KUPI BEUNGOH
Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan
Pendidikan memang harus relevan dengan dunia kerja, tetapi tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai sarana pembebasan manusia.
Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Gagasan link and match dalam pendidikan Indonesia sejatinya lahir dari niat baik. Dunia pendidikan diharapkan mampu menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan pasar kerja.
Sekolah dan perguruan tinggi tidak lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu, melainkan juga ruang pembentukan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun, di tengah berbagai program yang terus digaungkan pemerintah, muncul sebuah paradoks besar: pendidikan semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi pada saat yang sama justru kehilangan orientasi dasarnya sebagai sarana pembentukan manusia yang utuh.
Istilah link and match bukanlah konsep baru. Sejak era 1990-an, konsep ini telah diperkenalkan sebagai solusi atas tingginya angka pengangguran lulusan sekolah dan perguruan tinggi.
Pemerintah menilai adanya jurang antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, kurikulum harus disesuaikan agar lulusan siap pakai dan tidak menjadi beban pasar tenaga kerja.
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ini kembali diperkuat melalui pendidikan vokasi, program magang industri, hingga kebijakan Kampus Merdeka yang mendorong mahasiswa lebih dekat dengan dunia profesional.
Secara teori, konsep tersebut memang terdengar ideal. Dunia industri membutuhkan tenaga kerja terampil, sementara pendidikan dituntut menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif.
Namun persoalannya menjadi berbeda ketika pendidikan terlalu tunduk pada kepentingan pasar. Sekolah dan kampus perlahan berubah menjadi pabrik tenaga kerja, bukan lagi ruang untuk membangun daya kritis, kreativitas, dan kesadaran sosial peserta didik.
Baca juga: Sekolah Rakyat, Pendidikan Siapa?
Paradoks inilah yang kini terasa nyata di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah terus mendorong sinkronisasi pendidikan dengan kebutuhan industri. Di sisi lain, industri sendiri bergerak sangat cepat dan tidak selalu mampu diprediksi.
Akibatnya, banyak lulusan yang tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan meski kurikulumnya sudah dirancang sesuai kebutuhan pasar. Ketika sekolah selesai menyesuaikan diri dengan satu tren industri, dunia kerja justru telah berubah lagi dengan kebutuhan baru yang lebih kompleks.
Fenomena ini terlihat jelas dalam perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Banyak jenis pekerjaan yang dahulu dianggap menjanjikan kini mulai tergeser oleh otomatisasi dan teknologi berbasis AI. Sementara itu, sistem pendidikan sering kali lambat beradaptasi.
Kurikulum berubah, tetapi fasilitas sekolah tertinggal. Guru dituntut menguasai teknologi, namun pelatihan dan dukungan masih minim. Akhirnya, slogan link and match sering berhenti pada level administratif tanpa benar-benar menyentuh kualitas pembelajaran di ruang kelas.
Lebih jauh lagi, orientasi pendidikan yang terlalu berpusat pada industri berisiko mengerdilkan makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan sekadar soal mencetak pekerja.
Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki empati sosial, serta sanggup menghadapi perubahan hidup dengan bijak. Ketika sekolah hanya mengejar angka serapan kerja, maka aspek kemanusiaan dalam pendidikan perlahan mulai terpinggirkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_17042024.jpg)