Rabu, 22 April 2026

Opini

Membangun Aceh ala PUSA

PERSATUAN Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang lahir pada 12 Rabiul Awal 1358 H/5 Mei 1935 M, merupakan satu organisasi

Editor: bakri

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan

PERSATUAN Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang lahir pada 12 Rabiul Awal 1358 H/5 Mei 1935 M, merupakan satu organisasi besar dan kuat di Aceh pada era 1950-an. PUSA diprakarsai dan didirikan oleh para ulama modernis, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Ayah Hamid Samalanga, Tgk Abdullah Ujong Rimba, Tgk Muhammad Daud Beureu-éh, dan lain-lain. Tujuan utama pembentukan organisasi ini antara lain dimaksudkan untuk memajukan dunia pendidikan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di Aceh.

Pengurus PUSA terbentuk dari hasil musyawarah yang dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Komplek Al-Muslim, Matang Geulumpangdua, pada 12 Rabiul Awal 1358 H/5 Mei 1935 M dengan komposisi: Tgk Muhammad Dawud Beureueh sebagai Ketua I, Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap (Ketua II), Tgk M Nur El Ibrahimy (Sekretaris I), Tgk Ismail Jacub (Sekretaris II), TM Amin (Bendahara) yang kemudian digantikan oleh Tgk H Mustafa Ali.

Selanjutnya, TM Amin menjadi Sekretaris Pengurus Besar PUSA tatkala Tgk M Nur El Ibrahimy menjadi pimpinan Normal Islam Institut di Bireuen. Kepengurusan PUSA ini dibantu oleh beberapa ulama kenamaan, seperti Tgk Abdul Wahab Seulimuem, Tgk H Sjech Abd Hamid, Tgk M Daud, Tgk Usman Lampoh Awé, Tgk Jahja Baden, Tgk Mahmud, Tgk Usman Laziz, dan Tgk Ahmad Damanhuri Takengon. Sementara uleebalang Peusangan dipercayakan sebagai penasihat PUSA.

Para pemimpin PUSA yang terdiri dari ulama-ulama berpaham modernis yang mengutamakan ibadah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw dan menjauhi segala jenis bid’ah dan khurafat, pernah memimpin Aceh dalam beberapa periode dalam kurun waktu tahun empat puluhan dan lima puluhan. Dengan demikian terkenallah pemerintah di Aceh waktu itu dengan nama pemerintahan PUSA karena yang duduk dalam jajaran pemerintahan umumnya terdiri dari kader-kader PUSA, baik dari sipil, polisi maupun militer.

 Utamakan pendidikan
Beberapa poin penting yang menarik dicatat dalam masa kepemimpinan PUSA, yang barang tentu berbeda dengan Pemerintah Aceh hari ini, antara lain: Pemerintah PUSA mengutamakan pendidikan untuk anak bangsa Aceh; menarik hati bangsa Aceh dengan gerakan dakwah dari satu wilayah ke wilayah lainnya; mengikat ukhuwah yang sangat akrab dengan rakyat Aceh; menghidupkan ekonomi rakyat dengan memberikan berbagai fasilitas untuk rakyat Aceh; dan mengikat hubungan dengan organisasi nasional yang berakar di ibu kota Jakarta seperti Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Majelis Islam Akla Indonesia (MIAI), serta organisasi-organisasi Islam dunia di berbagai Negara seperti Ikhwanul Muslimin dan lainnya.

Upaya memajukan pendidikan yang dilakukan PUSA adalah dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, dan mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan yang sudah lebih dulu ada, antara lain: Lembaga pendidikan Al-Muslim di Matang Geulumpangdua yang didirikan oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap; Normal Islam Institut di Bireuen yang didirikan PUSA; Madrasah Diniyah Idi (Madni) di Idi yang didirikan Tgk M Nur El Ibrahimy; Madrasah Diniyah Abdiyah di Blang Paseh yang didirikan Tgk Muhammad Daud Beureueh; JADAM yang didirikan Ayahanda di Montasik; Dan, Sekolah Menengah Islam (SMI) di Blang Padang (Banda Aceh) yang didirikan PUSA.

Hasil dari pendidikan yang diprakarsai PUSA betul-betul dapat menjawab tantangan zaman, sesuai dengan maksud dan tujuan PUSA kala itu. Betapa tidak, hampir seluruh lulusan Al-Muslim, JADAM, Diniyah Abdiyah menjadi guru dan menjadi pejabat tinggi di Aceh. Mereka mampu membaca dan menerjemah kitab kuning dengan lancar, mampu berhasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya dengan baik. Demikian pula para lulusan Normal Islam Institut Bireuen, umumnya menjadi tokoh masyarakat nasional dan internasional seperti Abdullah Arif, Ismuha, Hasan Tiro, Zainal Abidin Tiro, Ismail Thaib Paya Bujok, AR Hasyim, Hasan Saleh, dan lain-lain.

Di bidang dakwah, pemerintah PUSA tidak henti-hentinya berdakwah kepada segenap bangsa Aceh baik secara langsung ketika menjalankan tugas pemerintah ke daerah-daerah kabupaten/kota maupun secara tidak langsung ketika para pejabat Aceh pulang kampung, berkunjung kepada rumah dan tempat-tempat tertentu. Dengan demikian setiap turun ke daerah para pemimpin Aceh dari kalangan pemerintah PUSA selalu berdakwah dan membaur dengan masyarakat. Umumnya mereka tidur di rumah-rumah para pejabat kabupaten/kota (bukan di hotel atau penginapan) sambil berdialog tentang Islam. Dengan demikian ukhuwah Islamiyah tegak dalam masyarakat antara pejabat Aceh dengan orang-orang kampung dari rakyat jelata.

Para pejabat Aceh ketika pergi ke daerah selalu membawa dakwah, pendidikan dan sumbangan atau shadaqah sehingga wibawa dan gezah pemerintah PUSA sangat besar di mata masyarakat tatkala itu. Sumbangan atau sedekah yang dibawakan para penguasa Aceh waktu itu lebih mengarah kepada pemberdayaan ekonomi rakyat sesuai dengan profesi masyarakat tempatan masing-masing. Kalau masyarakat tani selalu diberikan modal bibit dan pupuk, kalau para nelayan dibantu pukat dan perahu (boat), kalau masyarakat pedagang diberikan modal usaha dan seumpamanya.

Para penguasa Aceh dari kader-kader PUSA dulu tidak rakus, tidak mengutamakan kaum sendiri dengan menyisihkan kaum lain, tidak memaksa orang-orang agar mendapatkan proyek secara kasar, tidak menculik orang yang berbeda partai dengannya, tidak membajak dan menurunkan bendera/spanduk/baliho partai lain yang sedang dikibarkan, dan sangat menjaga ukhuwah dengan rakyat dan masyarakatnya.

Yang tidak kurang menariknya adalah para pemimpin PUSA membuka diri dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dengan menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi Islam lain baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri PUSA bermitra dengan MASYUMI dan MIAI sehingga apa saja informasi secara nasional PUSA cepat mendapatkannya. Di luar negeri PUSA punya link dan aliansi informasi dengan Ikhwanul Muslimin dan jaringannya di seluruh dunia.

Dengan demikian baik para pemimpin maupun rakyat PUSA menjadi orang-orang yang peka dengan informasi nasional dan internasional, sehingga para kader dan pemerintah PUSA tidak ada waktu untuk meneror kontraktor meminta persen dari hasil proyek pemerintah yang dikerjakannya. Mereka juga tidak ada waktu untuk memusuhi orang-orang yang tidak seide dan tidak sejalan pemikiran dan tata cara ibadah dengannya, karena wawasan dan jangkauan pemikirannya sudah dewasa, arif, dan mendunia (kon lagee cangguek di yub bruek).

 Kilas balik
Rasanya perlu kita renungkan kembali secara bersama akan kilas balik kepemimpinan pemerintahan PUSA tempo dulu untuk menjadi cermin buat kita dan anak cucu kita di zaman kini dan masa mendatang. Ketika PUSA berkuasa di Aceh dulu, para pemimpin PUSA tidak punya musuh yang dapat menghancurkan Aceh, melainkan mereka dipolitisir oleh pemerintah RI. Kala itu, Jakarta tampaknya tidak begitu senang dengan pemerintah pimpinan PUSA di Aceh yang berlandaskan pada ajaran-ajaran Islam. Pemerintah PUSA pun kemudian ‘diadu’ dengan kalangan ulama tradisioanal dan para uleebalang.

Dari sinilah awal Aceh berantam sesama Aceh, saling memojok, saling memboikot dan saling ku-ëh mengku-ëh sesama bangsa Aceh sendiri. Padahal pada awalnya pemerintahan PUSA di Aceh hanya punya tantangan nasionalisme Indonesia yang pro Komunis dari aliran pemikiran presiden Soekarno, sementara di Aceh sendiri tidak ada pergolakan apa-apa. Namun apa hendak dikata sudah nasib bangsa kita yang mudah di-adudomba, mau menang sendiri dan mau menjadi raja sendiri walaupun tidak ada negeri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved