Citizen Reporter
Belajar dari Kampanye Lingkungan ala Mahasiswa Oberlin
Pengalaman ini membuat saya bersyukur terlahir dan besar dilingkungan yang mengajarkan tentang buruknya kesia-siaan (mubazir)
OLEH RIZANA ROSEMARY, Staf Pengajari di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah, melaporkan dari Oberlin-Ohio, Amerika
BERADA jauh dan terpisah lama dari keluarga dan kampung halaman merupakan pengalaman berat sekaligus berharga. Perasaan tersebut yang dapat digambarkan ketika saya terpilih untuk menjalani program Kunjungan Akademisi (Visiting Scholars) selama satu semester atau 4 bulan di kota Oberlin-Ohio, Amerika.
Bersama dua akademisi lainnya (dari India dan Cina), saya hadir mewakili Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Kami berkesempatan belajar langsung berbagai metode pembelajaran yang diterapkan di kampus Oberlin College of Arts and Science-Conservatory of Music, kampus untuk mahasiswa strata S1.
Tujuan Visiting Scholars yang disponsori oleh Oberlin Shansi adalah sebagai sarana bagi para akademisi untuk saling berkenalan, berinteraksi, berbagi, dan bertukar pendapat tentang ilmu dan ketrampilan, pengalaman, dan kebudayaan masing-masing negara asal dengan tradisi yang berlaku di Amerika.
Kami juga berkesempatan menjelajahi dan mengeksplorasi beberapa kota dan negara bagian lainnya di negeri Pam Sam ini. Interaksi sosial dan budaya dengan individu dan kelompok beragam latar belakang merupakan pengalaman non-akademis yang sangat berkesan. Berbagai pengalaman yang didapatkan melalui program ini (Februari hingga Mei 2015) diharapkan dapat mendukung metode pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh masing-masing kampus asal akademisi, termasuk kampus Unsyiah tempat saya mengajar.
Selain aktif dalam berbagai kegiatan yang tersedia diluar kampus, saya mengambil tiga mata kuliah yang ditawarkan dalam semester ‘Spring 2015’. Yakni dua mata kuliah yang terkait penulisan ilmiah (Academic Writing), dan mata kuliah kampanye isu lingkungan (Environmental Campaign) karena dekat dengan bidang ilmu yang saya geluti.
Mata kuliah yang bersifat aplikatif ini menuntut mahasiswa menghasilkan sebuah kegiatan perencanaan kampanye yang strategis terkait isu lingkungan. Dari berbagai pilihan topik tentang kesadaran lingkungan yang didiskusikan dalam kelas, seperti daur ulang sampah (recycling), mencabut alat elektronik yang tidak terpakai, dan mengurangi membuang makanan; maka topik ketiga terpilih menjadi topik tugas kelompok mahasiswa untuk semester ini.
Saya sendiri awalnya memilih recycling dengan alasan lebih menarik dan relevan dengan isu lingkungan. Sedangkan 5 dari 7 mahasiswa yang memilih isu tersebut memiliki alasan sederhana. Mereka kecewa dengan perilaku sebahagian besar mahasiswa yang terbiasa mengambil makanan dalam jumlah/porsi besar (banyak) saat makan di kantin kampus.
Tapi kemudian cenderung menyisakan dan membuang sisa makanan tersebut ke tempat pembuangan yang tersedia. Mahasiswa Oberlin memang mendapatkan ‘agenda makan’ (meal plan). Namun dengan sistem banquet atau ‘all you can eat’, mahasiswa bebas memakan apa saja yang tersaji di kantin.
Saya masih tidak yakin dengan topik yang dipilih, karena bila dilihat, kampus ini sudah memiliki sistem pemrosesan sisa/sampah makanan menjadi kompos yang sedemikian canggih. Termasuk pendistribusian hasil kompos ke kawasan pertanian dan peternakan di daerah Ohio yang juga berjalan lancar. Bahkan makanan yang tersisa (belum termakan) terkadang didistribusikan ke gereja (bank food) yang kemudian disalurkan kepada masyarakat miskin dan tunawisma yang membutuhkan. Singkat kata, sebenarnya makanan yang tersisa atau sisa makanan tidaklah akan menjadi sia-sia alias mubazir.
Namun karena putusan sudah diambil, saya dan teman sekelas kemudian terlibat aktif dalam melakukan riset kecil untuk mendefinisikan isu/permasalahan yang dipilih, tujuan dan hasil kampanye yang diharapkan. Termasuk strategi yang akan dilakukan dalam implementasi kampanye. Seperti survey persepsi mahasiswa tentang membuang makanan, eksperimen kecil berupa penyajian porsi makanan yang ideal dan diinginkan mahasiswa, hingga pesan kampanye melalui media untuk mendiseminasikan pesan ‘kurangi/tolak mubazir makanan’ (reduce food waste). Kegiatan praktek ini sepenuhnya dibawah bimbingan dosen pengasuh mata kuliah, Professor Darrick Evensen dan bekerjasama dengan Office Environmental Sustainability (EOS) yang bergerak dalam advokasi isu-isu lingkungan di kampus dan kota Oberlin.
Menariknya lagi, proses pengumpulan data dan eksperimen porsi makanan sepenuhnya didukung penuh oleh CDS (Campus Dining Service) alias katering-nya kampus. Bila dipikir, mereka bisa saja menolak upaya kampanye kami karena dapat mempengaruhi bisnis mereka yang sepenuhnya didukung oleh SPP mahasiswa yang relatif tidak murah.
Implementasi kampanye berjalan lancar, terbukti dengan banyaknya mahasiswa mengisi survey yang didistribusikan saat jam makan siang dan malam di kantin kampus. Hasil survey menunjukkan mayoritas mahasiswa masih memiliki persepsi rendah tentang buruknya membuang makanan (khususnya terhadap kelestarian lingkungan). Hasil survey awal ini beserta data timbangan sampah yang diperoleh dari CDS menjadi masukan bagi proses pembuatan pesan kampanye selanjutnya.
Terciptalah pesan kampanye dalam bentuk poster dan flyer. Salah satu pesan yang dihasilkan, dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Tahukah Anda, bahwa setiap orang/minggu telah membuang makanan seberat 3302 pounds (atau 1498 kilogram) setara dengan berat 3 ekor beruang kutub. Jumlah tersebut seharusnya dapat memberi makan 188 orang yang membutuhkan. Bijaklah dengan porsi makanan Anda”
Setelah eksperimen kecil dijalankan serta pesan tersebar selama beberapa waktu disekitaran kampus dan dikantin, kami kembali melakukan survey paska implementasi kampanye. Survey kedua ini bertujuan melihat perubahan persepsi dan sikap mahasiswa tentang membuang makanan, khususnya setelah mendapatkan terpaan pesan kampanye.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rizana-rosemary2_20150428_180407.jpg)