Mengintip Proyek Masjid Raya
Masjid Raya Baiturrahman (MRB) dibangun untuk memberikan kenyamanan kepada jamaah
* Marmer Buatan Italia, Datang dari Cina
BANDA ACEH - Masjid Raya Baiturrahman (MRB) dibangun untuk memberikan kenyamanan kepada jamaah yang ingin beribadah sekaligus untuk memperindah Kota Banda Aceh, sebagai Ibu kota Provinsi Aceh dan daerah tujuan wisata islami. Jika mengacu kepada masterplan yang pernah dibuat Pemerintah Aceh, dalam jangka panjang pembangunan dan perluasan masjid raya ini membutuhkan anggaran hingga Rp 2 triliun.
Untuk pembangunan tahun ini Pemerintah Aceh mengeluarkan dana lumayan besar, mencapai Rp 458 miliar. Kontraktor pembangunannya adalah PT Waskita Karya. Perusahaan ini sudah mulai mengerjakan proyek tersebut sejak Juni 2015.
Ada beragam bagian yang dikerjakan, mulai dari pemasangan payung buatan Belanda, kerangka payung yang dirakit di Bekasi, hingga mesin hidrolik yang dipesan dari Jerman. Selain itu, marmer untuk lantai dan koridor di pesan khusus dari Italia.
Gubernur Aceh nonaktif, dr Zaini Abdullah bahkan sudah mengunjungi Italia bulan lalu. Zaini beserta rombongan mengunjungi pabrik dan lokasi tempat dibuatnya marmer merek terkenal, Statuario. Marmer ini merupakan jenis marmer paling populer yang berasal dari Italia.
Kunjungan Doto Zaini tersebut untuk memastikan bahwa marmer yang akan dipasang untuk Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh benar-benar berkualitas.
Namun, menurut informasi yang diperoleh Serambi, sebanyak sepuluh kontainer marmer merek Statuario untuk MRB ternyata didatangkan dari Cina/Tiongkok. “Dibongkar di Belawan, dibawa dari Cina ke sini,” kata sumber Serambi yang punya akses ke dokumen ekspor-impor di pelabuhan, pekan lalu.
Project Manager PT Waskita Karya, Ir Munir Muslih mengakui bahwa marmer tersebut dibawa dari Cina ke Aceh, tapi batu alam tersebut asal darinya dari Italia. “Jadi begini. Marmer itu dari Italia, terus kemudian dibawa ke Cina untuk dipotong sesuai ketebalan, baru kemudian dibawa ke sini (Aceh -red),” kata Munir kepada Serambi saat dihubungi melalui saluran telepon seluler, Rabu (26/10).
Saat ditanya, apakah batu marmer itu dibawa ke Cina lebih dulu hanya untuk memotongnya saja, Munir mengatakan, “Italia itu lagi penuh, lalu waktunya juga cukup ketat, sehingga dilakukan di dua tempat untuk memotong marmer, yakni di Italia dan Cina.”
Dijelaskan, sepuluh kontainer marmer yang sudah dipasang di MRB itu tadinya juga dipotong di Cina. “Kemarin yang sudah datang sepuluh kontainer dari Cina, dalam waktu dekat 5 kontainer lagi juga dari Cina, sedangkan sisanya 17 kontainer lagi dari Italia,” kata Munir.
Namun, Munir tidak menjelaskan mengapa 17 kontainer yang akan datang dalam beberapa pekan ke depan langsung dari Italia, tidak singgah di Cina lebih dulu untuk dipotong seperti halnya 15 kontainer yang lain.
Sebagaimana diketahui, PT Waskita Karya disebut-sebut mensubkontrakkan paket pekerjaan pengadaan dan pemasangan marmer merek terkenal itu kepada kontraktor lokal, yakni PT Global Mar Intermindo. Meski batu alam tersebut harus disinggahkan di Cina lebih dulu dengan alasan mengejar waktu, tapi hingga kini realisasi pekerjaan pemasangan marmer tersebut masih sekitar 15 persen. (sak)