Rabu, 10 Juni 2026

Jenazah Abu Panton Dishalatkan 30 Kali

Di masjid seukuran 15 x 15 meter yang terletak di Kompleks Dayah Malikussaleh, Desa Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo

Tayang:
Editor: bakri
LHOKSUKON - Di masjid seukuran 15 x 15 meter yang terletak di Kompleks Dayah Malikussaleh, Desa Rawang Itek, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Selasa (30/4) pagi kemarin, berlangsung shalat jenazah sebanyak 30 kali. Yang dishalatkan bukan 30 jenazah, melainkan jenazah orang yang sama, yakni Tgk Ibrahim Bardan.

Ulama karismatik yang akrab disapa Abu Panton itu, meninggal dalam usia 68 tahun pada Senin (29/4) sore di Rumah Sakit Herna, Medan, Sumatera Utara, sebagaimana diberitakan Serambi kemarin.

Jenazah almarhum dibawa ke dayah yang dipimpinnya. Kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB kemarin mulai dishalatkan, setelah dimandi dan dikafankan. Saking banyaknya jamaah yang ingin menyalatkan jenazah Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) ini, terpaksa shalatnya dilaksanakan 30 kali dengan imam serta jamaah yang berbeda.

Secara bergantian sejumlah ulama memimpin shalat jenazah tersebut. Di antaranya Abu Kuta Krueng, Abu Tumin Blang Blahdeh, Abu Matang Peureulak, dan Abu Mustafa Paloh Gadeng. Sedangkan jamaah yang ikut shalat jenazah berkisar 300-500 orang untuk sekali shalat di masjid yang tak terlalu besar itu.

Kemudian, jasad Abu Panton dimakamkan di sisi utara masjid kompleks dayah tersebut. Ribuan jamaah mengantarkan jenazahnya. Untuk mengatasi kemacetan, polantas dari Polres Aceh Utara menutup sepanjang satu kilometer jalan lintas Medan-Banda Aceh di depan Masjid Raya Pase. Arus lalu lintas dialihkan dari Simpang Rawang Itek ke Jalan Perdagangan, tembus ke jalan Medan-Banda Aceh.

Para pelayat datang dari berbagai daerah, meliputi Aceh Selatan, Banda Aceh, Aceh Timur, Bireuen, dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Aceh. “Tidak ada pesan-pesan khusus dari Abu Panton sebelum meninggal,” ujar Tgk H Abu Bakar, adik kandung Abu Panton.

Amatan Serambi, ratusan ulama pimpinan dayah se-Aceh, berbaur dengan ribuan santri dan masyarakat, melayat ke rumah duka sejak Selasa pukul 05.30 WIB. Saat jenazah diusung dari mushala dayah ke lokasi pemakaman, berkumandang selawat Badar dan zikir. Banyak pelayat yang berlinang air mata.

Sejumlah orang menyampaikan kata-kata sambutan saat melepas jenazah. Mewakili Pemkab Aceh Utara disampaikan oleh Asisten III Drs Abdul Azis, dari pihak keluarga diwakili oleh Wakil Ketua MPU Tgk H Abdul Manan. Mewakili ulama Aceh, sambutan disampaikan Tgk H Nuruzzahri atau Waled Nu. Antara lain Waled Nu mengatakan, H Ibrahim Bardan merupakan sosok ulama berkarisma tinggi. “Abu Panton tak pernah mencari sensasi, tapi selalu memberikan solusi,” ujar Waled Nu.

Semasa hidupnya, kata Waled Nu, Abu Panton punya moto yang tak pernah dilupakan Waled Nu, “Jangan mencari perbedaan. Tapi carilah kebersamaan, karena melalui kebersamaan akan dapat dituntaskan berbagai masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.”

Saat menyampaikan sambutan, Waled Nu empat kali menangis. Ribuan pelayat pun terpancing ikut menangis. Di antara doa Waled Nu, dia harapkan Aceh tetap aman dan damai serta kepada masyarakat Aceh diberikan Allah ulama pengganti setara dengan keulamaan Abu Panton.

Istri almarhum Abu Panton, Ummi Zainabon terlihat tegar dalam menghadapi musibah ini. Ratusan kaum ibu menyalaminya. Saat bertemu Serambi, Ummi Zainabon berpesan kepada masyarakat agar memaafkan jika ada kesalahan sang suami semasa hidupnya. Ummi juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat Aceh yang ketika Abu Panton dirawat di Malaysia, Medan, dan Aceh, telah membantu dengan doa atau dalam bentuk bantuan lainnya.

“Kami tidak sanggup membalas semua itu. Hanya Allah yang akan membalasnya,” kata Ummi Zainabon. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Ghazali Mohd Syam menyatakan, MPU Aceh berduka atas meninggalnya Abu Panton, salah satu ulama Majelis Syuyukh MPU Aceh. “Maqam keulamaannya bukan hanya di level Aceh, tetapi ulama karismatik untuk bangsa Indonesia,” ulas Ghazali.

Di mata Ghazali, Abu Panton adalah seorang fakih (ahli fikih). “Banyak ilmu yang beliau kuasai secara khusus. Aceh kehilangan ulama besar. Kepulangan Abu Panton ke hadirat Ilahi merupakan kehilangan lampu markuri besar yang selama ini menyinari Aceh,” Ghazali bertamsil.

Sementara itu, puluhan alumni Dayah Jeumala Amal melaksanakan tahlil dan baca Yasin bersama untuk almarhum Abu Panton, Selasa (30/4), di Sekretariat Forum Silaturahmi dan Komunikasi Alumni Dayah Jeumala Amal (Foskadja) di Jalan T Nyak Makam Gampong Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh.

Sekjen Foskadja, Syahrizal mengatakan, tahlil dan doa itu dipimpin Tgk Muhajirin Garot, juga alumni Jeumala Amal. “Tahlil dan doa ini kami lakukan sebagai wujud kecintaan dan rasa kehilangan kami atas berpulangnya Abu Panton selaku ulama besar Aceh, lampu penerang umat,” ujar Syahrizal. (ib/c46/swa/ni)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved