Kupi Beungoh
Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi
Skandal mafia sitasi dibongkar. Kampus dinilai sibuk mengejar ranking Scopus, tetapi miskin gagasan besar dan integritas akademik.
Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Tulisan ini mencoba memahami sekaligus merespons artikel berjudul High Rankings, Low Reach in Indonesian Journals karya Zezen Zaenal Mutaqin di The Jakarta Post, 8 Mei 2026.
Dalam artikel tersebut, Zezen membongkar dugaan adanya mafia sitasi dalam merekayasa peringkat sejumlah jurnal di Indonesia, termasuk tiga dari Aceh, yaitu Samarah, El-Usrah (UIN Ar-Raniry) dan Peuradeun.
Sesungguhnya, tulisan Zezen tersebut membuka satu luka lama dalam dunia akademik Indonesia: ketidakmampuan dalam membedakan antara kualitas ilmu pengetahuan dan rekayasa pengakuan akademik.
Ketika sejumlah jurnal Indonesia melesat ke jajaran elit SCImago dan Scopus, publik memang diajak untuk berbangga.
Namun pertanyaan mendasarnya jauh lebih filosofis dan mendasar: apakah ranking itu benar-benar mencerminkan kedalaman intelektual, pengaruh epistemologis, dan kontribusi nyata terhadap peradaban ilmu?
Ataukah ia hanya sekadar kosmetika statistik yang dibangun melalui permainan sitasi dan reproduksi angka semata?
Baca juga: Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian
Arena Transaksi Administratif
Di sinilah tragedi akademik Indonesia sedang berlangsung. Kita terlalu sibuk mengejar indeks, tetapi lupa membangun tradisi ilmu dan moral akademik.
Kita memuja ranking, tetapi melupakan relevansi. Kita memoles metrik, tetapi mengabaikan substansi pemikiran dan etika.
Fenomena yang disebut citation rings atau lingkaran sitasi sejatinya bukan sekadar persoalan teknis jurnal. Ia adalah gejala dari krisis moral dan krisis epistemologi akademik.
Ketika jurnal-jurnal saling mengutip secara sistematis demi menaikkan skor dampak, maka ilmu pengetahuan telah bergeser dari ruang pencarian kebenaran menjadi arena transaksi administratif. Akademik tidak lagi dipandu oleh integritas intelektual, melainkan oleh hasrat memperoleh legitimasi birokratik.
Ironisnya, semua ini lahir dari kebijakan negara atau bahkan kampus sendiri. Regulasi yang menjadikan publikasi Scopus sebagai ukuran utama kenaikan jabatan dosen dan guru besar telah melahirkan budaya akademik yang mekanistik, bahkan artifisial.
Baca juga: Tiga Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Aparat saat Demo Pergub JKA, KKJ Aceh Desak Kapolda Bertindak
Pabrik Publikasi dan Klaim Sepihak
Kampus berubah menjadi “pabrik publikasi”, bukan lagi sebagai pusat pembentukan peradaban berpikir sehat. Dosen dipaksa mengejar jumlah artikel, bukan kedalaman gagasan dan outcome.
Produktivitas diukur melalui angka, bukan melalui daya ubah pemikiran terhadap masyarakat. Akibatnya, lahirlah generasi akademik yang sibuk menulis untuk algoritma, tetapi tidak hadir dalam percakapan besar kemanusiaan.
Bahkan ada akademisi yang secara brutal melakukan rekayasa sitasi pada jurnalnya untuk tujuan klaim sepihak bahwa kampusnya adalah yang terbaik dalam sebuah negara besar, mengalahkan UI dan UGM.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Muhammad-Jamil-14.jpg)