesra. Sesuai tradisi masyarakat Aceh, mereka lebih senang memperingati hari kewafatan ulama, ketimbang memperingati hari kelahirannya.

Abon Mudi Mesra telah meninggalkan kita selama 24 tahun.  Sepanjang hayatnya Abon telah menyebarkan ilmu  melalui pendidikan dayah. Adapun nama dayah induknya adalah Dayah Mahadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudimesra), Samalanga. Ulama besar ini lahir di Kandang Samalanga  pada 1930. Dia adalah putra dari pasangan Tgk Muhammad Saleh dan Tgk Halimah. Menurut cerita, sejak kecil Tgk H Abdul Aziz  telah ditempa ilmu agama oleh  orang tuanya yang juga pimpinan dayah Darul ‘Atiq, Janggot Sungko,  Jeunib.

Hampir seluruh hidup  Abon tidak dapat dilepaskan dari dunia dayah. Hal ini terbukti, misalnya, pada tahun 1946  Tgk Muhammad Saleh menitip Azis kecil pada temannya Tgk H Hanafiah (Tgk Abi) di Dayah Mahadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudimesra) Samalanga. Selanjutnya, pada tahun 1948 pindah ke Dayah Tanjongan di bawah bimbingan Tgk H Idris Tanjongan. Berikutnya, pada tahun 1949 kembali lagi ke Dayah Mudi Mesra Samalanga. Dalam usia yang masih relatif muda,  pada tahun  1951 Azis telah berusia 21 tahun,  melakukan perjalanan intelektual (meudagang) ke dayah Darussalam Labuhan Haji yang dipimpin oleh Teungku Syeikh Muhammad Wali Al Khalidi.

Menurut sejarah, ketika menuntut ilmu di  Labuhan Haji, Azis memfokuskan diri belajar ilmu mantik, ushul-fiqih, bayan, ma’ani, dan ilmu  lain, langsung di bawah bimbingan Teungku Syeikh Muhammad Wali Al Khalidi. Sehingga Tgk H Abdul Aziz menjadi murid pertama dari Bustanul Muhaqqiqin, sebagai program khusus dari Teungku Syeikh Muhammad Wali Al Khalidi bagi muridnya yang akan menyelesai proses “beut seumeubeut” di dayahnya.  Tgk H Abdul Aziz mendapat  gelar Al Mantiki dari gurunya Teungku Syeikh Muhammad Wali Al Khalidi,  karena  kemampuan daya serap ilmu yang amat tinggi,  khususnya  ilmu-ilmu logika yang dikenal dengan istilah ilmu mantik.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas