Senin, 11 Mei 2026

Opini

Ironi Aceh

ACEH kembali dikejutkan dengan sebuah peristiwa tragis yaitu pembunuhan terhadap dua anggota Tentara Nasional

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Munawar A. Djalil

ACEH kembali dikejutkan dengan sebuah peristiwa tragis yaitu pembunuhan terhadap dua anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kawasan Nisam, Aceh Utara, oleh orang yang tidak dikenal (Serambi, 25/3/2015). Peristiwa ini sebenarnya bukanlah hal baru terjadi di Aceh, sejak masa konflik sampai dengan pasca damai, Aceh selalu bersimbah darah. Ironi memang disaat seluruh masyarakat Aceh mengingingkan damai yang abadi di tanoh endatu, namun kejadian miris itu terjadi dan menimpa aparat TNI. Padahal TNI sebagai instrument terpenting penjaga perdamaian Aceh, malah menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan.

Tidak ada orang arif di dunia, filosof atau reformer yang tidak mencela pembunuhan, peperangan dan segala akibatnya yang mengerikan sebagai hasil dari tindakan kekejaman, keganasan dan kebuasan. Tidak ada manusia yang memuji peristiwa kejam itu terjadi selain mereka yang hendak menarik keuntungan dari padanya. Kita bisa melihat bagaimana kekejaman pembunuhan yang terjadi di Afghanistan, Palestina, Irak, Suriah dan lain-lain yang telah meluluhlantakan seluruh aspek kehidupan. Begitu pula beberapa waktu lalu yang terjadi di Aceh dengan penerapan operasi keamanan dari DOM hingga Darurat Militer. Ironi memang, kedamaian yang telah lama didambakan pupus sudah dan hanya sebuah impian kosong.

Kita sebagai masyarakat Aceh masih memiliki dogma agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan keharmonian. Damai Aceh bernilai mahal, begitu banyak korban nyawa akibat konflik dengan kepedihan yang tak terperi. Karena meskipun terbilang abad terabaikan, kita bisa menjadi saksi dengan membaca, melihat dan mendengar ketika itu hari-hari kian genting petaka perseteruan membusuk dalam musim. Ironinya sebagai manusia kita mempertahankan kebencian sedang Allah Swt saja rela memaafkan, namun keyakinan itu telah dikekalkan sehingga kasih sayang mengering dalam keangkuhan.

Telah melenceng
Manusia memerlukan perasaan kasih dan cinta, tapi itu telah melenceng jauh dari porosnya. Hasrat kebajikan kita telah menjelma menjadi suatu impian kosong dan bayangan kesia-siaan. Memang kita telah menjadi tua dan terlupa, kecuali bila ada cinta yang bijak, yang selalu memperbaharui dirinya, seperti musim-musim yang silam selalu berganti gaun dan rupa, hari ke hari menjadi cermin diri. Semestinya kita tidak hipokrit karena cinta itu selalu bisa mencoba memperbarui cinta seperti cemara dan bunga-bunga yang memperbarui ranting dan daun setiap musim semi tiba. Namun di Aceh kini tiada yang lebih indah dan dari tilawah kesabaran dan mazmur kedamaian, namun kadang-kadang kita lalai jua dan terpedaya.

Filsafat itu tak sungguh-sungguh dapat menjelaskan dan memuaskan, apalagi membebaskan. Dengarkanlah Mohandes Karamchand Gandhi (1869-1984), yang negerinya terbelah-belah oleh agama dan masyarakatnya yang hipokrit terkoyak pertarungan antaretnik dan ia sendiri tersungkur di tengahnya setelah bertahun-tahun lamanya memperjuangkan perlawanan damai Abimsa, Swadeshi, Satyagraha. Ia akhirnya juga tak menemukan jawaban, setelah merasa sudah menemukannya, Gandhi kembali meratap bahwa semua agama besar di dunia memiliki ajaran moral yang fundamental, tibalah Gandhi pada suatu kesimpulan sejak lama bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan dan hanya pelakunya mengandung error.

Kita tak habis pikir, semua agama menyerukan kesabaran dan kedamaian, menghilangkan benci dan dendam. Tetapi fakta berabad-abad menyatakan lain. Maka, kita paham apabila orang risau dan mencari jalan tengah. Kita harus menghormati agama karena selalu mengajarkan cinta, melarang permusuhan, menjunjung kemanusiaan dan mengindahkan akhlak. Lebih-lebih agama Islam adalah sesuatu yang menghormati segalanya.

Agama bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan, malah hidup sendiri harus dipandang sebagai religi. Kehidupan yang bercerai dari agama bukanlah kehidupan manusia, melainkan satwa. Agama dan akal adalah dua hal yang membedakan manusia dengan satwa. Namun justru karena kita manusia, maka kita lebih sering menghewan ketimbang memanusia. Pilihan kita seakan-akan terbatas; menjadi manusia seutuhnya atau menyeleweng sedikit menjadi satwa. Memang ada pandangan yang lebih optimis, namun seakan akan juga tanpa harapan. Sekurang-kurangnya ketimbang secara mental menjadi hewan, maka kita mungkin bisa menyepakati sebuah kalimat bijak “Manusia dilahirkan bebas, dan di mana-mana ia terbelenggu”.

Dalam hal pertama kita sungguh-sungguh manusia. Dalam hal terakhir kita masih bisa memilih bentuk dan jenisnya. Bisa cinta, bisa agama atau keduanya, kecuali kita bukan lagi manusia. Kehipokritan manusia membuat manusia buta, agama menjadi pegangan rapuh, cinta berubah dan menjelma menjadi kebencian dan dendam.

Kita terlalu hipokrit dan hanya bisa membangun impian kosong dan harapan semu, dalam kemasan ideologi kebenaran yang diberhalakan, lalu kita mencari pembayaran dengan nama Allah menyepelekan hak hidup serta hakikat kehidupan. Ironi memang, atas nama dan demi atas nama segala nama kebenaran, demi keadilan dan cita-cita tinggi yang tak tergoyahkan, kita tawarkan syurga dan masa depan kepada dunia sambil bersiap menggali kubur-kubur peradaban.

Keindahan dan peringatan-peringatan yang disampaikan oleh agama menjadi gaung tanpa nama. Surga dilangit yang dijanjikan menjadi dongeng yang tak pernah dituturkan. Surga seperti apakah yang sedang kita rancang dengan tumpukan mayat dan nisan tanpa nama? Masa depan seperti apakah yang sedang kita ukir dengan tinta darah dan kubangan-kubangan dendam? Sorga dan masa depan seperti apakah yang kini sedang sengit kita perdebatkan dengan mengeraskan gumpalan kebencian sambil menebarkan rasa takut dan kecemasan?

Tidak adil
Aceh merupakan negeri yang istimewa walaupun tak banyak dari kita yang sungguh-sungguh mengindahkan keistimewaan ini. Apalagi di masa silam, ketika sendi-sendi kebangsaan membusuk akibat korupsi, pelecehan hukum dan pengagungan stabilitas nasional dengan kekuatan bersenjata. Pembagian hasil sumber daya alam amat tidak adil lantaran tetesan ke bawah semakin kecil.

Konsekwensinya banyak orang merasa diskriminasi secara terang-terangan dan kian tak percaya kepada lembaga peradilan. Hasilnya sekian ribu orang kehilangan nyawa tanpa sempat diperjelas kesalahannya. Sekian ribu janda tanpa perhatian yang optimal, sekian ribu anak-anak mendadak menjadi yatim tanpa biasiswa sekolah dan sekian ribu orang terluka tanpa biaya pengobatan. Sementara sekian ratus ribu lainnya mendapatkan cedera di lubuk hati. Pada saat itu sebutan istimewa menjadi tanpa makna.

Malah pertikaian, dendam, kebencian menjadi bahasa keseharian masyarakat Aceh. Kehidupan rakyat terkapar oleh pelor dan timah panas. Peradaban telah terlempar ke jurang dalam dan kembali kegelindapan masa silam, jauh dan purba, tempat segala urusan mengucurkan darah, dan nyawa manusia digantungkan di dahan-dahan pohon, berserakan di jalan-jalan. Kita pun terperangah, agama dan cinta hanya sebuah surat dan kabar, yang samar-samar dan seolah-olah saja tak pernah didengar, namun kini ketika angin kedamaian di Aceh mulai berhembus sepoi, jika agama tak bisa dan bukan lagi sebuah jawaban, lantas bagaimana bisa kedamaian bisa dilanggengkan? Ironi Aceh. Wallahu’alam.

* Dr. Munawar A. Djalil, M.A., Kabid Hukum Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, tinggal di Gampong Ateuk Jawo, Banda Aceh. Email: aburiszatih@yahoo.co.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved