Minggu, 19 April 2015
Home » Opini

Korupsi dan Dunia Pendidikan

Kamis, 2 Mei 2013 09:27

KORUPSI adalah sesuatu yang merusak tatanan kehidupan masyarakat sebuah bangsa. Korupsi adalah sesuatu yang potensial menjadikan masa depan negara menjadi suram. Korupsi adalah haram. Korupsi adalah aksi memperkosa ajaran agama. Korupsi adalah tingkah menjijikkan. Korupsi adalah bla....bla....bla....dst... dst. Ungkapan-ungkapan yang memposisikan korupsi sebagai sesuatu yang negatif dan destruktif seperti ini --terlepas apakah ia tergolong dalam kejahatan luar biasa (extraordinary crime) atau tidak-- tentu disepakati semua orang.

Meski demikian, faktanya sampai detik ini korupsi masih berlangsung dengan senantiasa memodifikasi modusnya, sehingga semakin sulit dilacak dan dibuktikan. Yang menarik (atau lebih tepatnya ironis), ketika korupsi juga ikut-ikutan terjadi dalam dunia pendidikan, apalagi di tingkat perguruan tinggi.

Padahal, banyak pihak yang mensinyalir bahwa dari lembaga pendidikanlah mindset antikorupsi bisa ditanamkan. Dengan demikian, upaya melawan korupsi tidak hanya dilakukan dengan pemberantasan, akan tetapi juga pencegahan. Di sinilah, sekali lagi, lembaga pendidikan (khususnya perguruan tinggi) menduduki peran yang sangat signifikan.

 Kasus dugaan korupsi
Satu kasus dugaan korupsi yang baru-baru ini mencuat adalah yang terjadi di satu perguruan tinggi terkemuka di Aceh, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Seperti diberitakan, Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh menetapkan tiga tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) program beasiswa Pemerintah Aceh di Unsyiah sebesar Rp 3,6 miliar, yang bersumber dari APBA 2009-2010 (Serambi, 20/4/2013).  

Ketiga tersangka tersebut masing-masing Prof Dr Darni M Daud (mantan Rektor Unsyiah), Prof Dr M Yusuf Azis (mantan Dekan FKIP Unsyiah), dan Mukhlis (Kepala Keuangan Program Cagurdacil). Disinyalir kerugian negara sesuai audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Aceh adalah senilai Rp 3.618.623.500. Adapun pagu anggaran untuk program beasiswa calon guru daerah terpencil (Cagurdacil) dan Jalur Pengembangan Daerah (JPD) yang bersumber dari APBA 2009-2010 tersebut sekitar Rp 17,6 miliar.

Kasus korupsi di dunia perguruan tinggi memang tidak hanya menimpa Unsyiah sebagaimana diberitakan baru-baru ini. Malah setidaknya teridentifikasi ada 18 universitas negeri di Indonesia yang terindikasi terjadi tindak pidana korupsi dengan rata-rata kerugian miliaran rupiah (Kompas, 7/6/2012).

Enam tahun lalu, tepatnya tanggal 4 Januari 2007, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI (diwakili Dr Sjahruddin Rasul SH) telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Unsyiah (diwakili Dr Darni Daud MA) dan IAIN Ar-Raniry (diwakili Prof Drs Yusny Saby MA, PhD) di Balai Senat Unsyiah. Nota Kesepahaman ini menyangkut tiga bidang: Pertama, pendidikan anti korupsi; Kedua, kampanye anti korupsi, dan; Ketiga, riset atau Kajian mengenai Pemerintahan yang baik dan benar. Pertanyaannya, apakah Nota Kesepahaman tersebut sudah dijalankan dengan baik?

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas