PA Pecah di Pilpres

Bahwa elite Partai Aceh pecah kongsi di Pilpres sudah jelas dinyatakan ke publik secara terbuka

PA Pecah di Pilpres

MENGHADAPI Pilpres yang akan berlangsung pada 9 Juli, petinggi Partai Aceh (PA) ternyata tak semuanya kompak mendukung satu kandidat Capres-Cawapres. Tuha Peut PA, Zaini Abdullah dan Zakaria Saman, nyata-nyata mendukung pasangan Jokowi-JK. Sementara Ketua Umum DPA PA Muzakir Manaf menjagokan pasangan Prabowo-Hatta. Mengapa mereka pecah di Pilpres? Serambi menelusuri perpecahan itu dalam laporan  eksklusif edisi ini.

Bahwa elite Partai Aceh pecah kongsi di Pilpres  sudah jelas dinyatakan ke publik secara terbuka. Dari Swedia, pekan lalu, Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah yang juga anggota Tuha peut PA sengaja menelepon Serambi menjelaskan sikap politiknya. Pernyataannya yang mendukung pasangan Jokowi-JK di Pilpres disampaikan pas bertepatan dengan kedatangan Jusuf Kalla ke kampung halaman Zaini Abdullah di Pidie, untuk deklarasi pasangan ini.

Pada saat yang sama, Ketua Umum DPA PA Muzakir Manaf juga kembali menegaskan sikap politiknya yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Posisi Muzakir Manaf ini memang sudah diketahui publik sejak jauh-jauh hari. Pria yang akrab disapa Mualem ini memegang posisi kunci di koalisi tim pemenangan pasangan Prabowo-Hatta: Ketua Umum Tim Pemenangan. Publik sudah tahu bahwa mereka berbeda sikap. Yang masih menimbulkan panasaran, apa argumen yang melatar-belakangi sehingga orang nomor satu dan orang nomor dua di Aceh itu punya pilihan yang berbeda?

Kata Mualem, dukungan pihaknya kepada Gerindra merupakan komitmen yang telah dibangun beberapa tahun lalu. Saat Pilkada Aceh yang membawa pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf ke kursi gubernur-wakil gubernur Aceh tahun 2012, kata Mualem, Gerindra mendukung PA.  Itu sebab, pihaknya kini juga harus mendukung calon presiden dari Partai  Gerindra itu.

Nah, kalau benar demikian, mengapa Zaini Abdullah tidak membalas ‘jasa’ Gerindra yang telah memberi andil dirinya terpilih menjadi Gubernur Aceh?

Kata Zaini, Jusuf Kalla adalah arsitek dan tokoh yang paling berjasa dalam proses perdamaian Aceh. Selain itu, kata Zaini, hanya Jusuf Kalla-lah yang dapat diharap dan dipercaya untuk mempercepat terealisasinya butir-butir MoU Helsinki maupun turunan UUPA yang belum tuntas hingga kini. 

Di sisi lain, Muzakir Manaf juga tidak sendiri. Dia membawahi gerbong politik yang panjang. Pada Sabtu malam, 7 Juni 2014, Muzakir menggelar rapat konsolidasi dengan ketua PA dan KPA se-Aceh. Hasil rapat dinyatakan bahwa PA dan KPA se-Aceh menyatakan sikap tunduk dan setia terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf dan siap memenangkan capres pilihan mereka.

Pada acara Deklarasi GEMA Prabowo-Hatta Kota Banda Aceh dan Deklarasi GEMA Barisan Inong Aceh untuk Prabowo-Hatta, kemarin, Mualem bahkan manargetkan 90 persen suara untuk Prabowo-Hatta.

Sedangkan Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar tak mau menjawab saat ditanyakan siapa tokoh yang akan dia dukung sebagai capres. “Bek ka tanyong soai peulitek (jangan kau tanya soal politik),” kata Ketua Tuha Peut Partai Aceh itu usai membuka acara Muzakarah III Tauhid Tasawuf Asia Tenggara, di halaman Kantor Bupati Abdya di Blangpidie, Jumat sore, 6 Juni 2014. Sementara di tempat berbeda, anggota Tuha Peut PA Zakaria Saman, dengan tegas menyatakan dukungannya pada Jokowi-JK.

Namun, banyaknya elite partai yang mendukung pilihannya masing-masing belum bisa menjadi penentu kemenangan. “Mesin partai takkan mudah digerakkan untuk memenangkan calon yang didukung partai. Ini berbeda dengan pemilu legislatif. Saya kira, yang paling menentukan di Pilpres  adalah ketokohan personal,” kata pengamat politik, M Jafar SH MHum.

Sementara dalam sudut pandang pakar hukum dari Unsyiah, Mawardi Ismail SH MHum, persoalan kepada siapa rakyat pantas mempercayakan pemimpinnya itu tergantung masing masing selera. Menurutnya, kedua pasangan capres dan cawapres mempunyai karakteristik masing-masing. Prabowo dengan latar belakang militer dan kemungkinan juga akan menerapkan sistem komando dalam memimpin, sebaliknya ada Jokowi yang berasal dari kalangan sipil dan telah menunjukkan kepemimpinannya yang merakyat di Kota Solo dan DKI Jakarta.

“Saya rasa masyarakat Aceh tidak suka lagi sosok yang keras-keras, sudah trauma. Sedangkan JK yang berpasangan dengan Jokowi merupakan bagian dari penyelesaian masalah. Kalau dibilang itu kan masa lalu dan sudah lewat, memang begitu. Tapi dari masa lalu lah kita bisa menilai track record seseorang, sedangkan masa depan kita memang belum tahu,” terangnya.

Namun, Tarmidinsyah Abubakar punya pendapat yang berbeda. Sekretaris DPW PAN Aceh ini yakin pasangan Prabowo-Hatta akan memenangkan pertarungan di Aceh. Apalagi semua partai yang berkoalisi mencalonkan pasangan ini sangat solid . “Kalau ada satu-dua orang yang  punya sikap berseberangan, ya wajar saja,” kata pria ini. “Kita butuh pemimpin yang tegas, yang bisa menyelesaikan beragam masalah. Jadi, bukan soal hidupnya sederhana atau tidak. Kalau mau cari orang yang hidup sederhana, banyak sekali di kampung-kampung. Jadi, parameter kita adalah memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan banyak masalah,” timpal pria ini lagi.

Hatta Rajasa yang juga Ketua Umum PAN, kata Tarmidinsyah Abubakar, selama ini juga sering berkomunikasi dengannya untuk menanyakan bebagai persoalan Aceh. “Saat resmi maju sebagai Capres Prabowo, Pak Hatta juga menelepon saya. Beliau tanya bagaimana peta politik Aceh. Ya, saya sampaikan informasi-informasi penting ke beliau,” kata dia.

Hasil penelusuran Serambi ke berbagai daerah, sejumlah elite PA yang kini menjadi kepala daerah, solid mendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Seorang kepala daerah bahkan mengaku dirinya sedang mengajukan permohonan izin cuti kepada Mendagri untuk berkampanye mendukung Prabowo-Hatta. Namun, hingga berita ini diturunkan, Serambi belum mendapatkan informasi dari Kemendagri siapa saja kepala daerah di Aceh yang akan berkampanye kepada calon yang didukungnya.

Jika pada tataran elite PA saja sudah timbul perpecahan, di tingkat bawah ternyata juga masih banyak menimbulkan tanda tanya. “Oma, mumang cit nyoe, soe yang harus tapileh,” kata seorang pria kader PA di Aceh Utara, Sabtu lalu.

Rakyat Aceh memang kini dibingungkan antara dua pilihan: Jokowi atau Prabowo? Namun, siapa pun pilihannya, haruslah tokoh yang punya kans besar untuk memecahkan banyak persoalan yang masih dihadapi masyarakat Aceh hari ini.(*)

Tags
Pilpres
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help