'First Lady' Aceh Kangen Swedia
BEKAS operasi lutut yang dijalani Hj Niazah A Hamid, di sebuah rumah sakit, di Malaysia, pada Februari lalu, ternyata
Meski demikian, rona senyum seakan tak pernah lepas menghiasi wajah first lady Aceh, yang kini menginjak usia 67 tahun itu. Setidaknya, inilah kesan awal yang ditangkap Wartawan Serambi Indonesia, Said Kamaruzzaman dan Fotografer M Anshar, yang mewawancarainya di Meuligoe Gubernur Aceh, di Banda Aceh, Jumat (26/4) pagi. Berikut petikannya:
Bagaimana kondisi kesehatan Anda?
Alhamdulillah, sekarang kondisinya semakin membaik. Cuma, ini habis disuntik kemarin. Jadi, masih terasa sakit (sambil meraba lututnya yang dioperasi itu).
Anda tidak kangen dengan Swedia?
Bagaimana tidak teringat. Kami 29 tahun di Sweden. Anak dan cucu saya juga masih di Sweden. Dalam beberapa bulan ke depan kami juga ingin mengunjungi mereka.
Mengapa mereka tidak pulang ke Aceh?
Ya, belum memungkinkan (Niazah A Hamid tertawa).
Apa kira-kira perbedaan masyarakat di Swedia dengan Aceh?
Di sana nafsi-nafsi. Tapi, masyarakatnya disiplin. Karena nafsi-nafsi, di sana kita tak sempat ngomongin orang seperti di daerah kita.
Apa makanan yang paling Bapak sukai?
Beliau tidak ada makanan yang spesial. Semua suka. Kari kambing juga sering.
Bagaimana perasaan Anda mendampingi Bapak sebagai orang nomor satu di Aceh yang sudah hampir 10 bulan lamanya?
Biasa-biasa saja.
Adakah merasa terbebani, mengingat banyak masyarakat yang datang dengan berbagai keluhan?
Saya tidak terbebani. Saya punya prinsip, masalah harus cepat diselesaikan. Jangan sampai terbawa tidur. Dengan cara demikianlah kita bisa hidup tenang dan sehat. Adalah tugas saya memang untuk terus berkarya, membantu bapak menciptakan masyarakat Aceh yang peduli dengan kesehatan keluarga, pendidikan anak sejak usia dini, serta mengembangkan rasa kebersamaan, taat pada peraturan dan hukum yang berlaku. Tentu saja itu adalah idaman dan impian kita semua masyarakat Aceh.
Bagaimana kira-kira peran Anda selama ini mendampingi suami sebagai gubernur?
Sebagai istri kepala daerah, sudah menjadi kewajiban saya untuk ikut mendukung suami membangun Aceh. Di mana saat ini saya menjabat sebagai ketua PKK dan Dekranas. PKK mempunya 10 program pokok yang di dalamnya sudah mencakup upaya memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan fisik, mental, dan sosial.
Kabarnya Anda juga menggelar pengajian untuk kaum ibu?
Iya. Untuk menjaga silaturrahim sesama dan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan, maka kami mengadakan pengajian setiap minggu sekali. Pengajian ini dihadiri ibu-ibu SKPA dan Darma Wanita, sehingga timbul kekompakan.
Pandangan Anda terhadap perempuan Aceh?
Perempuan Aceh punya potensi dalam dirinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya prestasi yang didapat untuk kemajuan daerah. Jika melihat realitas di lapangan, telah terbentuk grup-grup atau kelompok usaha dan kerajinan kecil kaum perempuan yang menampakkan keberadaannya, sehingga lebih menonjol dan tidak kaku.
Harapan Anda untuk masyarakat Aceh, terutama kaum perempuan?
Saya mengajak semua pihak, khususnya kaum perempuan untuk menjaga akidah Islam. Karena dapat kita lihat bahwa berbagai macam kasus yang bermunculan di Aceh akibat akidah Islam yang sudah tidak dijalankan. Marilah kita kaum perempuan bersama-sama menjaga syariat Islam di daerah Aceh ini.(*)
Data diri
* Nama: Niazah Abdul Hamid
* Tempat/Tgl. Lahir: Dayah Lampoh Awe, Simpang Lhee, Pidie, 15 Oktober 1946
* Pendidikan: Sekolah Kepandaian Putri di Sigli
* Menikah pada 1969 di Meunasah Dayah Lampoh Awe, Mukim Peukan, Kecamatan Simpang Lhee
* Anak: Niza Ratna, Hasnita Zahra, dan Sri Wahyuni.