Senin, 11 Mei 2026

Kupi Beungoh

Energi Global Kacau, Indonesia Jangan Terjebak Ilusi “Aman”

Di atas kertas, gangguan tertentu terlihat mulai longgar. Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, disebut mulai terbuka secara parsial.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Guru Besar Bidang Geologi Kelautan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si. 

Oleh: Prof Muhammad Irham

TIGA laporan The Economist dalam sepekan terakhir mengirimkan satu pesan yang senada dan cukup menggetarkan: sistem energi global sedang tidak stabil, bahkan ketika situasi di permukaan tampak "membaik".

Di atas kertas, gangguan tertentu terlihat mulai longgar. Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, disebut mulai terbuka secara parsial.

Namun, pasar energi tetap “berantakan”. Gangguan logistik yang berkepanjangan, kapal-kapal yang hilang dari radar, serta krisis kepercayaan antar-aktor geopolitik membuat pasokan tetap ketat selama berbulan-bulan ke depan.

Dengan kata lain, krisis ini bukan lagi sekadar pertarungan teknis mengenai apakah jalur pelayaran terbuka atau tertutup, melainkan sebuah refleksi atas rapuhnya sistem distribusi energi global yang selama ini kita anggap sebagai given atau kepastian.

Lebih mengkhawatirkan lagi, konflik yang membara di kawasan Teluk tidak hanya memengaruhi volume pasokan, tetapi juga menggerus fondasi ekonomi negara-negara produsen energi itu sendiri.

Kekayaan negara-negara Teluk, yang selama ini menjadi penyangga stabilitas global, dengan aset yang diproyeksikan mencapai triliunan dollar, mulai terkikis untuk membiayai konflik dan mempertahankan stabilitas ekonomi domestik mereka.

Pergeseran ini menandai perubahan paradigma yang krusial dimana produsen energi tidak lagi bertindak sebagai “penyelamat pasar” ketika dunia membutuhkan stabilitas.

Ketika produsen terguncang dan jalur distribusi tidak konsisten, pasar energi kehilangan dua pilar utamanya sekaligus, yaitu supply capacity (kapasitas pasokan) dan supply reliability (keandalan pasokan).

Bagi konsumen global, ini berarti risiko menjadi lebih mahal dan ketidakpastian menjadi lebih lama.

Krisis ini harus dibaca sebagai fenomena struktural, bukan sekadar gangguan temporer yang akan berlalu dalam hitungan minggu.

Data yang dikutip dari laporan IMF menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen energi dunia, telah menciptakan disrupsi terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Bahkan ketika jalur tersebut secara teknis dinyatakan terbuka, aktivitas pelayaran belum pulih sepenuhnya. Ketidakpastian masih sangat tinggi karena biaya logistik yang melonjak, meningkatnya premi risiko asuransi, serta persoalan kepercayaan dalam perencanaan pengiriman.

Dalam ekonomi energi, kondisi seperti ini disebut sebagai persistent supply shock: guncangan yang efeknya bertahan lama karena menyangkut lebih dari sekadar volume produksi, ia merembet ke cara energi bergerak, dijadwalkan, dan dipertukarkan di pasar internasional.

Dalam situasi yang begitu volatil, Indonesia tidak boleh bersembunyi di balik narasi “relatif aman”.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved