Pedagang Hadang Beko
Seratusan pedagang yang membangun kios di bekas rel kereta api kawasan Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara
LHOKSEUMAWE - Seratusan pedagang yang membangun kios di bekas rel kereta api kawasan Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara Selasa (21/5) menghadang beko yang hendak membongkar kios mereka. Akibatnya, PT Kereta Api Aceh gagal membongkar kios di sepanjang jalur bekas rel tersebut.
Amatan Serambi, seratusan pedagang sejak pukul 09.00 WIB sudah berkumpul di depan terminal Keude Geudong untuk menghadang beko. Karena, sehari sebelumnya mereka telah mendapat informasi dari PT Kereta Api akan membongkar kios yang berada di jalur bekas kereta api.
Warga memasanng tiga spanduk yang bertuliskan, “Kami orang miskin, jangan dijajah, sebab kami menghidupkan anak dan istri dari berjualan, penghuni wajib dilindungi oleh hukum.” Aksi itu dikawal polisi dan TNI. Namun, pihak rekanan harus membatalkan pembongkaran karena dihadang pedagang.
“Kami protes pembongkaran kios ini, karena di daerah lain belum ada kios di jalur kereta api yang dibongkar. Apalagi, ratusan warga selama ini memanfaatkan kios di bekas rel kereta api sebagai tempat mencari uang,” kata Wahidin, pedagang setempat.
Menurutnya, mereka tidak menerima pemberitahuan tertulis dari PT Kereta Api tentang akan adanya pembongkaran kios itu. “Sebagian besar warga bukan hanya memanfaatkan bangunan di bekas rel kereta api sebagai tempat berjualan, tapi juga tempat tinggal,” timpal Wahidin.
Karena itu, lanjutnya, jika kios di bekas rel kereta api dibongkar, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. “Kami dengar informasi kios kami dibongkar untuk dibangun kios baru dengan harga sewa mencapai 75 juta rupiah per tahun,” katanya.
Sementara pedagang lain, Darwin mengatakan apapun risikonya, ia akan tetap mempertahakan agar kiosnya tidak dibongkar. “Saya rela mati demi mempertahakan kios saya,” teriak Darwin di depan warga lainnya. Hasilnya, sampai pukul 12.30 WIB, rekanan belum berhasil membongkar kios warga.(c37)