Kamis, 14 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian

Perang Amerika-Iran telah membuka pintu, dunia sedang memasuki bayang resesi global. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Kolase foto Yunidar ZA dan Zulkipli R. Angkop. Penulis adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Anggota Majelis Pemuda Indonesia  DPD KNPI Kabupaten Nagan Raya-Aceh. 

Oleh: Yunidar ZA dan Zulkipli R. Angkop 

Antrean panjang untuk mendapatkan makan gratis menjadi pemandangan umum di Amerika Serikat (AS) saat The Great Depression (1929) terjadi, dalam satu dekade Amerika memasuki periode tergelap dalam sejarah. 

Angka kelahiran menurun, angka bunuh diri meningkat, pengangguran mencapai level tertinggi, kekurangan pangan dan kemiskinan, masyarakat hidup dalam ketakutan dan keputusasaan, itulah dampak sosial yang dirasakan masyarakat Amerika saat itu. 

Peristiwa itu murni terjadi sebagai sebagai sebuah dinamika ekonomi, ekspektasi yang tinggi terhadap pasar saham justru dimanfaatkan oleh para spekulan, akibatnya saham rontok seketika. 

Jatuhnya harga saham di Wall Street yang memicu merosotnya perekonomin Amerika Serikat, dunia usaha mengalami kebangkrutan akibat harga-harga ikut jatuh (deflasi).

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 18, Berhaji dengan Tenang dalam Perdamaian

Imbasnya hingga ke Eropa bahkan banyak negara di dunia yang ekonominya terhubung dengan perekonomian AS. 

Dalam sejarah dunia modern pengalaman pahit Amerika yang dilanda depresi besar bisa saja berulang. 

Perang Amerika-Iran telah membuka pintu, dunia sedang memasuki bayang resesi global. 

Ketika perang Amerika-Iran belum menunjukan tanda-tanda berakhir, maka kita akan benar-benar menyaksikan data penggangguran dalam digit panjang, investasi akan “mati pucuk” dan anggaran pemerintah kehilangan penopang untuk menahan beban akibat asumsi makro ekonomi kian berubah. 

Dampak Perang

Dalam konteks globalisasi saat ini, tidak satupun bisa menghindar dari dampak perang AS - Iran ini. Mulai kebutuhan rumah tangga, dunia usaha, hingga pemerintah akan terdampak.

Tiga pilar ekonomi makro ini yang menentukan kesehatan ekonomi suatu negara dalam menjadi “taruhan”. 

Ketiganya tidak mungkin baik-baik saja, di saat negara menganut rezim perekonomian terbuka (open economy), mengandalkan kekuatan dalam negeri bukan cara untuk bertahan, karena awalnya sudah menggantungkan sebagain kebutuhan domestik dari hasil kerjasama dengan banyak negara mitra dagang.

Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian

Mungkin melakukan penghematan secara masif dapat membuat nafas sedikit lebih panjang. 
Variabel pertama yang menentukan gerak ekonomi makro adalah anggaran pemerintah.

Krisis energi membuat banyak negara harus membaca-baca ulang anggarannya.

Ketika asumsi makro ekonomi berubah maka anggaran yang telah direncanakan harus dilakukan penyesuaian ulang, sejumlah program prioritas dikoreksi, bahkan ada yang dibatalkan, lalu ujungnya pelayanan publik terganggu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved