Senin, 11 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya

Masalah utama Aceh bukan ketiadaan ekonomi, tetapi ketidakmampuan mengubah ekonomi menjadi pekerjaan yang stabil dan produktif.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Jika sebuah wilayah ingin memahami masa depannya, ia tidak boleh hanya menatap satu angka pengangguran dan merasa tenang. 

Aceh hari ini menunjukkan gejala yang jauh lebih dalam dari sekadar Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,88 persen. 

Di balik angka yang tampak “moderat” itu, tersembunyi struktur ekonomi yang rapuh: dominasi pekerjaan informal, menyusutnya jumlah pekerja, dan lambannya transformasi dari ekonomi berbasis alam ke ekonomi produktif.

TPT atau Tingkat Pengangguran Terbuka adalah ukuran yang sangat terbatas. Ia hanya menghitung mereka yang tidak bekerja tetapi masih aktif mencari kerja. 

Ini berarti ia tidak pernah menangkap seluruh realitas ketidakstabilan ekonomi, apalagi mereka yang bekerja di sektor informal dengan pendapatan tidak menentu. 

Dengan kata lain, TPT bisa tampak tenang sementara badai sesungguhnya sedang terjadi di bawah permukaan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh terakhir, jumlah pengangguran meningkat sekitar 7.430 orang, sementara jumlah penduduk bekerja justru turun lebih dari 55 ribu orang. 

Ini bukan sekadar fluktuasi statistik. Ini adalah tanda pasar kerja yang kehilangan tenaga dorongnya.

Lebih dari itu, 64,15 persen tenaga kerja Aceh berada di sektor informal. 

Ini berarti mayoritas penduduk bekerja tanpa kontrak, tanpa perlindungan, dan tanpa kepastian masa depan ekonomi. 

Baca juga: Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar?

Sebuah ekonomi di mana pekerjaan tidak formal bukan lagi pengecualian, tetapi aturan utama.

Di sektor riil, Aceh sebenarnya tidak kekurangan aktivitas ekonomi - yang kurang adalah transformasi. Di pesisir, kehidupan ekonomi berputar di sekitar TPI Lampulo, TPI Idi Rayeuk, dan TPI Tapaktuan. 

Aktivitas ini menghidupkan ribuan nelayan, pedagang kecil, dan rantai distribusi lokal, tetapi masih didominasi perdagangan harian, bukan industri perikanan modern yang mampu menghasilkan nilai tambah besar melalui pengolahan, penyimpanan dingin, dan ekspor terintegrasi.

Di daratan, kelapa sawit di Nagan Raya, Aceh Timur, dan Aceh Utara menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved